Selasa , 06 Juni 2017, 12:06 WIB
Haul Sukarno

Surat-Surat Islam dari Ende

Red: Karta Raharja Ucu
Dokumentasi Republika
Persembahan khusus Republika untuk Sukarno.
Persembahan khusus Republika untuk Sukarno.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Bayu Hermawan, wartawan Republika

Setelah lebih mendalam mempelajari Islam dan menggenal Allah SWT dari balik jeruji besi di Penjara Sukamiskin, Sukarno tak berhenti untuk terus mengkaji Islam. Di Kota Ende Kepulauan Flores, Sukarno mengutarakan pandangannya mengenai Islam serta korelasinya dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Sukarno tiba di Ende pada Februari 1934. Sebagai seorang berstatus tahanan politik, gerak-geriknya selalu diawasi ketat oleh pemerintah Belanda. Meski begitu, Sukarno tak dilarang melakukan kegiatan lain, termasuk berkorespondesi dengan rekan-rekannya di Persatuan Islam (Persis), saat ia tinggal di Bandung.

Hal tersebut karena pemerintah Belanda tak memandang Persis sebagai organisasi politik, namun lebih pada organisasi pendidikan dan keagamaan. Dalam surat-suratnya kepada rekan-rekannya di Persis, yang kemudian dikenal sebagai "Surat-Surat Islam dari Ende" di buku "Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid 1", kita bisa melihat bagaimana Islam yang ideal dalam pemikiran Soekarno.

Sukarno menuliskan, ia tak senang dengan sebagian kalangan Islam yang gemar melontarkan kata-kata dan tudingan kafir.  Ia melihat hal tersebut justru menghambat kemajuan umat Islam.

"Kita royal sekali dengan perkataan kafir. Pengetahuan barat (dibilang) kafir, radio dan kedokteran -kafir, pantolan dan dasi dan topi-kafir, sendok dan garpu dan kursi-kafir, tulisan latin-kafir, ya pergaulan dengan bangsa yang bukan Islam pun-kafir...Astaghfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan," tulisnya di buku DBR.

Sukarno juga sangat tak sepakat dengan kecenderungan sebagian orang Islam yang terlalu gegabah menolak segala hal berbau modern sebagai produk kafir yang haram untuk digunakan. Presiden pertama Republik Indonesia itu juga meminta umat Islam untuk tak ragu menyerap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, meski bukan produk dari bangsa-bangsa Islam. Secara tegas, Bung Karno menentang kultur taklid buta. Menurut di hal itu adalah penyebab terbesar kemunduran Islam.

"Semenjak ada aturan taklid, disitulah kemunduran Islam cepat  sekali. Tak heran! Di mana genius dirantai, di mana akal pikiran diterungku, di situlah datang kematian," tulisnya.

Bagi Sukarno dua sumber utama Islam adalah Alquran dan Sunah Rasul, yang tak akan pernah berubah dimakan zaman. Dari dua sumber ini pula para ulama mengambil kesimpulan hukum. Dari dua sumber utama ini pula umat Muslim seharusnya menyalakan api Islam. Sementara taqliq buta adalah debu yang membuat kemunduran Islam.

Selain itu, Proklamator RI itu juga mengkritik umat Islam yang tidak peduli dengan sejarah. Padahal menurut dia, dengan menggali sejarah, umat Islam bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Salah satunya dalam menentukan Hadist, sehingga hadis yang digunakan bisa dibuktikan kesahihannya dan bukan hadis lemah (dha'if).

“Saya perlu kepada Bukhari atau Muslim itu karena di situlah dihimpun hadis-hadis sahih. Walaupun dari keterangan salah seorang pengamat Islam bangsa Inggris, di Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu yang sering lebih laku daripada ayat-ayat Alquran. Saya kira anggapan ini adalah benar," tulisnya.

Demikianlah, dengan melalui proses panjang berkenalan dengan Islam dari sudut sempit Gang Paneleh, dinginnya ruang penjara Sukamiskin, hingga rumah pengasingan di Endeh, kita bisa memahami Islam menurut sudut pandang Bung Karno.

Bagi Bung Karno Islam yang ideal adalah yang modern, rasional, progresif, pluralis, humanis dan subtansial. Hal ini juga yang terlihat dalam konsep Pancasila yang disampaikannya dalam rapat BPUPKI. Sukarno ingin Islam menjadi api kemerdekaan dan memajukan bangsa Indonesia.