Jumat , 10 November 2017, 16:06 WIB
Hari Pahlawan

Pemuda Surabaya Rampas Senjata Jepang demi Menyambut Belanda

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/ Republika
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan
Sejumlah pemeran mementaskan drama kolosal Surabaya Membara di Jalan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/11). Drama yang menceritakan perjuangan arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Usai insiden perobekan bendera Belanda, rakyat Surabaya semakin yakin, Belanda pasti datang. Karena itu, Sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya Aminuddin Kasdi menuturkan para pejuang berpikir senjata dari Jepang harus segera direbut.

"Pada 21 Septembernya, ada rapat raksasa di Stadion Tambaksari untuk menggelorakan perjuangan perlawanan terhadap Belanda yang pasti datang," tutur Aminuddin sembari mengingat-ingat.

Ketika itu, kata Aminuddin saat berbincang dengan Republika.co.id, para pemimpin di Surabaya berkumpul. Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) Soemarsono, Doel Arnowo, Roeslan Abdulgani, BungTomo, Komandan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya Muhammad Yasin, dan sebagainya hadir pada rapat itu.

"Dari rapat itulah kemudian menyadarkan diperlukannya senjata untuk pertahanan diri. Mulai saat itu kemudian segera direbut persenjataan itu dari tangan Jepang," jelas Aminuddin.

Bung Tomo menyebutkan dalam memoarnya, ketika itu rakyat mulai menyadari, negara Republik Indonesia harus diisi sendiri dan dipertahankan sendiri. Terutama setelah terdengar ada gerakan anti-Indonesia merdeka atau 'Dood Ale Inlanders' yang berarti 'bunuh semua bangsa Indonesia', dan gerakan-gerakan serupa lainnya.

"Sehingga, soal-soal pertahananlah yang kemudian menjadi perhatian utama rakyat," tulisnya.

Rakyat Surabaya saat itu juga semakin menyadari, untuk bisa mempertahankan diri dengan baik, keberadaan senjata dan alat untuk bergerak cepat menjadi syarat yang terpenting. Namun, soal senjata, keadaan saat itu, di mana tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang menjadi harapan ternyata dikirim pulang oleh Jepang tanpa senjata.

Dari situlah kemudian, hanya mobil yang menjadi sasaran rakyat. Pergerakan itu diawali beberapa orang pemuda dan anak kampung yang mencoba merebut kendaraan. Mereka berani melakukan itu dengan siasat mencari anggota 'Kipas Hitam'. Sebuah perkumpulan yang turut aktif dalam membantu gerakan 'Dood Ale Inlanders'.

Bung Tomo mengisahkan, mereka berani memberhentikan mobil yang dikendarai oleh petinggi Jepang. Ketika penumpang itu turun, mereka bertanya apakah mereka mengerti gerakan 'Kipas Hitam' atau tidak. Jika tidak mengerti, maka boleh berjalan terus.

"Tetapi dengan berjalan kaki karena mobilnya diminta. Setelah memperoleh mobil, Merah Putih ditempelkan di kaca. Selesai! Jadilah mobil itu milik Republik Indonesia!" jelas dia.

Setelah banyak mobil dan beberapa truk serta kendaraan lebih besar lainnya diambil alih, mereka berpikir ke tahap kedua. Tahap pengambil alihan senjata.