Jumat , 10 November 2017, 08:05 WIB
Hari Pahlawan

Sultan Tiga Negara Itu Akhirnya Bergelar Pahlawan Nasional

Rep: Amri Amrullah/ Red: Karta Raharja Ucu
Sultan Mahmud Syah III

Sikap Sultan Mahmud Syah III yang lebih menyukai Bugis dikarenakan Bugislah yang membuat banda-bandar di tanah Melayu Riau Lingga sejahtera. Ramai akan para pedagang tanpa adanya monopoli. Namun kekuatan VOC yang lebih besar membuat Sultan Mahmud Syah III tidak ada pilihan.

Akhirnya Belanda mendesak Sultan Mahmud Syah III melakukan perjanjian dengan VOC di atas kapal Utrecht pada 10 November 1784. Perjanjian itu untuk mengakhiri jalur dagang dengan Bugis di Johor.

Perjanjian dengan VOC itu juga menuntut Sultan Mahmud Syah III mengusir semua orang Bugis di Riau Lingga. Perjanjian tersebut bahkan membuka peluang pemerintah Belanda untuk mengirim seorang Residen di Johor. Dalam catatan Tuhfat al-Nafis, karya sastra penting setelah Sejarah Melayu, setelah pengusiran Bugis itu, kawasan Lingga menjadi sepi dan miskin.

Namun karena sikap Sultan Mahmud Syah III yang tetap tidak suka dengan VOC, singkatnya persaingan dagang Bugis-VOC kian sengit. Hingga meletus peperangan antara Belanda dan orang Bugis.

Sultan Mahmud Syah III akhirnya dipaksa mundur oleh Belanda ke Pahang (Malaysia). Permusuhan antara kedua kekuatan berlanjut sampai 1795, ketika Belanda akhirnya berhasil mengusir kepala Bugis, Raja Ali dari Riau, ke Kalimantan.

Pada 1795 juga Inggris akhirnya mengambil alih Malaka, dan Inggris mengakui posisi Sultan Mahmud Syah III dan mengembalikannya ke Riau Lingga. Setelah konflik, untuk menenangkan orang Bugis dan Tengku Muda, Sultan menikahi anaknya, Tengku Hussein, dengan Putri Tengku Muda, sementara anak laki-lakinya yang lain, Tengku Abdul Rahman, dijadikan bangsawan Raja Ali.

Untuk menjaga hubungan dengan orang Bugis, Mahmud Shah III mendirikan ibu kotanya di Daik, Lingga. Sultan Mahmud Syah III membangun satu istana disana. Sultan Mahmud Syah III meninggal di Lingga pada 12 Januari 1811 dan dimakamkan di Masjid Jamik Daik, Lingga. Kesultanannya kemudian diwariskan kepada Raja Abdul Rahman, seorang Sultan terkenal Saleh.