Sabtu , 19 Agustus 2017, 02:02 WIB
HUT Bung Hatta

Lika-liku Perjuangan Hidup Bung Hatta

Red: Karta Raharja Ucu
IST
Mohammad Hatta
Mohammad Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami, wartawan Republika.co.id

Bumiputra yang hidup di Batavia pada ujung dekade 1920-an dan awal 1930-an punya panggilan untuk masa-masa tersebut: Zaman Meleset. Menurut wartawan senior Republika.co.id, Alwi Shihab, ia dipelintir dari kata Belanda malaise, terkait kesengsaraan hidup pada saat itu imbas Depresi Akbar di Amerika Serikat pada 1929.

Abah Alwi berkisah, di Sumatra bagian timur, ribuan kuli perkebunan menganggur. Pegawai negeri banyak yang dipecat dan hanya menerima separuh gaji terakhir. “Begitu sulitnya kehidupan sehingga mencari uang sebenggol atau segobang (dua setengah sen) saja sangat sulit.” Yang menjengkelkan, kondisi hidup dengan sebenggol sehari itu menjadi bahan ejekan kolonial Belanda terhadap bumiputra, seperti sengaja lupa bahwa keadaan tersebut mereka pula yang bikin.

Pada masa-masa itu, tepatnya pada 1932, seorang pemuda idealis dari Minang yang telah sekian tahun belajar di Belanda dan melihat Eropa yang relatif lebih makmur, pulang ke Tanah Air. Ia agaknya marah betul terhadap kondisi tersebut dan menumpahkannya panjang lebar dalam tulisan berjudul “Kapitalisme dan Krisis Ekonomi” yang terbit dua tahun kemudian.

Sikap antagonistisnya terhadap kapitalisme terpatri. Tak bakal terjadi perdamaian antara Mohammad Hatta, nama pemuda tersebut, dengan sistem penumpukan modal yang membuat orang berada menjadi kian kaya dan yang tak berpunya tambah melarat tersebut.

Depresi Akbar adalah satu dari sekian banyak tonggak waktu yang membentuk gagasan-gagasan Hatta, terutama dalam kaitannya terhadap perekonomian. Namun, jalan pikir Hatta bukan labirin. Keteguhan prinsipnya membentuk semacam garis lurus yang jarang sekali bercabang dan berbelok.