Sabtu , 19 August 2017, 08:11 WIB
HUT Bung Hatta

Menyelami Kehidupan Mohammad Hatta yang Idealis

Red: Karta Raharja Ucu
Bung Hatta
Bung Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, “Saya selalu bersemangat membahas sejarah Bung Hatta, pemikirannya,” kata Prof Taufik Abdullah, sejarawan senior berambut putih dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada wartawan Republika.co.id, Hasanul Rizqa di ruang kerjanya, Selasa (25/7) siang.

Kantor mantan kepala LIPI itu ada di perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI. Pintu kantornya setengah terbuka. Taufik hanya ditemani buku di ruangan itu. Tampak meja kerjanya penuh dengan buku dan beberapa makalah. Ia sedang membaca buku

Peraih gelar doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, itu rupanya satu kampung dengan Mohammad Hatta alias Bung Hatta. Sama-sama urang Bukittinggi. Taufik juga pernah mengepalai proyek besar buku pemikiran Bung Hatta, Karya Lengkap Bung Hatta, yang diterbitkan oleh LP3ES.

Bagaimana potret pemikiran Bung Hatta dalam kajian Prof Taufik Abdullah? Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan latar belakang yang membentuk Bung Hatta?
Saya cerita dulu, ya. Bung Hatta dilahirkan tahun 1902 di Bukittinggi. Waktu dia usia enam tahun, ayahnya meninggal. Dan dia adalah cucu seorang ulama besar di Sumatra Barat abad ke-19.

Kisah ini penting sekali. Waktu dia umur enam tahun, dia melihat tentara Belanda dan banyak orang-orang Minang yang digiring, dirantai. Nah, salah seorang Minang yang dirantai itu melambaikan tangannya. Dan itu adalah teman pamannya Bung Hatta.

Apa yang terjadi? Pada 1908, ada pemberontakan di beberapa tempat di Sumatra Barat. Waktu itu Belanda sudah mengharuskan orang Sumbar untuk membayar pajak. Padahal, Sumbar adalah satu-satunya daerah di wilayah Hindia Belanda yang tidak membayar pajak.

Dahulu, pada waktu Perang Padri, Belanda mengatakan, "Kami ke sini hanya untuk berdagang, tidak untuk memerintah." Tetapi, orang harus jual kopi kepada Belanda. Jadi, Belanda memonopoli kopi.

Namun, sejak tahun 1864 itu —berdasarkan riset-riset yang saya pelajari— itu produksi kopi terus-menerus turun. Orang sibuk dengan tanaman lain atau selain kopi. Nah, sehingga Belanda sejak awal abad ke-20 sudah mengatakan bahwa orang harus membayar pajak. Mereka menolak. Akhirnya pada tahun 1908 Belanda memaksakan itu.

Maka, terjadilah perang di mana-mana di Sumbar. Salah satu yang terbesar adalah Perang Kamang, lalu ada Perang Manggopoh dan juga perang di Lintau Buo. Ini peristiwa yang Bung Hatta tidak lupakan.

Cerita berikutnya: Pada 1901, sudah terbit majalah di Padang dalam bahasa Indonesia, bahasa Melayu, namanya Insulinde. Itu majalah terbit sampai tahun 1904. Pesan majalah itu boleh dikatakan hanya satu, yakni supaya masyarakat memasuki “dunia maju”.

Orang-orang karenanya harus bersekolah. Nah, pada waktu itu juga, dari Belanda sudah ada surat kabar masuk berbahasa Melayu yang dipimpin oleh Abdoel Rivai, dokter dan orang Minang juga. Dr Rivai juga mengimbau supaya orang masuk ke dunia maju.

Jadi, begitulah suasananya memasuki "dunia maju". Itulah bagian dari latar belakangnya Bung Hatta (sewaktu masih kanak-kanak–Red). Soal lain lagi, belakangan setelah dewasa memang Bung Hatta kurang begitu cocok dengan Rivai. (Taufik tertawa).

Nah, di Bukittinggi Bung Hatta bersekolah. Dia belajar bahasa Belanda dan Prancis dengan seorang Belanda yang pegawai pos. Dia kemudian pindah ke Padang untuk sekolah MULO. Di sanalah Bung Hatta sudah aktif berorganisasi, di Jong Sumatranen Bond.

Pada waktu itu di Padang telah terjadi konflik antara kaum muda dan kaum tua. Konflik pertama adalah antara orang-orang pendatang dari pedalaman yang masuk ke Padang. Konflik itu untuk mengembalikan Padang ke dalam adat Minangkabau lagi. Itulah yang disebut oleh orang Belanda sebagai revolusi adat.

Intinya, adat bangsawan. Adapun sebaliknya, di pedalaman tidak ada bangsawan. Semuanya demokrasi. Orang-orang Kota Padang itu asalnya dari pedalaman. “Eh, mentang-mentang sudah jadi orang kota, terus lupa,” kira-kira begitu.

Tapi kemudian, datanglah modernisme Islam. Waktu itulah tokoh adat tadi menjadi berpihak kepada bangsawan Padang karena melawan modernisme Islam.

Kaum muda menjadi pendukung modernisme Islam. Nah, Bung Hatta sebagai anak muda ikut yang modernisme Islam. Dan, pendukung modernisme Islam yang terhebat itu adalah para pedagang.

Mereka ini kaum maju. Ada kantornya. Bung Hatta biasa membaca surat-surat kabar di kantor itu. Atau berdiskusi. Bung Hatta menjadi kesayangannya para pedagang itu.

Singkatnya, Bung Hatta di waktu itu sudah melihat pergumulan demokrasi—semangat demokrasi Minangkabau—dan modernisme Islam dan juga tentang kemajuan—perlunya berorganisasi. Itulah tiga hal yang dipelajari Bung Hatta sebelum ke Jawa.