Rabu , 07 June 2017, 03:03 WIB
Haul Sukarno

Kala Sukarno Menemukan Islamnya

Red: Karta Raharja Ucu
Republika
Abah Alwi
Abah Alwi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Umi Nur Fadhilah, Hasanul Rizqa

Sejarawan Alwi Shahab menekankan, saat Bung Karno mendekam di balik jeruji besi. Islam banyak memengaruhi pandangannya dalam politik. "Bung Karno banyak mengutip ayat Alquran dalam pidato. Dia begitu terpengaruh apa ajaran Islam," kata Alwi beberapa waktu lalu.

Bahkan, ia menyebutkan, paham Marxisme dan Leninisme membuatnya lebih meyakini Islam. Dasar teori komunisme tersebut yang membuat Bung Karno berpikir tentang masa depan bangsa Indonesia. Keyakinan untuk membebaskan rakyat dari penjajahan.

Di dalam penjara dan saat pengasingannya ke Ende, Bung Karno memahami Islam sebagai agama yang damai, berkah, antipenjajahan, dan eksploitasi manusia, serta revolusioner. Bung Karno ingin mengajak umat Islam di Indonesia selalu mengambil api semangat dari Islam.

Pakar sejarah Islam di Indonesia dari UIN Sunan Gunung Djati, Dr Moeflich Hasbullah, menuturkan, saat menumpang di kediaman HOS Tjokroaminoto, Bung Karno bisa dibilang masih dalam tahap belajar. Setelah banyak membaca dan bersurat dengan A Hassan, Bung Karno seperti menemukan versi Islam yang dalam jangka waktu lama dicari-carinya. “Kalau dibahasakan sekarang, mungkin (Bung Karno mengatakan) 'inilah yang selama ini saya cari-cari!'” kata Dr Moeflich kepada Republika, pekan lalu.

Menurut Dr Moeflich, Islam yang disukai Bung Karno bukan Islam yang lemah. Bukan umat yang mengeluh, penuh dengan khurafat, dan segala kemunduran hidup.  Dalam sebuah tulisannya pada tahun 1940, kata Dr Moeflich, Sukarno melihat ada gejala kurang baik dari sebagian kaum Muslim. Dengan nada kecewa, Sukarno menamakan mereka ini sebagai umat Islam yang "sontoloyo".

Salah satu contohnya, sebagian orang yang cenderung permisif terhadap mereka yang menyerobot hak kaum miskin atau anak yatim serta menyebarkan fitnah. Terhadap pihak-pihak ini, orang Islam "sontoloyo" itu tidak menudingnya sebagai menyalahi Islam.

Sebaliknya, kepada pihak-pihak yang, umpamanya, memakan daging babi, meski hanya sekerat, tudingan yang berat dapat dilancarkan. Hal itu bahkan tidak jarang disertai sebutan kafir. Singkatnya, bagi Sukarno, kaum Muslim "sontoloyo" adalah mereka yang hanya mementingkan aspek permukaan, alih-alih substansi, dalam beragama.

“Jadi, ketika belajar Islam, Bung Karno menemukannya pada sosok A Hassan. Islam versi modern, Islam versi rasional, yang tidak sontoloyo. Itu kan cerminan pemikiran modern Bung Karno,” kata Dr Moeflich.