Sabtu , 11 November 2017, 05:11 WIB
Hari Pahlawan

Misteri Tewasnya Brigjen Mallaby di Tangan Arek Surabaya

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/ Republika
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Pada 27 Oktober 1945, setelah Mallaby melakukan perundingan dengan para pemimpin di Surabaya, Mayor-Jenderal Hawthorn di Jakarta mengeluarkan perintah yang semakin membuat panas suasana di Surabaya. Salah satunya adalah perintah untuk menjatuhkan pamflet atau selebaran dari atas kota.

Selebaran itu berisi perintah kepada rakyat Indonesia untuk menyerahkan semua senjata mereka. Jika tidak, maka mereka aka ditembak mati. Dalam selebaran itu tertulis "siapa pun yang terlihat membawa senjata dan menolak untuk menyerahkannya pada tentara sekutu akan ditembak".

Mallaby mengaku tak mengetahui surat perintah itu. Namun, pasukan Inggris di Surabaya tetap memaksa rakyat Indonesia untuk menuruti perintah yang ada di selebaran Hawthorn.

Rakyat Surabaya yang geram kemudian melakukan perlawanan. Perlawanan yang berlangsung selama tiga hari hingga 30 Oktober 1945. Perlawanan yang begitu luar biasa sampai-sampai pihak Inggris merasa kewalahan dan kemudian meminta Presiden Soekarno untuk datang ke Surabaya.

"Pada 29 Oktober, pemerintah Inggris mendatangkan Bung Karno untuk melerai pertempuran itu. Setelah berunding, dicapailah gencatan senjata," ujar sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya Aminuddin Kasdi.

Aminuddin menjelaskan, meski telah dicapai kesepakatan, di Surabaya masih terdapat konflik di sana sini. Karena itu dibentuklah Kontak Biro untuk menyelesaikan masalah itu. Di mana salah satu pimpinan Kontak Biro itu adalah Mallaby.

Dengan iring-iringan mobil, mereka kemudian bergeser ke Gedung Internasio pada 30 Oktober 1945. Gedung tersebut merupakan salah satu gedung yang diduduki oleh Inggris kala itu dan dikepung oleh rakyat Surabaya. Kontak Biro datang ke sana untuk menyudahi pertempuran di sana.