Jumat , 10 November 2017, 17:37 WIB

Kisah Heroik Pejuang Indonesia Habisi Pasukan Gurkha

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/ Republika
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Pascamendarat di Pelabuhan Tanjung Perak pada 25 Oktober 1945, pasukan sekutu menduduki beberapa kantor pelayanan publik. Di antaranya adalah RRI.

Ketika itu, sistem komunikasi belum secanggih sekarang. Peranan radio dalam menyebarluaskan informasi begitu besar pada era itu. Ditambah lagi, kondisi saat itu sedang berperang melawan sekutu. Berdasarkan pertimbangan tersebut Inggris membidik RRI.

"Karena waktu itu caranya mengorganisir orang untuk bergeser ke lokasi pertempuran dan lainnya itu infonya dari radio semua. Hingga akhirnya RRI berhasil dikuasai Inggris," tutur Pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan sembari mengingat-ingat.

Dalam artikelnya di laman Roodebrug Soerabaia, Ady mengulas kejadian di RRI ini berdasarkan memoar Ruslan Abdulgani. Di sana diceritakan, RRI mulai diduduki Inggris melalui pasukan Gurkhanya pada siang hari tanggal 28 Oktober 1945.

Pasukan Gurkha yang datang ke gedung RRI di Jalan Pemuda No 82-90, Genteng, Embong Kaliasin, Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur, kurang lebih berjumlah 35 orang bersama dengan komandannya orang Inggris.

Ketika itu, RRI selalu memutar lagu kebangsaan Indonesia raya pada pembukaan dan penutupan siaran. Dan, menurut cerita Ruslan itu, meski RRI diduduki Inggris, siaran RRI tetap berjalan.

Hingga akhirnya arek Surabaya yang berada di sekitar gedung RRI. Pasukan yang berada di gedung RRI melakukan penembakan terhadap orang-orang yang lewat di depan gedung itu. Perbuatan itu pun kemudian menghadirkan bentrokan. Namun karena rakyat yang mengepung gedung itu tak memiliki senjata yang mumpuni, mereka akhirnya menghubungi markas PRI, Polisi Istimewa, dan lainnya untuk meminta bantuan.

Bentrokan di RRI berlangsung hingga keesokan harinya. Pada Senin pagi, 29 Oktober 1945, tembak-menembak di sana kembali ramai. Polisi Istimewa mengirimkan kendaraan panser dari markasnya lengkap dengan senjata dan tiga orang penumpangnya, Luwito, Wagimin, dan Sutrisno.

Setelah mendekat ke lokasi bentrokan dengan hati-hati, panser itu kemudan menembakan senjata mesinnya ke arah jendela tempat pasukan Gurkha mengintai dan menembak. Tapi, ternyata mereka masih dapat membalas tembakan itu.

Hingga akhirnya Wagimin dan kawan-kawannya memutuskan untuk membuka dan melemparkan jerigen bensin cadangan yang ada di dalam panser ke lantai gedung. Setelah melemparkan jerigen, Wagimin segera memindahkan pansernya yang berada di bagian depan gedung dan kemudian sebuah granat dilempar ke gedung RRI.

Setelah granat meledak, api kemudian menyala. Gedung RRI terbakar hebat kala itu. Pasukan Gurkha yang berada di dalam pun akhirnya keluar dan mengangkat tangannya. Tapi, rakyat Surabaya yang ada di sana sudah marah bukan kepalang rekan seperjuangannya mati ditembaki. Pasukan Gurkha yang menyerah tadi pun dihabisi oleh rakyat saat itu. Semua pasukan Gurkha yang menduduki gedung RRI itu tewas.

Rangkuman dari kisah itu kini terdapat di bagian halaman depan gedung RRI yang sudah kembali dibangun dan diberi cat berwarna dominan biru. Di sebuah tugu yang menandakan lokasi itu menjadi lokasi bersejarah dalam peristiwa 10 November 1945.

Di tugu itu dituliskan, "karena fungsinya yang penting, maka gedung radio Surabaya ini diduduki oleh Jenderal Mallaby pada pertempuran 28-30 Oktober 1945. Banyak korban rakyat jatuh. Pada 29 Oktober 1945, gedung ini dibakar habis dan tidak seorang pun pasukan Inggris di sini lolos dari kemarahan rakyat."

Tulisan di tugu itu terlihat jelas dengan tinta berwarna emas di atas batu berwarna hitam sebagai 'kertas'-nya. Letak tugu itu tak jauh dari jembatan penyeberangan menuju Delta Plaza Surabaya yang berada di seberang gedung RRI.