Jumat , 01 September 2017, 11:07 WIB

Jamaah Haji Indonesia Gelorakan Perlawanan Umat Islam Terhadap Penjajah Belanda

Red: Karta Raharja Ucu
suasana Makkah di masa puncak musim haji tempo dulu
Jamaah haji tempo dulu menggunakan angkutan kapal laut (ilustrasi).

Jalan Panjang Jamaah Haji Indonesia

H Aqib Suminto dalam buku Politik Islam Hindia Belanda menuturkan, perkembangan hubungan dengan Timur Tengah dan semakin banyaknya jumlah haji setelah menggunakan kapal uap memengaruhi perkembangan di Indonesia. Hal inilah yang membuat Belanda menempatkan konsulnya di Jeddah dan kemudian menjadi Kedutaan.

Apalagi, saat itu tokoh-tokoh pergerakan yang menunaikan ibadah haji dianggap melakukan pemurnian Islam. Timbullah reformasi kelompok yang ingin meremajakan Kehidupan Islam di Nusantara.

Seperti tercatat dalam berbagai buku sejarah Islam, sampai akhir abad ke-19 banyak terjadi perlawanan umat Islam terhadap penjajah. Misalnya, kegaduhan di desa-desa sering dilakukan para ulama yang banyak di antaranya adalah haji.

Belanda melihat kegaduhan ini dengan mempertimbangkan kepentingan kekuasaannya di Indonesia, sehingga mereka menganggap para haji sebagai orang-orang fanatik dan pemberontakan. Sejak lama, masyarakat Belanda di Indonesia takut terhadap tarekat yang berkembang di Indonesia dan dibawa oleh para haji. Apalagi, pada akhir abad ke-19, menurut Suminto, mukimin Indonesia termasuk yang jumlahnya besar dan banyak di Tanah Suci.

Kekhawatiran semacam ini tampak jelas pada peristiwa Cianjur (1883), Cilegon (1888), dan Garut (1919). Dalam peristiwa pemberontakan Garut, Sarikat Islam yang baru diresmikan HOS Tjokroaminoto yang baru saja diresmikan dituduh terlibat.

Pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda juga terjadi di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Pemberontakan di Tangerang dipelopori sejumlah tokoh di Desa Pangkalan Tangerang. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan "Allahu Akbar".
                          
Mr Hamid Algaderi dalam buku Peran Keturunan Arab di Indonesia menyebutkan kalau gerakan tarekat merupakan bahaya yang berasal dari Gerakan Pan Islam. Gerakan itu dianggap bahaya dari luar. Kala itu, banyak keturunan Arab di Indonesia yang meneruskan gerakan Pan Islam, seperti tokoh-tokoh Said Jamaluddin Afghani, Syekh Muhammadd Abduh, dan Sayid Rayid Ridha.