Rabu , 07 Juni 2017, 04:11 WIB

Bung Karno: Cerminku adalah Tjokroaminoto

Red: Karta Raharja Ucu
pahlawancenter
HOS Tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fitriyan Zamzami

Kesan Sukarno terhadap HOS Tjokroaminoto tidak pernah main-main. “Dialah orang yang mengubah seluruh kehidupan saya…” tulis Sukarno dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Menurut Sukarno, pemimpin Sarekat Islam (SI) tersebut yang mengajari dan menempa jati dirinya. ''Cerminku adalah Tjokroaminoto. Aku memperhatikannya menjatuhkan suaranya. Aku melihat gerak tangannya dan kupergunakan penglihatan ini pada pidatoku sendiri,'' lanjut Sukarno dalam buku tersebut.

Tjokroaminoto dilahirkan di Desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, 16 Agustus 1882. Putra seorang wedana di Madiun. sejak kecil dia mendapat pendidikan Islam dan menamatkan sekolahnya di Opleidingschool Voor Inlandeche Ambtenaren (OSVIA) pada 1902. Di Surabaya, ia mulai menceburkan diri ke dunia politik, mengorganisasi pemuda-pemuda dalam Serikat Dagang Islam (SDI), dan menjadi ketua cabang SDI Jawa Timur.

Begitu diserahi tugas memimpin SDI, September 1912, Tjokro langsung menyusun anggaran dasar SDI dan mengusulkan kata 'dagang' dalam SDI dihapus. Usul itu diterima dan sejak itu, SI menjadi organisasi modern.

Saat Sukarno menumpang di kediamannya pada 1915, Tjokro sudah terkenal sebagai tokoh pergerakan dan pemikiran Islam. Yang jauh lebih penting, Tjokro juga salah satu orang pertama di Hindia Belanda yang melancarkan ide pembentukan  bangsa dan  kemerdekaan Indonesia.
Ide pembentukan bangsa dan pemerintahan itu disampaikan Tjokro dalam Kongres Nasional Serikat Islam (SI) 1916 dalam bahasa Melayu. 

''Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam. Kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa. Tidak boleh terjadi lagi, bahwa dibuat perundang-undangan untuk kita, bahwa kita diperintah tanpa kita ikut di dalamnya… di bawah pemerintahan tiranik dan zalim, hak-hak dan kebebasan itu dicapai melalui revolusi!''

Gagasan itu kemudian secara formal dirumuskan sebagai pernyataan SI dalam kongres nasional Central Sarekat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916. Di antara isi pernyataan itu, agama Islam adalah agama yang mengajarkan ide demokrasi, agama Islam merupakan dasar pokok bagi pendidikan moral dan intelektual, pemerintahan Hindia-Belanda tidak perlu campur tangan dalam bidang agama dan hendaknya tidak membuat diskriminasi antara agama-agama, serta rakyat perlu diberi kesempatan berpartisipasi dalam politik.

Ide kemerdekaan dan keislaman tersebut disampaikan persis saat Sukarno mula-mula berkenalan dengan Tjokro.  Di Peneleh, pada malam hari, Sukarno dan anak-anak muda yang menumpang berdebat dengan Tjokro soal politik dan perjuangan bangsa melawan penjajahan Belanda.

''Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar dan tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku-bukunya, diberikannya padaku milikku yang berharga.''