Sabtu , 30 September 2017, 10:41 WIB

PKI dan Agresi Militer Papua

Red: Karta Raharja Ucu
Simpatisan dan kader Partai Komunis Indonesia.
Dipa Nusantara Aidit

Klaim Aidit: Perjuangan PKI Paling Besar Bebaskan Papua

Di antara alutsista yang didatangkan dari Soviet guna merebut Papua menurut Sibero Tarigan dalam Kisah Heroik Seputar Perjuangan Indonesia Merebut Irian Barat (2014), adalah 41 helikopter MI-4, sembilan helikopter MI-6, 30 jet tempur MiG-15, 49 pesawat buru MiG-17, 10 pesawat buru MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, satu kapal
penjelajah kelas Sverdlov, 22 pesawat pembom Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim, 26 pesawat angkut IL-14 dan AQvia-14, dan enam pesawat angkut berat Antonov An-12B.

Dengan persenjataan tersebut, juga sokongan terus-menerus aksi-aksi massa PKI, Presiden Sukarno akhirnya memerintahkan operasi militer yang digelar pada Desember 1961. Sedangkan TNI, dengan tambahan alutsista terbaru tak menolak perintah.

Operasi dengan sandi Mandala tersebut dipimpin Mayjen Soeharto. Melihat efektifnya Operasi Mandala dan dukungan kuat Blok Timur terhadap operasi itu, Amerika Serikat akhirnya merayu Belanda berunding dan akhirnya menyerahkan Papua ke tangan pengawas internasional dari PBB pada Agustus 1962.

Aidit tak menunda kesempatan menggembar-gemborkan peran PKI dan kaum kiri terkait perebutan Papua. Dalam tulisan untuk Pravda, surat kabar CC Partai Komunis Uni Soviet pada 13 Oktober 1962, ia memuji kesatuan golongan kiri di Tanah Air maupun internasional terkait perebutan Papua Barat.

Terkait perjuangan dalam negeri, Aidit menyatakan bahwa tanpa bantuan nyata kubu sosialis, “Kaum imperialis Belanda dan Amerika Serikat tidak pernah akan dapat dipaksa untuk menyetujui pemasukan Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.”

Sementara untuk dukungan dari luar negeri, Aidit menuliskan, “tak dapat dibayangkan tanpa bantuan yang sungguh-sungguh tidak mementingkan diri dari pihak negeri-negeri Sosialis terutama Uni Soviet. Bantuan tersebut, berupa senjata-senjata termodern dan sokongan moral yang sepenuh-penuhnya amat meninggikan daya tempur angkatan bersenjata Republik Indonesia sehingga menjadi lawan yang sungguh-sungguh ditakuti oleh kaum imperialis.”

Dalam tulisan itu, Aidit juga mengklaim partai menyumbang sukarelawan guna bertempur di Papua. “Berjuta-juta pemuda dan pemudi Indonesia mendaftarkan diri sebagai sukarelawan untuk dikirim ke daerah front Irian Barat guna merintis untuk penancapan kekuasaan Republik Indonesia di Irian Barat,” tulis Aidit mengklaim.

Ia juga mendaku, upaya buruh-buruh dalam organisasi sayap PKI mengambil alih perkebunan, pabrik, dan tambang yang dikuasai perusahaan Belanda pada Desember 1957 satu rangkaian dalam upaya perebutan Papua. Pola pikir Aidit dan propagandanya sama sekali tak memberikan tempat bagi kemungkinan bagi Papua menjadi negara merdeka. Tuntutan kemerdekaan Papua yang sudah disuarakan sejumlah anasir di Papua saat itu dipandang Aidit sebagai cara-cara “memelihara imperialisme Belanda di Irian Barat dengan meminjam tangan-tangan pribumi.”

Mantra soal peran besar PKI dalam perebutan Papua juga berulang kali dirapalkan Aidit. “Perjuangan gagah berani daripada rakyat dan anggota-anggota partai kita telah menyebabkan bebasnya Irian Barat dan dicabutnya SOB yang terkutuk itu,” kata Aidit dalam pidatonya dalam sidang pleno CC PKI pada 25 Desember 1963.

Sejarah kemudian mencatat, setelah upaya kup gagal pada 1965 dan pembubaran PKI yang menyusul, justru pihak-pihak di seberang PKI yang menangguk untung dari perebutan Papua yang diklaim atas jasa partai tersebut. Amerika Serikat, sang Setan Besar di mata PKI, berhasil memeroleh izin pengelolaan tambang di Mimika yang mengalirkan keuntungan berlipat-lipat selama sekian puluh tahun ke negeri Paman Sam, juga ke pundi-pundi pemerintahan Orde Baru.

Pengerukan sumber daya yang hingga saat ini masih terus menggoreskan luka di Tanah Papua barangkali bakal tetap terjadi, bagaimanapun. Tapi apa mau dikata, sudah telanjur tercatat dalam sejarah bahwa sokongan masif PKI terhadap agresi militer pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an yang jadi salah satu pembuka nelangsa tersebut.

Berita Terkait