Sabtu , 19 Agustus 2017, 09:09 WIB
HUT Bung Hatta

Menguak Alasan di Balik Pecahnya Dwitunggal Soekarno-Hatta

Red: Karta Raharja Ucu
IST
Sukarno dan Mohammad Hatta
Sukarno dan Mohammad Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasanul Rizqa, Wartawan Republika.co.id

Sukarno dan Mohammad Hatta dikenal sebagai dwitunggal. Peran dalam dwitunggal tersebut disebut sebagai penyeimbang Sukarno. Prof Taufik Abdullah, sejarawan senior berambut putih dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya pendapat sendiri ketika Republika.co.id memberikan pertanyaan peran Hatta sebagai penyeimbang Sukarno.

"Kalau dari kalangan tokoh-tokoh, memang melihat itu. Kalau rakyat kan tidak melihat itu. Bahwa Sukarno harus didampingi Bung Hatta," ucap Taufik.

Ia berkata, Bung Hatta sudah terlatih di Eropa. Karena Hatta merantau ke Benua Biru selama 11 tahun. "Jadi, tahu seperti apa politik yang demokrasi itu. Bung Karno terlatih dengan rakyat-rakyat biasa dan juga kemampuan orasinya. Jadi, waktu itu sudah Sukarno tampil ke depan, sedangkan Hatta sebagai pemikir,"

Ketika ditanya mengapa dwitunggal ini pecah? Pria berusia 81 tahun ini menjelaskan, "Sukarno mengatakan diri panglima tertinggi. Dalam sistem demokrasi dan menurut UUD Sementara 1950, sistem kita parlementer. Presiden hanya kepala negara, sedangkan kepala pemerintahan adalah perdana menteri. Nah, Bung Karno sering campur-campur."

"Dulu, Bung Karno akrab dengan Natsir. Padahal, Bung Karno pernah berdebat hebat dengan Natsir. Tapi, waktu negara kesatuan berdiri, Sukarno langsung ambil Natsir sebagai perdana menteri."

"Saya heran. Saya sempat bertanya langsung kepada Bung Hatta, 'Pak, itu kan Bung Karno dengan Natsir dulu berdebat hebat. Kok waktu negara kesatuan, mengapa Bung Karno ambil Natsir?' Saya ingin perspektif tinjauan politik."

"Dan, apa jawab Bung Hatta? 'Ah, Natsir itu anak kesayangan Sukarno.' Kaget saya. Nah, dua-tiga pekan kemudian, saya bertemu Pak Natsir. 'Pak, kata Bung Hatta, dulu Bapak kesayangan Bung Karno, ya?'. Tertawalah Pak Natsir. 'Iya, karena dulu akrab waktu zaman Revolusi'," kata Taufik merawikan sembari tertawa.

Pecahnya Sukarno dengan Natsir, menurut Taufik ketika Natsir menjadi perdana menteri. Masalah di Irian menjadi penyebabnya.

"Itu penyerahan Irian Barat ternyata diundur. Kabinet melaporkan kepada Bung Karno. Dan Bung Karno mencak-mencak, 'Itu harus. Kalau tidak, putus saja hubungan dengan Belanda.' Natsir kemudian mengatakan, 'Bung, dalam konstelasi kita, yang menentukan bukan presiden, melainkan kabinet.' Bung Karno kaget. Barulah setelah itu Sukarno-Natsir merenggang," papar dia.

Pecah Bung Karno dengan Bung Hatta menurut Taufik juga karena masalah serupa. Karena, Bung Karno ikut campur pula di kabinet-kabinet. Bung Hatta menegurlah. Tidak bisa, bertengkar pula. Akhirnya, Bung Hatta meletakkan jabatan.

"Waktu kabinet Ali Sastroamidjojo setelah Pemilu 1955 jatuh, Bung Karno membentuk kabinet. Istilahnya Bung Karno, menunjuk seorang warga negara yang bernama Sukarno menjadi formatur kabinet. Nah, bagi Bung Hatta, ini tak bisa. Jadi, daripada bertengkar, lebih baik Bung Hatta meletakkan jabatan."