Rabu , 02 October 2013, 10:28 WIB

Dari Idul Adha Lahir Cakrabirawa

Red: Heri Ruslan
ARNI
Soekarno keluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959
Soekarno keluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh  M Akbar Wijaya

Istana Merdeka 14 Mei 1962. Pagi itu umat Islam memadati lapangan istana untuk melaksanakan Ibadah Shalat Idul Adha. Di sana hadir Presiden Sukarno, para menteri, dan para pejabat tinggi negara. Tak ada suasana ganjil hingga ibadah shalat digelar. Namun tiba-tiba ketika para jamaah tengah melakukan ruku seorang pria berteriak mengumandangkan takbir. Cepat-cepat dia mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Presiden Sukarno.
 
“Dor…!” tembakan pertama meleset sasaran dan malah mengenai Ketua DPR GR, Zainul Arifin.
 
“Dor…!” yang kedua juga meleset.
 
Itulah salah satu peristiwa percobaan pembunuhan yang dialami Sukarno. Berbeda dengan peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya, percobaan pembunuhan kali ini memberi efek kejut luar biasa bagi Sukarno maupun para pengawal di sekitarnya.
 
Betapa tidak? lingkungan istana yang mestinya menjadi tempat paling steril dan aman bagi presiden, ternyata bisa disusupi orang bersenjata. “Orang-orang muslim termasuk Sukarno sedang sujud di lapangan rumput depan Istana Merdeka, khusyuk menjalankan perintah-Nya. Tiba-tiba terdengar tembakan bertubi-tubi. Ini perbuatan satu orang laki-laki dengan maksud jahat,” kenang Sukarno dalam autobiografinya, Sukarno Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams.
 
Mantan Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Sukarno, Ajun Komisaris Besar Polisi Mangil Martowidjojo menceritakan detik-detik peristiwa mencekam itu. Menurut Mangil sehari sebelum peristiwa penembakan terjadi dia mendapat kabar dari Kapten CPM Dahlan yang bertugas sebagai komandan pengawal Istana. Dahlan mengingatkan Mangil berhati-hati karena ada informasi yang menyebut kelompok Darul Islam akan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Sukarno.
 
Informasi Dahlan ditindaklanjuti Mangil. Dia segera memeriksa daftar kegiatan Sukarno selama satu pekan ke depan. Intuisinya sebagai pengawal presiden memperkirakan percobaan pembunuhan bakal terjadi pada Hari Raya Idul Adha. Hal ini karena menurut Mangil pada saat itulah penjagaan terhadap presiden lebih terbuka dan longgar. “Sebab dalam acara tersebut pintu istana akan dibuka, semua orang bisa masuk, asal menunjukan undangan. Bentuk undangannya sendiri sangat sederha sesuai teknologi masa itu, distensil hingga memang gampang sekali dipalsukan,” cerita Mangil dalam  buku H. Mangil Marto Widjojo: Kesaksian Tentang Sukarno 1945-1967.
 
Memasuki hari “H” Mangil bersiap. Dia menyamar dengan memakai sarung, baju koko, dan kopiah. Saat shalat hendak dilangsungkan, Mangil memilih mengawasi keadaaan. Dia berdiri enam langkah di depan Sukarno didampingi wakilnya Inspektur Polisi Soedio. Keduanya menghadap ke jamaah. Peristiwa penembakan itu berhasil digagalkan lantaran Mangil keburu menangkap gerakan “ganjil” si penembak.
 
“Terdengar beberapa kali bunyi tembakan. Bapak tidak kena, karena tubuhnya berada di bawah saya. Bersama Soedarso, beliau segera saya seret agar secepatnya bisa mejauhi lokasi. Soedio berjalan mundur sambil memegang pistol, menghalau mereka yang mungkin coba mengikuti,” kata Mangil.
 
Dari hasil penyelidikan lelaki nekad yang mencoba membunuh Sukarno mengaku gagal mengenai target lantaran melihat ada dua bayangan Sukarno. Atas perbuatannya lelaki itu kemudian dijatuhi hukuman mati. Namun ketika surat eksekusi diajukan kepada Sukarno, Sukarno menolak menandatanganinya.
 
Persitiwa tersebut segera menjadi perhatian serius Menteri Pertahanan dan Keamanan, Jendral Abdul Haris Nasution. Nasution mengusulkan agar Sukarno segera membentuk resimen kawal khusus yang bertugas menjaga keselamatan dan keamanan pribadi presiden dan keluarganya. Menurutnya resimen ini mesti melibatkan prajurit-prajurit terbaik TNI di empat angkatan (AD, AURI, AL, dan Polri).
 
Usul Nasution diterima Sukarno.  Tepat di hari ulang tahunnya yakni 6 Juni 1962, Sukarno mengeluarkan Surat Keputusan  No. 211/Pit 1962 tentang pembentukan resimen kawal khusus yang  bernama Resimen Cakrabirawa. Nama Cakrabirawa diambil dari nama senjata tokoh pewayangan Kresna. Dalam bahasa sansekerta Cakrabirawa berarti lingkaran dahsyat!

Berita Terkait