Selasa , 12 September 2017, 13:24 WIB
Saracen dan Perang Asimetris

Menelusuri Pola Proxy War dan Perang Asimetris dalam Kasus Saracen

Red: Karta Raharja Ucu
Ilustrasi Peperangan bangsa Filistin dengan Israel
Ilustrasi Peperangan

Proxy War Berperang dengan Menggunakan Pihak Ketiga

Perang asimeteris sepertinya memang menjadi gaya baru dalam era sekarang. Seperti diungkapkan pengamat pertahanan, Yono Reksodiprojo.

Ia menyebut, perang proxy begitu nyata di dunia. "Tendensi perang saat ini harus singkat, terselubung, dan melumpuhkan," ujar Yono dalam diksusi 'Menangkis Ancaman Proxy War' di Jakarta. (Republika, Ahad 20 Desember 2015).

Yono menjelaskan, dunia saat ini telah memasuki empat tahap dalam perang. Tahapan pertama perang berbaris, kedua perang dengan kekuatan masif, perang ketiga mulai menyentuh telekomunikasi sebagai senjata, dan di generasi keempat memasuki perang asimetris.

"Perang asimetris tidak menunjukkan secara pasti siapa korban, siapa penyerang, dan siapa yang diserang," kata dia.

Perang asimetris, kata dia menjelaskan, lebih pada nonkekerasan. Dalam konteks perang asimetris, perang proxy menjadi ancaman yang paling dekat. Dengan perang proxy, pihak yang bertikai tidak secara langsung beradu, tapi menggunakan pihak ketiga atau perantara.

Ikut berperannya Amerika Serikat secara tidak langsung dalam perang saudara di Suriah melalui aktor proxy, seperti Alqaidah dan ISIS, menjadi contoh nyata. Sebagai proxy terkadang dengan sadar sedang digunakan, tapi ada pula yang tanpa sadar bahwa dia proxy dalam sesuatu.

Menurut Yono, perang proxy saat ini merupakan perang teknologi. Internet merupakan senjata berperang dalam masa modern yang tanpa sadar orang-orang menggunakannya.

"Jaringan internet itu sebuah jaringan yang dibuat oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat," ujarnya.

Lebih jauh ia berujar soal perang proxy. Dalam masa Perang Dingin, Amerika menciptakan internet sebagai strategi perang untuk melawan Uni Soviet. Hanya, semenjak itu internet makin berkembang, termasuk dibawa ke Indonesia untuk dimanfaatkan dalam berkomunikasi.

Semakin sering internet digunakan dalam berkomunikasi, peperangan modern sedang berlangsung tanpa diketahui. Perang informasi menjadi perang asimetri yang berada di depan mata untuk dihadapi masyarakat. "Mereka tenang-tenang aja, nggak kerasa, padahal kita sedang tembak-tembakan dalam intenet," kata pengajar Universitas Pertahanan Indonesia.

Lalu bagaimana agar Indonesia bisa terhindar dari korban proxy dalam perang modern. Yono berpendapat peran jurnalistik menjadi penting. Bentuk pertahanan dari aparat kemananan bukan lagi yang terpenting.