Jumat , 11 Agustus 2017, 08:08 WIB
HUT Bung Hatta

Meutia Hatta: Bung Hatta Sering Diperlakukan tak Adil

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Karta Raharja Ucu
IST
Mohammad Hatta
Mohammad Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama masa perjuangan prakemerdekaan hingga pascakemerdekaan, sejumlah tokoh nasional kerap ditangkap dan dibuang Belanda ke sejumlah tempat terpencil. Satu di antaranya adalah Mohammad Hatta.

Meutia Hatta, putri pertama Bung Hatta, menyebut, ayahnya sering sekali diperlakukan tidak adil karena tidak banyak yang mempelajari Bung Hatta. "Malah disalahkonotasikan, padahal ia menderita. Waktu dibuang ke Boven Digul, Papua. Kenapa sih hanya Bung Hatta dan Sjahrir yang dibuang ke Digul? Orang-orang lain dibuang di tempat yang agak lumayan. Tapi, Hatta bilang, 'Di mana saya ditempatkan, selama itu di Tanah Air tidak apa-apa. Selama ada buku, saya merdeka'," kata Meutia saat berbincang dengan wartawan Republika, Melisa Riska Putri.

Saat masa pembuangan, kata dia, Bung Hatta mengajarkan sesama tahanan politik untuk tetap mencintai negeri. Di Banda Neira misalnya, Meutia menyebut, bahkan hingga ada sekolah yang mengajarkan anak-anak sejarah, ilmu bumi, geografi, dan mengenai kemasyarakatan, bahasa Inggris, atau bahasa Eropa.

"Itu yang membuat orang maju, bahkan sampai boleh melakukan tulis-menulis surat selain politik, tapi tetap dilakukan sensor juga. Itu membuat temannya ayah saya di Sumatra Barat mengirim dua anaknya ke Banda Neira untuk diajar Bung Hatta. Karena mereka tahu, anak-anak itu bisa menjadi orang yang berhasil kalau belajar dengan Hatta," kata Meutia.

Saya, kata Meutia melanjutkan, sering sekali melihat menjelang 17 Agustus atau akhir tahun, selalu yang dimasalahkan Bung Hatta. Dulu, pada saat pusat pemerintahan berada di Yogyakarta ditawan Belanda, presiden dan wakil presiden ditawan Belanda. Rupanya, sebelum penawanan terjadi, Hatta telah menduga hal itu akan terjadi, sehingga ia mengirim telegram ke Sjafrudin Prawiranegara untuk membuat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dengan begitu, ketika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa Belanda, mereka bukan presiden-wapres RI.

"Jadi, karena Bung Hatta dengan strateginya menyuruh Sjafrudin pergi ke Sumbar beberapa hari sebelum terjadi penawanan untuk mempersiapkan PDRI. Kemudian, setelah itu ia (Sjafrudin) diangkat sebagai presiden darurat PDRI. Artinya, pemerintah pindah ke situ," ucap mantan menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Meutia merawikan, waktu Bung Karno dan Bung Hatta dibawa, ditawan dan katanya semua dibuang ke Bangka, sebetulnya tidak terjadi. Tujuh orang dibawa, termasuk Bung Karno dan Hatta, tapi mereka bukan lagi presiden dan wapres, melainkan tokoh nasional sehingga tidak bisa bicara atas nama republik.

"Dalam perjalanannya di dalam pesawat, para tahanan mengira akan dibawa ke timur Indonesia, namun melihat kondisi tidak banyak pulau yang terlihat, mereka menyadari dibawa ke wilayah barat Indonesia. Sebanyak empat orang disuruh turun di Bangka, yaitu ayah saya, Ali Sastroamidjojo, Comodor Soerjadarma Abdul Gani, dan Mr Roem. Mereka disekap 17 hari di dalam kerangkeng," ucap dia.

"Sementara, yang lainnya, yaitu Bung Karno, Agus Salim, dan Pak Sjahrir dibawa ke Prapat. Mereka di situ dan ayah saya yang di Bangka, Mentok, atau dulu itu Muntok. Ayah saya tinggal di bukit peristirahatan Belanda, tapi itu merupakan tempat ilmuwan tinggal ketika meneliti tentang botani. Mereka tinggal di situ. Di tempat yang cukup besar, tapi mereka tidak boleh keluar dari kerangkeng berukuran empat kali enam meter. Dasar Bung Hatta orangnya nggak gampang putus asa, dipotret senyum aja," kata Meutia menceritakan sambil menunjukkan foto Bung Hatta yang tengah tersenyum di kamar pengasingan.

"Walaupun ditawan, masih tetap menjaga maratabat karena Hatta mempunyai ketokohan yang harus dijaga. Nah, ini yang harus dipelajari anak-anak muda, martabat bangsa dan martabat diri sendiri."