Selasa , 06 Juni 2017, 20:51 WIB

Impian Sukarno Terealisasi dengan Dibangunnya Masjid Istiqlal

Red: Karta Raharja Ucu
Reuters/Jason Reed
Presiden AS Barack Obama dan istri, Michelle Obama saat berpose bersama Imam Masjid Istiqlal, KH Ali Mustofa Yakub.
Presiden AS Barack Obama dan istri, Michelle Obama saat berpose bersama Imam Masjid Istiqlal, KH Ali Mustofa Yakub.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhyiddin, Umi Nur Fadhilah, Reja Irfa Widodo

"Masjid istiqlal ini akan mencakar langit. Menaranya pun akan mencakar ke langit. Dibuat dari material yang tahan ratusan, bahkan ribuan tahun."

Pidato Presiden pertama RI Ir Soekarno ini diucapkan saat maulid nabi Muhammad SAW pada 24 Agustus 1961 saat pancang tiang pertama Istiqlal. Dengan orasi khas yang menggebu-gebu, bung proklamator kemerdekaan tersebut hendak menggugah kebanggaan masyarakat Indonesia di mata internasional.

Ramalan Bung Karno kita bisa buktikan saat ini. Istiqlal berstatus sebagai masjid negara. Berdiri di atas lahan seluas 9,32 hektare, masjid yang berlokasi di Jalan Tamanwijayakusuma, Jakarta, ini memiliki satu bangunan utama dan bangunan pendukung.

Bangunan utama memiliki tinggi 60 meter, panjang 100 meter, lebar 100 meter, dan tiang pancang sebanyak 2.316 buah. Bangunan utama ini pun terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Dinding dan lantai di seluruh bangunan Masjid Istiqlal pun dilapisi marmer. Selain itu, ada pula bagian selasar dan teras.

Bangunan utama juga memiliki kubah besar dengan diameter mencapai 45 meter dan ditopang 12 tiang besar. Begitu juga dengan menara tunggal setinggi 66,66 meter. Kekokohan dan kemegahan Masjid Istiqlal ini juga ditopang oleh material bahan baja antikarat. Tidak ada kayu yang menopang Istiqlal. Masjid ini pun dapat menampung sekitar 200 ribu jamaah. Tidak heran jika masjid ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Masjid Istiqlal menjadi hadiah Bung Karno untuk kemerdekaan Indonesia. Ia memimpikan membangun masjid megah untuk Indonesia. Keinginannya itu sejalan dengan ide Menteri Agama RI yang saat itu dijabat KH Wahid Hasyim.

Sejarawan Alwi Shabab mengisahkan, Bung Karno memimpikan sebuah masjid yang berfungsi sebagai tempat dakwah, musyawarah, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. "Bung Karno pingin bangun masjid yang megah. Masjid Istiqlal atau kemerdekaan," ujar dia.

Namun, pembangunan masjid nasional tidak didukung anggaran yang cukup.  Saat itu, negara memang tidak memiliki anggaran. Kendati demikian, keinginan Bung Karno menghadiahi masjid mendapat dukungan rakyat Indonesia. Berbagai sumbangan masuk dari rakyat. Tak kehabisan akal, panitia pembangunan masjid juga memiliki cara untuk mendapat anggaran. Salah satunya, menyiapkan kotak sumbangan di bioskop-bioskop. "Dulu saya sering nonton, ada kotakan (kotak amal) untuk sumbangan bangun masjid," kata Alwi.

Pembangunan masjid pun sempat tersendat. Pembangunan Istiqlal akhirnya selesai pada 22 Februari 1978. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden kedua Soeharto. Butuh 17 tahun untuk melihat Masjid Istiqlal berdiri. Abah Alwi, sapaan akrabnya menuturkan, penentuan lokasi masjid sempat menjadi perdebatan antara Bung Karno dan wakil presiden ketika itu, Moh Hatta (Bung Hatta). Bung Hatta mengusulkan lokasi masjid berada di Jalan Thamrin, tepatnya lokasi Hotel Indonesia. Alasannya, lokasi itu  ditinggali banyak Muslim. Sementara, Bung Karno mengusulkan pembangunan di lokasi yang saat ini berdiri.

Notabene, tidak banyak orang Islam tinggal di sana. Bahkan, Abah Alwi mengatakan, banyak tempat hiburan Belanda di sekitarnya. Namun, Bung Karno mempertimbangkan tentang keberagaman bangsa Indonesia, mulai agama, suku, budaya, bahasa, dan lain-lain. Di lokasi ini, sudah berdiri Gereja Katedral yang megah. "Bung Karno tahu, Indonesia itu beragam," kata dia.

Tidak hanya itu, hasil sayembara tertutup untuk desain masjid yang dilakukan Bung Karno menjadi bukti lainnya betapa Istiqlal menjadi simbol keberagaman. Sebelum membangun Masjid Istiqlal, Bung Karno sempat mendiskusikan rencana besarnya dengan para ulama. Dia lantas menggelar sayembara untuk memilih arsitek yang pantas berdasarkan gambar bangunannya. Fresderich Silaban, seorang Kristen Protestan yang saat itu memakai sandi "ketuhanan" berhasil memenangkan sayembara itu.

Silaban yang notabene non-Muslim tidak membuat para dewan juri yang terdiri dari ulama ulama itu ragu untuk memilihnya.  Hanya, Silaban harus lebih menyempurnakan desain Istiqlal dengan desain Ketuhanan yang Maha Esa. Ternyata, Silaban saat itu akhirnya mampu meyakinkan para juri tentang karyanya.