Sabtu , 28 Oktober 2017, 05:03 WIB
Sumpah Pemuda

Gedung Kramat 106 Saksi Sejarah Gelora Sumpah Pemuda

Red: Karta Raharja Ucu
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

Di museum itu terdapat beberapa diorama. Diorama-diorama itu menunjukkan bagaimana situasi dan kondisi pemuda pada masa 1920-an. Di bagian depan, terdapat tiga diorama pemuda yang sedang berdiskusi. Mereka duduk mengelilingi meja bundar. Di atas meja dan kursinya terdapat buku-buku.
 
Saat masuk ke dalam, di Ruang Kongres Pemuda I, terdapat diorama pemuda yang sedang duduk mendengarkan radio. Dari sana, Republika.co.id menuju aula yang merupakan Ruang Kongres Pemuda II.
 
Terlihat diorama WR Soepratman yang sedang bermain biola dengan enam diorama lainnya sedang duduk di meja rapat. Di hadapan diorama-diorama itu, ada etalase berisikan diorama situasi saat Kongres Pemuda II dilaksanakan.
 
Di sebelah Ruang Kongres Pemuda II terdapat Ruang Indonesia Muda dan PPPI. Di ruangan itu, terdapat diorama dua pemuda yang sedang membaca surat kabar. Mereka mengenakan pakaian khas pada era tersebut. Di sana juga terdapat dua halaman depan surat kabar era 1920-an.
 
Diorama lainnya terdapat di Ruang Kepanduan. Di dua ruangan itu, masing-masingnya terdapat satu diorama dengan setelan dan perlengkapan Kepanduan lengkap. Bedanya, yang satu diorama perempuan dan satunya lagi lelaki yang sedang terlihat seperti sedang mendorong sepedanya.

Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. (Foto: Ronggo Astungkoro/ Republika)
 
"Kita mengonsep museumnya itu selain sebagai tempat kongres, juga menunjukkan saat tempat ini dijadikan kos dan suasana tahun 1920-an. Jadi, kalau ini mewakili waktu itu seperti ini mahasiswa berbusananya," ungkap Bhakti sembari menunjuk diorama di Ruang Indonesia Muda dan PPPI.
 
Di setiap ruangan, terdapat papan berisikan informasi-informasi seputar organisasi kepemudaan saat itu. Ada pula satu ruangan bernama Ruang Indonesia Raya yang berisikan informasi soal lagu kebangsaan Indonesia. Di sana juga terdapat biola milik WR Soepratman.
 
Bhakti membocorkan, sekitar pada 2020 mendatang, akan ada perubahan tata pameran Museum Sumpah Pemuda. Tatanan objek pameran saat ini sudah sejak 2012. Mungkin, nantinya, pihaknya akan bermain dengan teknologi terkini.
 
"Sekitar 2020 kita ganti (tata pemaran). Karena museum ini kan juga melakukan penelitian terkait tokoh-tokoh sumpah pemuda. Koleksi-koleksinya akan ditampilkan nanti," kata dia.
 
Perbaikan dan penambahan fasilitas terus dilakukan pihaknya. Supaya semakin banyak pengunjung yang datang ke Museum Sumpah Pemuda. Saat ini, Bhakti menjelaskan, pengunjung sudah cukup meningkat dari awal usai direnovasi.
 
Tapi, ia bingung, setiap tahunnya, terjadi perbedaan jumlah pengunjung dari bulan Januari-Juli dengan Agustus-Desember. Di bulan awal hingga pertengahan tahun itu, paling sedikit ada sekitar 50 orang pengunjung yang datang dan biasanya hanya ramai di akhir pekan.
 
"Setelah Agustus, pasti minimal ada satu orang yang datang setiap harinya. Agustus sampai Desember itu minimal sampai seribu orang yang datang per bulannya. kami belum tahu kenapa bisa seperti itu," jelas dia.
 
Meski begitu, ia tetap berharap, siapa pun yang mengunjungi museum itu dapat memahami dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang telah digagas pemuda-pemuda itu. Karena menurutnya, persatuan itu sangat penting dan sangat sulit untuk dirawat.
 
"Pemuda-pemuda ini 'kan' juga butuh proses untuk bersatu," sambung dia.