Sabtu , 30 Juli 2016, 06:14 WIB

Menyusuri Sepenggal Kaum Cimahi Tempo Dulu

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: M.Iqbal
gahetna.nl
Westerling di Batujajar, Cimahi, Jawa Barat.
Westerling di Batujajar, Cimahi, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Cimahi merupakan wilayah yang dahulunya merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pada 29 Januari 1976, statusnya menjadi kota administratif pertama di provinsi tersebut. Kemudian mekar menjadi kota dengan pemerintahan sendiri pada 21 Juni 2001.

Kota yang hanya memiliki tiga kecamatan ini nyatanya memiliki sejarah penting pada zaman penjajahan Belanda. Hingga sekarang, Cimahi dikenal dengan sebutan kota tentara. Dengan banyaknya pusat pendidikan tentara dan fasilitas kemiliteran lainnya hingga sekitar 60 persen dari luas wilayah.

Karenanya, Kota Cimahi menjadi salah satu basis penting ada zaman penjajahan. Salah satunya yang menjadi simbol pusat kota Cimahi, yaitu Alun-Alun dan Masjid Agung Cimahi. Hampir di setiap daerah di Jawa Barat memiliki tempat-tempat identik di pusat kota yang disebut dengan kaum atau dalem kaum.

Tempat ini biasa merupakan pusat kota dengan berdiri Masjid Agung, alun-alun, dan pusat pemerintahan atau pendopo. Begitupun Kota Cimahi yang memiliki wilayah kaumnya sebagai pusat kegiatan sejak zaman dahulu. Alun-alun Kota Cimahi saat ini menjadi fasilitas publik yang digunakan untuk berolahraga, bermain, ataupun sekadar berkumpul bersama rekan dan keluarga.

Seorang warga Kota Cimahi yang lahir pada 1955, Cinta Sari Herli mengatakan tempo dulu, Alun-Alun Kota Cimahi digunakan sebagai tempat mengangon ternak. Keturunan Kaum Cimahi asli itu menuturkan kondisi alun-alun kala itu masih berupa lapangan berumput dan pohon rindang.

Bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan bertegur sapa, Alun-Alun Kota Cimahi saat itu juga digunakan untuk pemeriksaan narapidana. Cinta yang masih kecil kala itu menceritakan hanya berani mengintip-intip saat pemeriksaan dilakukan. "Setiap kamis pemeriksaan narapidana sama anggota militer. Diangkut ke alun-alun dan diperiksa disini," kata Cinta saat menuturkan Cimahi Tempo Dulu dalam kegiatan bersama komunitas Tjimahi Heritage, beberapa waktu lalu.

Pendopo yang menjadi pusat pemerintahan kala itu tepat berseberangan dengan alun-alun. Pendopo juga digunakan untuk latihan menari serimpi dan perkumpulan seni lainnya. Masih satu komplek dengan alun-alun dan Pendopo, berdiri megah Masjid Agung Cimahi.

Masjid yang didirikan sejak 1819. Masjid ini berdiri di atas tanah yang diwakafkan oleh seorang saudagar yang kuburannya terletak di Gang Kaum. Masjid Agung juga dikelilingi oleh rumah-ruman para penjaga masjid.

Yang merawat dan memelihara masjid yang kala itu berdiri dengan model tumpang. Cinta menyebut Jalan Kaum sendiri berasal dari kata Koimudin atau artinya orang-orang yang mendekatkan pada agama. "Sehingga orang-orang banyak nyebutnya jalan atau gang kaum karena menjadi tempat tinggal para kaum," ujar Cinta.

Jalan Kaum menjadi salah satu tempat paling tua di Kota Cimahi. Rakyat pribumi juga berbaur dengan sejumlah orang Belanda dan Jerman yang juga bermukim di sekitar Jalan Kaum. Komunitas Tjimahi Heritage bersama peserta program jelajah bertajuk “Nyucruk Galur Sejarah Kaum Cimahi” mencoba menyusuri seluk beluk Kaum Cimahi tempo dulu.

Ketua Tjimahi Heritage, Machmud Mubaraq mengungkapkan berdasarkan penyusuran yang menghadirkan saksi sejarah itu terungkap hingga kini masih terdapat keturunan dan peninggalan orang Belanda dan Jerman di Kaum Cimahi. Keturunan mereka sebagian masih menempati rumah-rumah di sekitar kaum. Beberapa keturunan asli Belanda pun masih mendiami rumah-rumah bergaya arsitektur Belanda yang tetap dipertahankan.

Meski sudah menjadi WNI, tapi keturunan Belanda pun berkomunikasi menggunakan bahasa sunda bahkan dengan keluarganya yang ada di Belanda. "Saya juga baru tahu masih ada keturunan keluarga orang-orang Belanda yang masih menjalin komunikasi dengan Belanda. Komunikasinya memakai bahasa sunda sangat halus, karena dari dulu mereka lahir dan tinggal di Cimahi sebelum beberapa dari mereka ada yang pulang ke Belanda,” kata Macmud. Adapula, keluarga keturunan Jerman yang masih mendiami rumah peninggalan ayahnya yang bernama Herman Hendrick Vogh.

Keluarga yang sudah menjadi WNI masih mempertahankan rumah klasik sejak zaman dulu yang masih bertekel san lampu antik. Herman Hendrick hidup di masa 1944-1980. Dia bekerja sebagai pegawai administrasi perkebunan di Subang.

Setelah pensiun, menetap di Cimahi. Uniknya, kata Machmud, Herman Hendrick memiliki keahlian meramal. Keahliannya ini cukup dikenal dan menjadi buruan para tamu yang mencari peruntungan.

Para tamu Herman Hendrick kebanyakan dari Batavia, terutama kalangan pejabat. Peninggalan sejarah lainnya di Gang Kaum adanya makam warga Cimahi yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun Masjid Agung Cimahi. Hingga kini, makamnya tetap dirawat dan sering kedatangan penziarah.

Adalah H. Abu Nasir yang mewakafkan tanah seluas 6.200 meter persegi untuk dibangun masjid. "Tadinya makamnya di Masjid Agung tapi kemudian dipindahkam ke Gang Kaum bersama makam seluruh keluarganya," kata Machmud. Pusat kota dan Gang Kaum dinilai menjadi salah satu elemen penting pembuktian sejarah Cimahi.

Yang telah berkembang kulturnya sejak zaman dahulu sebagai salah satu wilayah yang berperan pada pemerintahan Belanda dan setelah kemerdekaan. Kegiatan susur sejarah Cimahi memang menjadi agenda rutin dari komunitas Tjimahi Heritage. Dengan tujuan memperkenalkan lebih jauh sejarah Cimahi

"Kita ingin kenalkan asal mula Gang Kaum, Mesjid Agung dan sekitarnya yang sudah hampir 200an tahun. Ini adalah salah satu kawasan tertua di Kota Cimahi dan orang Cimahi sendiri enggak banyak tahu," tuturnya. Selain sepenggal pusat kota Cimahi, nyatanya kota kecil ini memiliki banyak tempat bersejarah lainnya. Salah satunya kawasan Leuwigajah dan yang lainnya.

Namun memang hambatannya adalah saksi hidup yang minim dan kurangnya arsip sejarah. Rencananya berdasarkan penelusuran selama ini, Tjimahi Heritage akan membukukan sejarah Kota Cimahi ke depannya. Sehingga dapat terdokumentasi dengan baik.