Selasa , 13 September 2016, 09:04 WIB

Kutukan Hatta Atas Pemberontakan Madiun

Rep: Lintar Satria/ Red: Karta Raharja Ucu
Mohammad Hatta

FDR Berganti PKI

Di depan KNP, Hatta mengatakan pemerintah membela demokrasi dan menghormati segala demokrasi. Pemerintah juga tidak menutup perebutan kekuasaan. Tapi sebagai negara demokrasi perebutan kekuasaan harus melalui pemilihan umum di mana rakyat menjadi hakim yang menentukan partai atau golongan mana yang menjadi partai pemerintah.

"Undang-undang tentang pemilihan umum telah ada, dan Pemerintah telah menjanjikan akan mengadakan pemilihan umum sekelas-lekasnya. Tetapi FDR tak sabar, ia mau berkuasa sekarang juga. Tetapi kekuasaan yang direbut dengan pemberontakan itu, apakah itu bisa menjadi suatu pemerintah parlementer, yang katanya begitu diinginkan oleh FDR? Jauh daripada itu! FDR atau sekarang namanya PKI, tak mempunyai jumlah terbanyak dalam Badan Pekerja KNP, dan tak berkuasa sendiri sebagai Pemerintah Parlementer. Dan kalau sekiranya ia mempunyai jumlah anggota terbanyak di dalam BP, tak perlu ia mengadakan coup untuk merebut kekuasaan," kata Hatta.

Hatta dengan tegas mengatakan karena PKI bukan partai dengan jumlah terbanyak dalam Badan Pekerja KNP mereka ingin merebut kekuasaan dengan paksaan. PKI ingin mengadakan kediktatoran dan meletakkan kemauannya pada golongan terbanyak.

"Kalau diktator yang mesti diadakan bukanlah mestinya diktator suatu golongan yang mendasarkan segala-galanya atas kepentingan golongnya sendiri, melainkan lebih baik diktator presiden yang berdiri di atas segala golongan. Tetapi kita tidak menghendaki diktator, kita menghendaki demokrasi!" kata Hatta tegas.

Hatta mengatakan sejak awal ia ingin membuat Kabinet Parlementer. Kabinet yang ia buat setelah Kabinet Amir Sjafiruddin hanya diperuntukan satu-dua bulan saja sekedar untuk menentramkan suasana dan pertentangan politik yang begitu hebat. Hatta mengatakan pada mulanya ia ingin mengajak pula FDR masuk kedalam Kabinet Parlementer yang akan ia bentuk. Tetapi FDR menolak tawaran Hatta. FDR hanya mau ikut serta bila separuh dari jumlah kursi kabinet diberikan kepada mereka. Dan kursi yang diminta FDR ialah kursi-kursi penting dalam pemerintahan.

Hatta mengatakan aksi FDR yang memusuhi terhadap segenap golongan lain, membuat Masyumi menyingkirkan segala kemungkinan untuk membentuk Kabinet Parlementer. Hatta menambahkan karena itulah gunanya Kabinet Presiden, untuk melincinkan jalan menuju kabinet parlementer dengan memperbaiki kerjasama antar partai terlebih dahulu.

"Saudara Ketua, sekarang PKI Muso telah mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun dan bermaksud akan merobohkan Pemerintah. Kita sekarang menghadapi suatu bahaya yang besar, yang mengancam keselamatan negara kita. Hanya pihak Belanda yang akan memperoleh keuntungan besar daripada aksi Muso ini. Sebab apabila PKI Muso ini berhasil merebut kekuasaan dengan merobohkan Pemerintah Republik Indonesia, maka Belanda barangkali dengan bantuan Amerika Serikat akan menyerbu Republik kita dan menguasainya," tegas Hatta.

Hatta mengatakan Muso sudah membuat bangkur pergerakan rakyat pada tahun 1926. Pemberontakan Muso dilakukan tanpa persiapan, persedian, dan syarat yang tak cukup sehingga gagal samasekali dan mengakibatkan beratus-ratus pemuka rakyat dibuang ke Boven Digul. Hatta mengatakan jangan sampai hal tersebut terulang kambali.