Jumat , 29 September 2017, 02:15 WIB
Pengkhianatan G30S/PKI

Bohongi Rakyat, PKI Itu Partai Kiai Indonesia

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Agus Yulianto
Sejarawan Ridwan Saidi
Budayawan Betawi Ridwan Saidi menjadi pembicara dalam acara bedah buku dan diskusi di Jakarta, Rabu (26/10).

Peristiwa terparah

Lalu, Ridwan menceritakan beberapa hal yang ia ingat tentang tindak tanduk PKI saat itu. Ia mengingat beberapa hal yang menurutnya paling parah yang pernah dilakukan oleh PKI terhadap lawan-lawannya yang tak sepaham.

Pada saat itu, kata dia, PKI menguasai Serikat Buruh Kereta Api (SBKA). Mereka kemudian mengganggu perjalanan kereta api yang sudah penuh sesak dengan penumpang di dalamnya. Menurut Ridwan, dari Jakarta menuju Cirebon bisa ditempuh hingga 11 jam karena gangguan itu.

"Macam-macam (ganggunya) banyak berhentinya kereta itu. Bagaimana tiba-tiba ada bendera merah, kan kalau begitu berhenti kereta," tutur dia.

Menurut dia, saat itu perjalanan menggunakan kereta tak ada yang nyaman. Walaupun memang saat itu keadaan kereta api tak senyaman sekarang, apa yang ada dipikiran masyarakat saat itu adalah yang penting sampai ke tempat tujuan terlebih dahulu.

"Kalau misalnya sesek sih udah lah ye kita alamin jongkok juga susah, apalagi diri. Tapi persoalannya itu lambat karena berhenti terus dan kita tidak mengerti kenapa berhenti," ungkap dia sembari meminum kopinya.

Selain buruh kereta api, menurut dia, buruh-buruh pelabuhan juga sering dikerahkan untuk mogok kerja oleh PKI. Sehingga, angkutan barang itu sering terlambat di pelabuhan. Akibatnya, ekonomi mengalami kelumpuhan saat itu.

"Ekonomi dilumpuhkan juga saat itu. Tahun itu mulai aksi tahun 61 sampai 65. Tahun itu mereka gencar-gencarnya melakukan aksi sampai akhirnya digulung sama rakyat," kata Ridwan.

Ridwan juga mengalami langsung penyabotasean kegiatan dakwah oleh PKI. Kala itu, tahun 1964 ia mengikuti kegiatan Isra Miraj di daerah Pademangan, Jakarta Utara. Acara yang seharusnya mulai jam delapan malam, mundur hingga pukul setengah satu malam.

"Mereka mengerahkan masa dan menuntut pidato saat itu. Banyak mereka mengaku RT, RW, atau apa dulu RK segala macam bergantian pidato dari jam delapan sampai setengah satu die borong," kata dia.

Akibatnya, ketika itu tidak ada yang bisa berpidato. Tapi, Ridwan bersama dengan Mayor Yunan Hilmi Nasution dari Pusat Rohani Angkatan Darat tetap melakukan kegiatan tersebut. Keduanya berjanji saat itu untuk bertahan karena umat sudah bubar.

"Kata Pak Yunan ke saya, 'kita jangan bubar, kita bertahan di sini. Nanti, ketika giliran saudara pidato saya yang dengar tidak apa-apa. Giliran saya yang pidato, saudara yang dengar'. Itu terjadi," jelas Ridwan.

Benar saja, mereka berdua bertahan hingga acara selesai dan berpidato. Kemudian acara selesai pukul 01.30 WIB. Ridwan bersama temannya kembali ke rumahnya di bilangan Sawah Besar menggunakan becak.

Di lain waktu masih pada era mencekam itu, di daerah perkampungan rumahnya, disebarkan selebaran berisi daftar orang-orang yang harus dipotong lehernya. Ayahanda Ridwan menjadi salah satu orang yang ada di dalam daftar tersebut.

"Mereka mengedarkan selebaran di kampung masing-masing yang isinya orang-orang yang mesti dipotong. Termasuk bapak saya. Iya (karena musuh tidak sepaham). Itu teror dia," ujar Ridwan.

Soal fitnah yang paling besar oleh PKI, menurut Ridwan, adalah fitnah yang dialami oleh Buya Hamka, Ghazali Sahlan, dan Dahlari Umar. Mereka bertiga menghadiri acara khitanan di Mauk, Tangerang. Acara khitanan anak dari salah satu tokoh Masyumi di Mauk bernama Ismaun.

"Lantas PKI melaporkan di sana itu diadakan rapat gelap. Padahal menghadiri khitanan. Ditangkap mereka itu dan baru keluar tahun 1966," kata dia.

Kala itu, Ridwan sempat membesuk salah satu tahanan, yaitu Ghazali Sahlan. Saat itu Ridwan diajak oleh anak Ghazali Sahlan setelah mendapatkan surat dari sang bapak. Ridwan pun melihat suratnya langsung dan melihat kondisi Ghazali Sahlan di penjara.

"Ghazali Sahlan mulutnya disetrum. Selama enam bulan dia cuma makan tetesan air pisang ambon saat ditahan oleh PKI, ya kita anggap PKI-lah. Rezim waktu itu kan dikuasai PKI," tutur Ridwan.

PKI bangkit, lawan!

"Itulah PKI seperti itu. Mau lagi dikembalikan yang seperti itu sekarang?" kata Ridwan cukup sering di tiap akhir ceritanya tentang apa yang dilakukan PKI saat itu.

Mengenai isu kebangkitan PKI yang merebak saat ini, ia hanya mengatakan satu kata kepada Republika.co.id, yaitu "Lawan" tadi. Menurutnya, tidak perlu ada omongan macam-macam.

"Dalam bentuk apa pun, tergantung dia mau main cara apa, kita hadapi. Dulu saja kita lawan, sekarang apalagi?" kata dia.

Ridwan mengatakan, janganlah PKI bermimpi untuk bangkit lagi. Menurutnya, upaya pelurusan sejarah tak perlu dilakukan karena ketika itu, kedua belah pihak antara PKI dan non-PKI kondisinya sedang berperang.

"Ini kan perang, dia kalah ya udah dong nyerah nggak usah diomongin lagi. Terang saja dong, bentrokan ada korban," ungkap Ridwan.

Ia juga mengatakan, pelarangan organisasi PKI merupakan konsekuensi terhadap apa yang telah mereka lakukan sebelum-sebelumnya, bukan di tahun 1965 saja. Seperti di tahun 1948, aksi pembantaian pada pemberontakan Madiun.

Menurut Ridwan, korbannya bukan saja ulama, tetapi juga yang lain, seperti orang tua Sri Bintang Pamungkas. "Dia nggak hitung korban dari pihak kite? ya kan? Saya nggak tertarik ngomongin ini. Jangan sok jago dong kalau nggak mau ada korban," terang Ridwan.