Sabtu , 11 November 2017, 09:07 WIB

Catatan Roeslan Abdulgani: Suasana Rakyat Jatim Jelang 10 November

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/ Republika
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Amri Amrullah, wartawan Republika

JAKARTA -- Suasana jelang 10 November menjadi kenangan bagi Roeslan Abdulgani yang saat itu ikut terlibat dalam perang 10 November 1945 di Surabaya. Dalam catatannya, yang dituangkan dalam Buku yang ditulis Des Alwi berjudul 'Pertempuran Surabaya, November 1945' Roeslan menyebut warga Surabaya menunggu perlawanan yang tepat melawan setelah ultimatum sekutu.

Setelah sekutu mendarat di pulau Jawa, penduduk Jawa Timur khususnya di kota Surabaya terus menerus mengikuti siaran radio. "Setiap orang di Surabaya pada saat itu bertanya dalam hati, bagaimana hasil perundingan di Jakarta? Kapan Pak Soerjo (saat itu Gubernur Jawa Timur) akan berbicara lagi melali radio? Apakah ada hasil yang baik, ataukah tidak?" ungkap Roeslan.

Sementara saat itu kesiapan pertahanan terus ditingkatkan. Dalam perjalanan ke stasiun radio NIROM di Embong Malang, Surabaya, Gubernur Soerjo dan Cak Doel Arnowo mengendarai mobil chrysler dengan tujuh tempat duduk. Tetapi kendaraan mereka tidak dapat melaju dengan kecepatan seperti biasa.

Jalan-jalan di Surabaya sudah dipasang barikade oleh masyarakat dengan menggunakan karung-karung pasir, meja, almari pakaian, rak dan sepeda. "Pokoknya apa saja yang bisa digunakan untuk menghambat laju musuh," ungkap Roeslan.

Barikade tersebut bukan saja dibangun sepanjang rute dari Pasar Besar ke Embong Malang, tetapi pada semua jalan di dalam kota. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa kedua tokoh tersebut, Pak Soerjo dan Cak Doel Anrnowo yang sebelumnya berunding di penginapan Marijcke benar-benar telah berangkat ke kantor Gubernur, lantas dari sana menuju satsiun radio.

Secara spontan, seluruh warga masyarakat di kampung-kampung juga sudah bersiap-siap. Baik yang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak muda, besar dan yang kecil, mereka semu sibuk mempersiapkan bungkusan-bungkusan nasi, pisang goreng dan pisang tundun.

Dengan segala macam cara, setiap orang berusaha mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan tanah air melawan dan melawan kembalinya pemerintahan asing. "Ini merupakan sebuah karakter unik dari rakyat Surabaya," kata Roeslan.

Kemudian sekitar pukul 23.00 malam, Cak Doel Arnowo kembali mengadakan hubungan telepon dengan Jakarta. Kali ini tidak dengan Bung Karno tetapi dengan Ahmad Soebardjo, yang menjelaskan dia tidak berhasil mengubah pikiran pihak Inggris.