Selasa , 06 June 2017, 04:11 WIB
Haul Sukarno

Sukarno Temukan Islam dari Balik Jeruji Besi

Red: Karta Raharja Ucu
informasi-bandung.com
Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bayu Hermawan, Wartawan Republika

Sukarno harus melalui perjalanan panjang untuk mengenal lebih dalam tentang Islam. Ia pun sadar Islam bukan hanya sekadar agama mayoritas di Indonesia, lebih dari itu, Islam merupakan sumber kekuatan yang bisa menggerakan rakyat menuju apa yang ia cita-citakan.

Pria yang lahir pada 6 Juni 1901 memang bukan masuk dalam kategori tokoh-tokoh pemikir dan pejuang bangsa dari kelompok agama. Ia juga bukan berasal dari keluarga yang kental nuansa Islamnya.

Bung Karno lahir dari pasangan Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu. Sang ayah meski beragama Islam, namun lebih condong sebagai penganut kejawen atau biasa dikenal 'Islam Abangan', serta seorang anggota teosofis. Sementara Ibunda, merupakan anak dari pandita Hindu-Bali.
 
Pada 1916, Sukarno yang kala itu berumur 15 tahun, harus meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah di Hogere Burger School (HBS) -sekolah tingkat SMA saat ini-. Sang ayah menitipkan Sukarno muda kepada seorang rekannya yang bernama Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Di 'istana' Raja Jawa Tanpa Mahkota yang terletak di Paneleh Gang 7 itulah, Sukarno mulai mengenal Islam secara lebih intens.

"Aku tak pernah mendapatkan didikan agama yang teratur karena bapak tidak mendalaminya. Aku menemukan sendiri Islam pada usia 15 tahun, ketika aku mengikuti keluarga Pak Tjokro . Masuk satu organisasi agama dan sosial bernama Muhammadiyah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Paneleh. Sekali sebulan, dari pukul delapan sampai tengah malam, seratus orang berdesak-desakan mendengarkan pelajaran agama dan ini disusul dengan tanya jawab. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian," ujarnya.

Sukarno muda langsung terpesona dengan karisma sang pemimpin Serikat Islam, yang kala itu berada di puncak kecemerlangannya sebagai seorang pemimpin organisasi bernafaskan Islam.

"Sebagai seorang tokoh yang memiliki daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya, Pak Tjokro adalah idolaku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak, dia menggemblengku. Aku duduk di dekat kakinya," begitu pengakuan Sukarno atas kekagumannya pada Tjokroaminoto.

Tak cuma dari Tjokroaminoto, Sukarno pun berkenalan dengan Islam melalui tokoh-tokoh SI yang kerap mendatangi rumah guru sekaligus bapak angkatnya tersebut. Namun, berada dekat dengan pemimpin organisasi Islam terbesar pada saat itu, tidak membuat Sukarno langsung mengikuti jejak sang guru. Hal itu disebabkan karena selama tinggal di Gang Paneleh, Sukarno tak hanya melulu mengkaji soal Islam.

Cakrawala berpikir Sukarno tak terbatas pada satu paradigma religiusitas agama Islam saja. Ia pun menyerap ajaran-ajaran teologis, dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan milik kelompok Teosofis di Surabaya.

Belum lagi, dengan banyaknya buku-buku politik milik sang guru yang dibacanya, Sukarno menggali pemikiran mulai dari Karl Marx, Friendrich Engels hingga Voltaire dan George Washington. Plus berdiskusi dengan tokoh-tokoh pergerakan pada saat itu seperti Alimin dan Musso, yang mengenalkannya pada Marxisme.

Meski begitu, Sukarno muda mengakui jika dirinya belum secara mendalam mengenal Islam. Lalu dimana Sukarno akhirnya belajar mendalam tentang Islam? Jawabannya adalah di dalam penjara Sukamiskin Bandung. Di tempat itu, bahkan Sukarno mengakui jika semakin dekat dengan Allah SWT dan menjadi penganut Islam sebenarnya.

"Ketika aku berada di penjara, aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar. Di dalam penjaralah aku menjadi penganut Islam yang sebenarnya,"

Terkurung di dalam penjara membuat kepercayaan Sukarno terhadap Allah SWT semakin besar. Ia mengungkapkan, dalam kesunyian malam di dalam sel penjara, dirinya dapat berdoa dengan tenang. Sukarno semakin yakin dan percaya bahwa sesuatu bisa saja terjadi hanya atas izin dari yang maha kuasa.

"Segala sesuatu bagiku adalah Insya Allah - kalau Tuhan menghendaki," ucapnya.

Tak adanya pasokan buku-buku berbau politis ke dalam penjara, dimanfaatkan oleh Sukarno untuk lebih banyak mengkaji Alquran. Di umur 28 tahun, Sukarno mengungkapkan jika dirinya semakin mengenal Allah SWT, Tuhan pemilik alam semesta.

"Sekarang aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menyadari Tuhan tiada terhingga, meliputi seluruh alam. Maha Kuasa, Maha Ada. Tidak hanya di sini dan di sana, tetapi di mana-mana. Dia hanya satu- Tuhan ada di atas puncak gunung, di angkasa, di balik awan, di atas bintang-bintang yang kulihat setiap malam. Dia tidak bisa dibagi. Ketika kenyataan ini muncul dalam diriku, aku sadar bahwa aku tidak perlu takut lagi, karena tuhan tidak lebih jauh dari kesadaranku,"

"Aku hanya perlu masuk ke relung hatiku untuk menemui-Nya. Aku sadar, aku selalu dilindungi-Nya untuk mengerjakan sesuatu yang baik dan Dia-lah yang memimpin setiap langkahku menuju kemerdekaan," kata dia.

Setelah lebih mendalam mempelajari Islam dan menggenal Allah SWT dari balik jeruji besi di Penjara Sukamiskin, Sukarno tak berhenti untuk terus mengkaji Islam. Di Kota Ende Kepulauan Flores, Sukarno mengutarakan pandangannya mengenai Islam serta korelasinya dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.