Sabtu , 28 October 2017, 09:03 WIB
Sumpah Pemuda

Menunggu Dokumentasi Kongres Pemuda Kedua dari Belanda

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Ronggo Astungkoro
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Tanggal 28 Oktober merupakan Hari Sumpah Pemuda. Pada 1928, pemuda-pemudi Indonesia mengucapkan sumpah luhur mereka demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Potret aktivitas organisasi kepemudaan pada masa itu dapat dilihat di bekas lokasi pembacaan Sumpah Pemuda. Di Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, dulu menjadi tempat bersejarah dibacakannya Sumpah Pemuda di ujung Kongres Pemuda ke-2.

Di sana, ada berbagai dokumentasi. Mulai dari potret pondokan mahasiswa kala itu hingga ke aktivitas organisasi kepemudaan, baik itu di dalam maupun luar negeri. Di Ruang Pengenalan, terletak di pintu masuk museum, tedapat foto dan keterangan terkait Gedung Kramat 106.

Pada ruangan ini tertulis sejarah tentang pemondokan mahasiswa di Jalan Kramat di dinding-dindingnya. Ada potret pemuda jaman itu dan lokasi-lokasi seperti Jalan Kramat Raya dan Stovia. Di bagian ini banyak potret kota Jakarta tempo dulu.

Selain itu, di ruangan-ruangan lain, terdapat penjelasan tentang organisasi-organisasi kepemudaan sebelum terjadinya Sumpah Pemuda. Sebagaimana diketahui, tak lama setelah itu, beberapa organisasi tersebut berfusi menjadi satu menjadi Indonesia Muda.

Organisasi-organisasi seperti Jong Java, Pemuda Indonesia, Perhimpunan Indonesia, Pemuda Kaum Betawi, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dijelaskan melalui papan informasi di sana.

Informasi di sana tidak hanya teks saja, tetapi juga melalui foto-foto dokumentasi organisasi. Foto-foto kegiatan, pengurus organisasi, dan pertemuan-pertemuan dapat kita temui di Museum Sumpah Pemuda.

Selain melalui papan itu, di sana juga tersedia layar interaktif. Melalui layar itu, pengunjung dapat membaca buku elektronik tentang organisasi-organisasi itu.

Dari sekian banyak informasi dan dokumentasi, uniknya, hanya ada satu dokumentasi terkait Kongres Pemuda ke-2. Dokumentasi rapat terakhir dari kongres yang melahirkan tiga butir sumpah pemuda hanya ada satu buah.

Foto itu menunjukkan para peserta Kongres Pemuda ke-2 yang berfoto di halaman belakang Gedung Kramat 106, gedung yang saat itu dinamakan Gedung Indonesische Club. Beramai-ramai mereka berfoto dengan menggunakan kemeja putih.

Staf Bidang Edukasi dan Informasi Museum Sumpah Pemuda bernama Bhakti Ari menjelaskan hal itu kepada Republika.co.id, Kamis (16/10) sore. Selama kurang lebih 30 menit, Republika.co.id berbincang dengannya hingga 15 menit sebelum diminta keluar karena jam kunjungan museum itu habis.

Bhakti menceritakan, ketika itu, saat Kongres Pemuda ke-2, peserta yang hadir mencapai 1.000 orang. Peserta itu terdiri dari masyarakat, wartawan, dan pihak dari Belanda. Yang disebut terakhir bertugas untuk memantau jalannya Kongres itu.

Sempat, pada rapat tersebut, salah satu peserta bernama Soerjadi berpendapat yang salah satunya memprotes terhadap tindakan polisi yang membuat persyaratan untuk arak-arakan pandu yang sangat berat. Sehingga arak-arakan itu tidak jadi dilaksanakan.

Polisi yang mendengar kata-kata Soerjadi itu mengatakan, "Saya minta yang berbicara tadi diberitahu bahwa polisi tidak boleh dikritik." Soerjadi pun kemudian memutuskan untuk tidak berbicara lagi apabila perkataannya itu dianggap sebagai kritik.