Sabtu , 30 September 2017, 14:11 WIB
Pengkhianatan G30S/PKI

Peristiwa G30S/PKI yang Menyisakan Luka dan Duka

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Ronggo Astungkoro
Royen (44) menunjukkan dan menceritakan kejadian G30S/PKI dengan diorama-diorama yang ada Museum A.H. Nasution, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).
Royen (44) menunjukkan dan menceritakan kejadian G30S/PKI dengan diorama-diorama yang ada Museum A.H. Nasution, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).

PKI dan Penyebar Teror

Peristiwa G30S/PKI yang menyebabkan terbunuhnya para jenderal menjadi penyebab lengsernya Sukarno dari kursi presiden. Perdebatan tentang keterlibatan Bung Karno dan PKI dalam peristiwa G30S/PKI pun seolah tidak pernah berakhir.

Ketua Umum Lesbumi PBNU, Agus Sunyoto menggambarkan bagaimana Islam selalu dominan sejak awal revolusi, di berbagai wilayah seluruh Indonesia. "Dulu itu, masyarakat Indonesia dibagi tiga golongan, lalu dari masing-masing itu dibagi lagi menjadi dua kelompok," ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (22/9).

Agus melihat, pemetaan pada waktu itu, keberadaan warga negara Indonesia dalam pemetaan sosiologi, terbagi atas tiga lapis golongan. Golongan pertama adalah golongan elite atas, mereka adalah golongan orang-orang cerdas yang memiliki latar pendidikan tinggi.

Golongan kedua adalah golongan orang-orang biasa, bisa yang cerdas bisa yang bodoh, tapi mereka memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Golongan ketiga adalah golongan masyarakat bawah, masyarakat bodoh yang tidak berpendidikan.

Kemudian, tiga lapisan golongan ini, terbagi lagi masing-masing menjadi dua kelompok. "Pada golongan pertama, kalau mereka kuat agama Islamnya, pasti masuk kelompok Masyumi, kalau yang longgar agama Islamnya masuk kelompok PSI, Sosialis Demokrat," ucap dia.

Pada golongan kedua, kalau mereka kuat agama Islamnya, pasti masuk kelompok Muhammadiyah, kalau yang agama Islamnya longgar masuk kelompom PNI, orang nasionalis. "Nah, pada golongan ketiga ini, kalau mereka kuat agama Islamnya, pasti kelompok NU, kalau yang longgar itu masuk kelompok PKI," ujar Agus sambil tertawa geli mengingat-ingat bagaimana pada masa itu, NU dan PKI disandingkan dalam golongan bawah dan tidak berpendidikan.

PKI dan NU, Agus melanjutkan, memang digolongkan uneducated (kurang berpendidikan) pada zaman dulu. Itu merupakan asumsi seluruh masyarakat Indonesia. "PKI mana bisa pintar wong golongan bodoh dan lali," kata Agus.

Para anggota PKI itu, tentang sejarah partainya sendiri saja tidak tahu. Ketika orang mengatakan PKI itu lahir 9 Mei 1914, anggotanya percaya saja. "Padahal bukan, tanggal itu adalah lahirnya kelompok Sosial Demokrat, PKI belum lahir. Tapi karena bodoh jadi mereka mengiyakan saja," Agus kembali tertawa.

Penulis Asma Nadia juga angkat bicara soal G30S/PKI. Asma bahkan menyindir soal isu kebangkitan PKI yang saat ini gencar dibicarakan banyak orang.

"Pertanyaan yang tampak sederhana, sesederhana cara berpikir orang yang mengungkapkannya. Untuk menjawab, mungkin kita perlu menelaah lagi sejarah dan fakta yang ada di lapangan," kata Asma dalam tulisannya di Republika berjudul 'Jika PKI Bangkit, Memangnya Kenapa?'

Saya, kata Asma, tidak akan bercerita tentang peristiwa Oktober di tahun 1945, ketika kelompok pemuda PKI membantai pejabat pemerintahan di Kota Tegal, menguliti serta membunuh sang bupati. Tak cukup di situ, mereka menghinakan keluarganya. "Kardinah, adik kandung RA Kartini yang menikah dengan bupati Tegal periode sebelumnya, termasuk salah satu korban. Pakaian wanita sepuh itu dilucuti, kemudian diarak dengan mengenakan karung goni," tutur Asma.

Betapa saat rakyat Indonesia tengah berjuang melawan penjajah, ketika arek-arek Suroboyo berebut merobek bendera merah putih biru di Hotel Yamato, lalu bertarung  menghadapi sekutu pada 10 November, di belahan lain sebulan sebelumnya, sejumlah pejuang turut berdarah-darah dalam pertempuran lima hari di Semarang, membredeli  tentara Jepang, PKI justru merusak tatanan bangsa di mana-mana. Menggerogoti dari dalam.

Anasir PKI bergerak merebut kekuasaan di Slawi, Serang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Pemalang, Cirebon, dan berbagai wilayah lain. Menghilangkan nyawa anak bangsa dan tokoh pejuang. "Bupati Lebak dihabisi, tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dieksekusi mati bahkan keberadaan jenazahnya menyisakan misteri. Sultan Langkat dibunuh serta hartanya dijarah. Bahkan Gubernur Suryo, tokoh sentral dari peristiwa di Surabaya juga dibunuh PKI."

Ketika tokoh PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil menjadi Perdana Menteri di tahun 1948, arus bawah PKI merasa mempunyai kekuatan. Muso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia, beraliansi komunis. "Dan lebih parah lagi dalam Perjanjian Renville, dengan mudah Amir Syarifuddin menyerahkan begitu banyak kekuasaan pada Belanda dan memasung wilayah Indonesia."


Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit saat berpidato. (Foto: Wikipedia).


Syukri Wahid, penggiat sosial dalam tulisannya di Republika.co.id, 27 September 2017 menyebut PKI adalah pakar pembuat fitnah. Salah satu fitnah PKI adalah tudingan terhadap para jenderal yang berencana menggulingkan pemerintah Presiden Sukarno lewat Dewan Jenderal. Karena itu, para jenderal diculik lalu dibunuh akibat bisikan perwakilan PKI di kabinet kala itu atau via biro khusus PKI.

"PKI ternyata pakarnya pembuat fitnah atau hoaks. Mereka adalah mahaguru di bidang itu. Mereka pakar dalam agitasi dan propaganda," ucap Syukri.

Apalagi, DN Aidit ketua PKI kala itu sudah masuk dalam jajaran kabinet Presiden Sukarno. Tercatat dirinya pernah menjabat sebagai menteri di kabinet Kerja jilid 3 hasil perombakan kabinet kedua dan pada saat peristiwa G30S/PKI, dia terdaftar dalam jajaran kabinet Dwikora 1, karena posisinya sebagai wakil ketua MPRS.

"Angin segar bagi PKI karena politik Bung Karno sejak dekrit presiden tahun 1959, yaitu menampung ajaran komunis dalam konsep Nasakom-nya membuat mereka tumbuh menjadi partai yang kuat. Tak cukup dengan itu, tahun 1960, dengan alasan para tokoh Masyumi dianggap terlibat dalam PRRI, maka Sukarno membubarkan Partai Masyumi yang merupakan rival utama PKI," ucap Syukri.

Sumber : Pusat Data Republika