Sabtu , 30 September 2017, 09:03 WIB
Pengkhianatan G30S/PKI

Benarkah DN Aidit Keturunan Rasulullah?

Red: Karta Raharja Ucu
Youtube
Film G30 S PKI (ilustrasi)
Film G30 S PKI (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdullah Sammy, wartawan Republika

Usia Abdul Rachman baru delapan tahun ketika peristiwa 30 September 1965 meletus di Ibu Kota Jakarta. Namun, Abdul Rachman mengingat betul bagaimana mencekamnya suasana setelah peristiwa yang disebut didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI) itu.

Ketika dijumpai Republika.co.id di kediamannya di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan, dua tahun lalu, Abdul Rachman bercerita soal kaitan dirinya serta keluarga dengan peristiwa berdarah itu. Selepas meminum air mineral yang tersaji di atas meja, ingatan Abdul Rachman menerawang pada peristiwa yang sudah berlalu lebih dari lima dekade tersebut itu.

Saat itu, huru-hara pecah di mana-mana, kata Abdul Rachman memulai cerita. Abdul Rachman kecil yang tinggal di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dilanda kepanikan. Sebab, rumahnya tak begitu jauh dari kantor PKI.

Diakui Abdul Rachman, dia dan keluarga bukanlah pendukung PKI. Sebaliknya, dia berasal dari keluarga Islam taat yang justru kerap mendapat teror dari partai berlambang palu arit itu. "Kami ini anti-PKI!" ucapnya dengan nada suara sedikit meninggi, Rabu, 25 November 2015.

Namun, ada satu hal yang membuatnya seakan-akan terkait dengan PKI. Ini karena nama belakangnya yang memakai label Aidit. Nama belakang Abdul Rachman identik dengan pemimpin PKI, Dipa Nusantara (DN) Aidit alias Achmad Aidit. Dialah manusia yang saat itu paling dicari seantero Indonesia usai meletusnya peristiwa 30 September 1965.

"Sebenarnya, nama saya Abdul Rachman Aidid. Tapi ditulisnya Aidit. Ini soal penyebutan saja," ucapnya seraya menekankan penyebutan Aidid memakai huruf 'D' di akhir kata, bukan huruf 'T'.

Tidak hanya Abdul Rachman, satu keluarganya pun memiliki nama belakang yang sama, Aidit. Kesamaan nama itu yang akhirnya membuat hidup Abdul Rachman dihantui ketakutan sejak 30 September 1965.

Pria berdarah Timur Tengah ini lantas menjelaskan nama Aidit atau Aidid yang dia sandang sejatinya merupakan sebuah marga yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Tidak hanya Abdul Rachman dan keluarganya yang menyandang nama marga itu, tetapi ribuan Aidit lain tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

"Marga Aidit itu banyak di Sumatra dan Kalimantan. Jumlahnya mungkin ada ribuan," kata Abdul Rachman menjelaskan.

Menyandang nama Aidit membuat keluarga Abdul Rachman seperti berada di waktu dan tempat yang salah pada 1965. Alhasil mulai dari 30 September 1965 itu, keluarganya pun memutuskan untuk menghapus nama marga di setiap dokumen kependudukan yang mereka buat.

"Kami takut disangka punya kaitan dengan DN Aidit. Karena itu, nama marga Aidit tidak dicantumkan di ijazah atau dokumen-dokumen lain," kata Abdul Rachman.

Sumber : Pusat Data Republika