Sabtu , 11 November 2017, 08:03 WIB
Hari Pahlawan

Bangunan Bersejarah di Surabaya Satu per Satu Hilang

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/Republika
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Dari sekian lokasi bersejarah di Surabaya yang Republika datangi, ada dua lokasi yang kini betul-betul sudah berubah bentuk. Dua lokasi itu adalah rumah yang dijadikan tempat siaran radionya Bung Tomo di Jalan Mawar No. 10 dan Rumah Sakit (RS) Simpang di Jalan Pemuda No. 33-37.

Ditemani seorang anggota Roodebrug Soerabaia bernama alias Gepeng, Republika mendatangi dua lokasi itu. Pertama, Republika coba mencari di mana letak RS Simpang.

Dulu, RS Simpang merupakan rumah sakit terbesar di Surabaya pada era mempertahankan kemerdekaan. Korban-korban perang melawan Inggris pada 10 November banyak yang dilarikan ke sana.

"Di sana itu sampai penuh dengan korban perang. Digambarkan di buku-buku, pasien di sana itu sampai keleleran (berserakan, bahasa Jawa - Red) dan bangsal-bangsal, jalan, dan lorong-lorong RS. Tenaga medis bekerja selama 24 jam saat itu," tutur Ady.

Masih menurut Pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan, korban perang yang kemudian meninggal di sana langsung dimakamkan di halaman-halaman rumah sakit itu. Maka dari itu, saat dibongkar sekitar tahun 1960-an, masih ditemukan jenazah-jenazah pejuang lengkap dengan senjata dan helmnya.

Setelah dibongkar, kini tak ada lagi bangunan peninggalan RS Simpang di lokasi itu. RS Simpang yang berjasa merawat arek-arek Surabaya kini telah berubah total menjadi sebuah mal bernama Delta Plaza Surabaya.

Tak terasa hawa rumah sakit ketika Republika mencoba masuk ke mal itu. Udara dingin dari pendingin ruangan dan terangnya lampu papan di toko-toko dan banyaknya orang berbelanja atau sekadar makan di sana tentu berbeda jauh dengan pemandangan rumah sakit biasanya.

Setelah berputar di dalam mal, Republika tak juga menemukan tugu, monumen, atau plakat yang menjelaskan lokasi itu pernah menjadi sebuah rumah sakit bersejarah. Barulah setelah diberitahu Gepeng, tugu tersebut berada di bagian luar mal, kami mencoba mencarinya ke bagian luar.

Setelah sesaat mencari di mana tugu itu, akhirnya kami menemukannya di bagian luar kompleks mal. Letaknya berseberangan dengan tugu yang ada di gedung RRI. Bedanya, tugu soal RRI terletak tak begitu jauh dari halamannya.

Tugu yang menjelaskan soal RS Simpang, berjarak sekitar satu jalur mobil di seberang mal itu. Letak tugunya berada di tengah-tengah jalan, menjadi pemisah jalan dua arah di sana.