Selasa , 13 September 2016, 09:04 WIB

Kutukan Hatta Atas Pemberontakan Madiun

Rep: Lintar Satria/ Red: Karta Raharja Ucu
Mohammad Hatta

Pecahnya Pemberontakan PKI di Madiun

Dalam buku yang ditulis Margawati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto pada saat itu Hatta tidak dapat mengambulkan permintaan Sayap Kiri karena ditentang Masyumi. Akhirnya Hatta menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, posisi yang diminta oleh Sayap Kiri. Kabinet ini didukung oleh Masyumi, PNI, Partai Katholik dan Parkindo. Satu-satunya Sayap Kiri yang masuk kabinet ialah Supeno sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda atas nama perseorangan.

Lalu Amir Sjarifuddin membentuk FDR untuk melancarkan oposisi terhadap pemerintahan Kabinet Hatta. FDR merupakan gabungan partai dan organisasi kiri yang terdiri dari Partai Sosialis (PS), Partai Komunis Indonesia (PKI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), dan Barisan Tani Indonesia (BTI). FDR menuntut Kebinet Hatta dibubarkan dan Persetujuan Renville yang dipimpin Amir Sjarifuddin dibatalkan. Mereka meminta perundingan dengan Belanda dihentikan dan semua milik asing dinasionalisasikan tanpa ganti rugi.

Dalam buku Pemberontakan PKI-Muso Di Madiun 18-30 September 1948 yang ditulis Rachmat Susatyo pemberontakan Madiun dilakukan pada 18 September 1948. Berita tentang terjadinya coup d’etat tersebut mula-mula disiarkan Harian Murba di Surakarta bahkan jauh sebelumnya Harian Murba juga telah menyintir PKI akan segera mengadakan pemberontakan. Tetapi karena pemerintah tidak mengadakan reaksi atas berita tersebut, rakyat masih ragu-ragu menerima kebenaran berita itu.

Ketika ada pengumuman resmi dari pemerintah yang menyatakkan Kota Madiun telah diambil alih oleh PKI rakyat baru yakin atas kebenaran berita tersebut. Pemberontakan inim emakai tenaga salah satu kesatuan brigade TNI di Jawa Timur mereka menyerang alat-alat kekuasaan negara dan mengganti pemerintah daerah secara tidak sah. Pasukan-pasukan komunis yang dipimpin oleh Sumarsono, Dahlan dan Djokosujono dengan cepat telah bergerak menguasai seluruh kota Madiun, karena sebagian besar tentara di kota itu tidak mengadakan perlawanan. Madiun dijadikan kubu pertahanan dan titik tolak untuk menguasai seluruh wilayah RI.

Pemberontakan PKI di Madiun tersebut dimulai pada jam 03.00 setelah terdengar tembakan pistol tiga kali sebagai tanda dimulainya gerakan non-parlementer yang disusul dengan gerakan perlucutan senjata. FDR juga menduduki tempat-tempat penting di kota Madiun, seperti Kantor Pos, Gedung Bank, Kantor Telepon, dan Kantor Polisi Dalam gerakan ini kesatuan PKI telah melakukan pembunuhan terhadap dua orang pegawai pemerintah dan menangkap empat orang militer. Perebutan kekuasaan ini berjalan lancar, kemudian mereka mengibarkan bendera merah di depan Balai Kota. Melalui Radio Madiun, pimpinan pemberontak mengadakan pidato-pidato penyerangan terhadap pemerintah.