Selasa , 12 September 2017, 13:24 WIB
Saracen dan Perang Asimetris

Menelusuri Pola Proxy War dan Perang Asimetris dalam Kasus Saracen

Red: Karta Raharja Ucu
Google
Ilustrasi Peperangan bangsa Filistin dengan Israel
Ilustrasi Peperangan bangsa Filistin dengan Israel

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Saracen. Istilah yang langsung populer pascapenangkapan sekelompok orang yang diketahui memiliki bisnis jasa menyebarkan kebencian dan berita hoaks di media sosial. Pengamat geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit, menilai, ada pola perang asimetris pada penggiringan isu pada kasus Saracen. Ia mencium ada upaya mendiskreditkan umat Islam melalui penangkapan kelompok Saracen tersebut.

Menurut pengarang buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru itu, perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara nonmiliter. Namun, daya hancurnya tidak kalah, atau bahkan dampaknya lebih dahsyat, daripada perang militer.

"Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan, yaitu geografis, demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan," kata Hendrajit menerangkan kepada Republika.co.id, Senin (4/9).

Dalam perang asimetris itu terdapat suatu pola, di mana kita bisa mengetahui apakah itu perang asimetris atau bukan. Hendrajit mengemukakan, jika dilihat dari polanya, ada tiga tahapan dalam perang asimetris.

Pertama, menebar sebuah isu. Setelah berhasil, ditingkatkan menjadi sebuah tema atau agenda. Jika berhasil lagi, barulah skema yang sebetulnya keluar.

Baca Juga: Perang Salib, Saracen, dan Kebencian Tentara Kristen kepada Islam

 Ia memberi contoh, ditebarlah sebuah isu yang mengatakan harga cabai meroket. Isu itu ditebar untuk mengecek reaksi masyarakat terlebih dahulu. Begitu masyarakat resah, ditingkatkan ke tema atau agenda.

Dalam penyebaran informasi itu disebut, Indonesia mengalami kelangkaan ketersediaan cabai. Barulah setelah masyarakat menerima informasi kelangkaan cabai itu, skema aslinya dimunculkan.

"'Yah gimana dong, kalau gini kita harus impor'. Gitu kan. Ujung-ujungnya kelihatan tujuannya itu mengimpor. Barulah perusahaan asing masuk, menjajah ekonomi kita di bidang pertanian. Nah, itu contohnya," kata Hendrajit menjabarkan.

Pada kasus Saracen ini, menurut dia, maunya memang menuju ke sana. Dalam artian, penggiringan isu, Islam ini punya niat yang tidak bagus, ingin makar, ingin membangun kebencian, atau intinya yang antipemerintah itu adalah Islam.

"Cuma, dalam prakteknya sebagai operasi intelijen, banyak juga yang mengatakan itu menandakan kalau rencananya tidak matang. Justru menelanjangi dirinya sendiri," jelas dia.

Direktur Global Future Institute ini menyebutkan, dalam operasi intelijen, jangan sampai orang mengetahui kalau hal yang direkayasa itu merupakan hasil rekayasa. Kalau masyarakat atau orang sudah menduga hal itu rekayasa, maka rencana tersebut telah gagal.

"Padahal, dalam operasi intelijen, harus membikin kesan yang logis itu tak masuk akal. Operasi intelijen itu abu-abu. Tapi, Saracen ini terlalu jelas dan terlalu ilmiah lah karena kelihatan untuk mencemarkan Islam," terang Hendrajit.

Jika rencana Saracen ini gagal, ia berani bertaruh pasti Saracen yang baru sedang disiapkan. Bisa jadi, kelompok tersebut lebih canggih atau mungkin lebih konyol daripada itu.

"Paling tidak, pasti ada langkah-langkah lain yang disiapkan. Itu yang harus dicermati. Buka mata dan telinga. Saracen, grand design-nya memang salah satu tahapan dari perang asimetris maunya. Tapi, eksekusinya yang amburadul," kata dia.

 

Baca Juga: Menelusuri Pola Proxy War dan Perang Asimetris dalam Kasus Saracen