Sabtu , 19 August 2017, 08:11 WIB
HUT Bung Hatta

Menyelami Kehidupan Mohammad Hatta yang Idealis

Red: Karta Raharja Ucu
Bung Hatta
Sejarawan Taufik Abdullah

Bagaimana kisah Bung Hatta di Jakarta?
Bung Hatta sekolah di PHS (Prins Hendrik School–Red). Itu setingkat SMA sekarang. Dia sudah banyak baca buku-buku yang penting. Waktu itu, Bung Hatta sudah kenal baik dengan antara lain Haji Agus Salim, yang sudah memimpin Sarekat Islam. Sering pula Haji Agus Salim dan Bung Hatta berdiskusi.

Di Jakarta Bung Hatta ikut pula menulis dalam majalah Jong Sumatranen Bond. Bahkan, Bung Hatta sempat pula menulis sajak. Satu-dua syair, tentang keindahan alam Indonesia.

Bung Hatta juga ikut dengan perkumpulan teosofi. Itu tentang kemanusiaan dan persaudaraan. Tapi, setelah dua atau tiga bulan, dia sadar. Teosofi kan tentang kemanusiaan, tentang bagaimana kita manusia bersaudara. Jadi, Bung Hatta waktu itu sudah merasa selesai. Satu yang diambil Bung Hatta bahwa harga diri kita sama saja dengan orang Belanda.

Hanya, sampai suatu saat-saat tertentu, Bung Hatta sadar, eh kok “lain”. Agak mirip-mirip ke agama. Makanya, dia meninggalkan. Banyak orang-orang Minang yang keluar dari teosofi. Karena heran, kesadaran kemanusiaan kok mengingkari Yang Mahakuasa.
 
Apa yang membuat Bung Hatta tertarik dengan sosialisme?
Bung Hatta adalah satu-satunya tokoh nasional kita yang mendalami teori-teori besar. Dialah satu-satunya tokoh kita yang menulis buku tentang teori dari Max Weber, teori dari Werner Sombart, dan teori dari Karl Marx.

Bung Karno, misalnya, beliau mengambil teori-teori besar, lantas berpidato. Namun, Bung Hatta menulis. Karena, Bung Hatta juga seorang guru sehingga dia menulis text books.

Saat masih di Jakarta sudah dia pelajari pula itu. Pamannya orang kaya sehingga Bung Hatta banyak dibelikan buku-buku. (Taufik kembali tertawa). Haji Agus Salim sampai mengatakan, "Kok kamu sudah bisa beli buku-buku hebat?"

Di Belanda. Di samping bersekolah, dia juga berorganisasi. Dia sudah ikut dengan pergerakan pemuda-pemuda. Karena—jangan lupa—ketika Bung Hatta di sana, itu sewaktu yang genting juga di Eropa. Baru usai Perang Dunia I.

Nah, setelah Perang Dunia I, itu orang-orang mulai melihat apa-apa sebab Perang Dunia I. Itu antara lain karena kapitalisme sudah terlalu dominan. Jadi, ada tuntutan rasa keadilan. Nah, ajaran pertama daripada sosialisme adalah pada masalah keadilan.

Karena itulah, Bung Hatta melihat adanya kesamaan. “Ah, kalau begitu, sama dengan kampung saya.” Dia selalu membuat perbandingan dengan kampungnya. Jadi, sistem di kampung Sumatra Barat juga seperti sosialisme. Bung Hatta memikirkan sosialisme desa. Karena itu, dia melihat lebih luas. “Bagaimana kalau konteksnya negara?”

Nah, keberatan Bung Hatta pada ini, “Eh, kok sosialisme memaksakan? Kok tidak peduli dengan agama?” Padahal, Bung Hatta keturunan ulama besar. Bung Hatta memikirkan sosialisme desa. Karena itu, dia melihat lebih luas. Bung Hatta kan orang Islam. Itu kan ada zakat dan segala macam. Nah, bagaimana dalam konteks negara modern yang bersifat orangnya campur-aduk. Jadi, di samping yang bersifat agama, yang bersifat kenegaraan bagaimana? Dia sudah bisa membedakan dan mempelajari itu.

Berita Terkait