Selasa , 12 September 2017, 09:29 WIB
Saracen dan Perang Asimetris

Saracen dalam Pusaran Sejarah Pembebasan Baitul Maqdis

Red: Karta Raharja Ucu
Screenshoot
Perang Salib (Ilustrasi)
Perang Salib (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Beberapa pekan terakhir rakyat Indonesia digegerkan dengan tertangkapnya kelompok yang mengkomoditaskan ujaran kebencian atau lebih populer dengan sebutan hate speech. Bisnis kelompok ini bukan saja bisa disebut ilegal, tapi juga merusak serta membahayakan keutuhan NKRI, menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mendapatkan segepok rupiah, kelompok yang menyebut dirinya sebagai Saracen itu menjual jasa yang tidak biasa, yakni menyebar fitnah dan kabar bohong alias hoaks.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, mengaku terkaget-kaget dengan kejahatan yang dilakukan sindikat tersebut. Saat berbincang dengan Republika.co.id, ia menyampaikan pendapatnya.

Adrianus menyebut, kejahatan tersebut merupakan suatu kemajuan dalam bidang modus kejahatan. "Terus terang saya dari pagi itu terbengong-bengong, kok bisa ya Indonesia begini. (Modus ini) memang terlalu advance ini," ujar Adrianus.

Kali ini, yang akan dibahas bukanlah perihal tindakan kriminal tersebut. Melainkan nama kelompok itu, mereka menamakan dirinya Saracen. Nama yang diambil dari sejarah Perang Salib.

Di kalangan pecinta sejarah, nama Saracen mungkin tidak asing. Sebab, nama itu sudah populer sejak abad pertengahan, tepatnya pada Perang Salib I. Tentara salib dari pihak Kristen saat itu menyebut tentara-tentara Muslim sebagai Saracen.

Perang Salib, atau Cursades, berlangsung selama kurang lebih dua abad lamanya, mulai dari 1096 Masehi hingga 1272 Masehi. Pertarungan antara pasukan salib (Kristen) dengan pasukan Muslim. Pertempuran yang memakan banyak korban jiwa itu memperebutkan Baitul Maqdis atau tanah suci di Palestina.

Kompleks Baitul Maqdis.

"Orang-orang Kristen ketika itu sangat berkepentingan untuk merebut kembali supremasi mereka atas kawasan yang prestisius tadi, yaitu Baitul Maqdis," ujar seorang sejarawan Islam, Tiar Anwar saat berbincang dengan Republika.co.id di Jakarta, Ahad (3/9) kemarin.

Tiar berkata, barang siapa yang bisa menaklukkan Baitul Maqdis, berarti ia sudah menaklukkan kawasan di sekitarnya. Negeri Syam yang saat ini pecah menjadi Syria, Libanon, dan Yordania, serta Afrika Utara, Mesir, Arab, bisa langsung ditaklukkan dengan hanya merebut Baitul Maqdis itu. Pasalnya, Baitul Maqdis disebut-sebut sebagai jantungnya Jazirah Arab dan Negeri Syam. Sehingga, pihak yang mampu menaklukan daerah tersebut, sudah menggenggam jantungnya dunia.

"Secara strategis, itu merupakan pusat dari persilangan bangsa-bangsa di dunia. Maka kemudian orang-orang Romawi yang berkuasa di sana sebelum zaman Rasulullah berkepentingan untuk mengambil alih Baitul Maqdis," tutur dia.

Setelah tentara salib berhasil masuk ke wilayah tersebut, lanjut Tiar, terjadilah kemudian yang namanya pembunuhan sangat luar biasa terhadap umat Islam di sana. Selama sekitar 90 tahun, umat Muslim dibantai dengan sangat keji dan hampir tiap hari dilakukan pembunuhan. Sebelum akhirnya kembali dimenangkan tentara Muslim melalui kurang lebih sembilan kali Perang Salib.

Pada saat perang itulah kemudian nama Saracen muncul. Berdasarkan Oxford Dictionaries, terdapat dua makna dari kata Saracen. Pertama, berarti orang Arab atau Muslim, khususnya pada saat terjadinya Perang Salib. Pengertian kedua, seorang pengembara gurun Suriah dan Arab pada masa Kekaisaran Romawi.

Di kamus itu juga disebutkan, kata Saracen berasal dari zaman pertengahan Inggris. Berasal dari bahasa Prancis kuno, yaitu Sarazzin. Sarrazin kemudian diambil dari bahasa Yunani, sarakenos, yang diduga berakar dari bahasa Arab, syarqiyyin, yang berarti orang-orang Timur.

Pada sumber yang lain, John V. Tolan menyebutkan, dalam bukunya berjudul Saracens: Islam in the Medieval European Imagination, dalam teks latin terdahulu Saracen dideskripsikan sebagai orang Arab yang menyembah bebatuan atau berhala. Masih dalam buku yang sama, Tolan menuliskan, penggambaran penyembahan berhala oleh Saracen tersebut tumbuh dari upaya propaganda. Propaganda untuk membenarkan dan mengagungkan tindakan-tindakan dari Perang Salib pertama dan kedua.