Sabtu , 19 August 2017, 11:07 WIB
HUT Bung Hatta

Bagaimana Kehidupan Hatta di Zaman Orba?

Red: Karta Raharja Ucu
Alm Soeharto
Alm Soeharto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasanul Rizqa, Wartawan Republika.co.id

Prof Taufik Abdullah, sejarawan senior berambut putih dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan peran sentral Hatta dalam perumusan pasal 33 UUD 1945. Menurut dia, Pasal 33 itu mengenai ekonomi kerakyatan.

"Itu sudah obsesi Hatta dari awal. Itu betul-betul dia yang merumuskan. Begini. Waktu di Eropa, Bung Hatta pergi keliling dan malah dibiayai kawan-kawannya—Perhimpunan Indonesia—ke negara-negara Skandinavia. Bung Hatta memahami, 'Oh begini sebaiknya cara ekonomi'."

Ia berkata, hingga kini negara-negara Skandinavia nomor satu soal kemakmuran dan kesetaraan. "Karena itulah, Hatta merumuskan pasal 33. Apalagi, kita Indonesia sangat heterogen. Berapa ratus suku bangsa dan tingkat pendidikan dan lain-lain.Di kampung Bung Hatta, ini sudah selesai. Toh, itu merupakan kampung halamannya. Tapi, di Jawa Timur dan Jawa Barat, misalnya, masih banyak sekali tuan tanah kaya-kaya," ucap pria berusia 81 tahun ini.
 
Meski dijuluki sebagai Bapak Koperasi, Taufik menyebut, Hatta secara langsung tidak pernah memimpin koperasi. "Kalau langsung, kan Bung Hatta pemimpin negara, bagaimana bisa? Namun, dia yang selalu memajukan agar masyarakat di wilayah-wilayah kecil agar saling membantu dalam soal ekonomi dan sebagainya," ucap dia.

Lalu seperti apa koperasi ideal bagi Bung Hatta? "Yang penting, kalau sudah koperasi, maka ada ide egaliter, ide sosialisme di dalamnya. Jadi, suatu persaudaraan."

Taufik berkata, yang terpenting bagi koperasi itu bagaimana rakyat itu saling tolong-menolong. "Tidak ada politik di dalamnya. Itu lebih sebagai strategi melawan kemiskinan dan mempererat persaudaraan. Sewaktu menjadi wakil presiden, dia mengayomi semua," ujar Taufik.

Ketika zaman Orla berganti Orba, Taufik menceritakan Bung Hatta masih cukup sering tampil ke publik di awal-awal. "Namun, belakangan mulai jarang tampil. Sibuk menulis buku-buku ilmiah. Tapi, ada kesempatan. Pernah diminta pula (perannya) oleh Komisi IV DPR tentang mengatasi korupsi dan lain-lain. Tokoh-tokoh lama yang dimintai. Misalnya, Hatta dan Wilopo. Namun, hasilnya, rekomendasinya pun tak digubris juga," kata Taufik.

Ia juga tidak melihat Hatta berpolemik dengan ekonom Orba. Pasalnya, ujar Taufik, Bung Hatta sering memberikan pendapat. "Bung Hatta orang yang paling disegani. Jadi, kadang, apa-apa dari Bung Hatta kadang mereka dengarkan. Itu tokoh-tokoh Orde Baru banyak bekas muridnya Bung Hatta juga."

"Bung Hatta itu seorang idealis. Sementara, ekonom Orde Baru itu keinginannya bagaimana growth naik. Kan begitu perdebatannya: growth or equity. Karena itu, umumnya orang-orang yang sosial lebih ke soal pemerataan. Orang-orang ekonomi sibuk dengan pertumbuhan. Itu perdebatan. Bung Hatta tentu berpihak pada pemerataan. Pertumbuhan itu yang didukung Soeharto."