Sabtu , 29 April 2017, 09:21 WIB

Pesantren Mujahidin Embrio Nahdlatul Wathan

Red: Karta Raharja Ucu
Dokumentasi Nahdlatul Wathan
Madrasah Nahdlatul Wathan
Madrasah Nahdlatul Wathan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Selamat Ginting, wartawan senior Republika

Seusai menyelesaikan pendidikan di Tanah Suci Makkah, Kiai Hamzanwadi, akronim dari Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Diniyah Islamiyah, mulai dikenal sebagai ulama baru di Lombok. Ia mulai dengan membuat gerakan al-Mujahidin, kemudian bergabung dengan gerakan perintis kemerdekaan.

Masyarakat mendaulatnya sebagai imam dan khatib masjid. Jabatan sebagai imam dan khatib pada saat itu merupakan posisi yang penting dalam masyarakat. Masyarakat juga mengakuinya sebagai anak muda alim yang memiliki integritas keilmuan, sehigga disebut Tuan Guru Bajang atau sebutan masyarakat Lombok bagi seorang ulama yang usianya relatif masih muda.

Sebutan Tuan Guru Bajang diperoleh setelah melalui serangkaian proses uji di tengah-tengah masayarakat. Tuan Guru Haji Mukhtar dari Mamben, misalnya,  tidak serta-merta mengamini sebutan tersebut. Ia melakukan verifikasi terlebih dahulu dengan sejumlah pertanyaan sebagai test case terhadap kapabilitas keilmuannya.

Setelah mempunyai reputasi di masyarakat, ia kemudian mendirikan Pesantren al-Mujahidin pada 1934 M. Secara etimologi, nama masjid ini berarti ‘pejuang’. Kiai Hamzanwadi kemudian mendirikan madrasah, yakni Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada 15 Jumadil Akhir 1356 H, atau 22 Agustus 1937 M. Kemudian Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyah (NBDI) pada 15 Rabiul Akhir 1362 H, 21 April 1943.

Madrasah didirikannya sebagai basis awal perjuangan melawan penjajah Jepang. Madrasah baginya bukan sekadar tempat persemaian ilmu pengetahuan. Di tengah kuatnya tekanan kolonial, ia memanfaatkan madrasah untuk menumbuhkembangkan jiwa dan semangat perjuangan, patriotisme dalam menghadapi tindakan semena-mena kaum kolonial.

Penjajah meminta pelajaran bahasa Arab dan Inggris ditiadakan. Namun, Kiai Hamzanwadi tetap mempertahankan. Alasannya, bahasa Arab adalah bahasa Alquran, bahasa umat Islam, bahasa yang dipakai dalam melaksanakan ibadah, sedangkan bahasa Inggris merupakan bahasa dunia. Itulah sebabnya kedua bahasa tersebut tetap diajarkan.
 
Di madrasah ini juga dididik calon-calon penghulu dan imam yang berfungsi mengurus dan mengatur peribadahan dan perkawinan umat Islam, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pemerintah kolonial Jepang memutuskan, Madrasah NWDI dan NBDI dibenarkan untuk tetap dibuka dengan syarat nama madrasah diubah menjadi sekolah penghulu dan imam.

Usai Jepang takluk dalam Perang Dunia Kedua, datanglah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administrations) di Pulau Lombok. Kiai Hamzanwadi bersama para santri dan guru NWDI dan NBDI membentuk organisasi yang disebut gerakan al-Mujahidin.
Organisasi ini selanjutnya bergabung dengan gerakan Banteng Hitam, gerakan Bambu Runcing, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Pulau Lombok untuk menyatukan langkah membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.

NICA memutuskan untuk menutup Madrasah NWDI dan NBDI. Namun, sebelum keputusan itu dilaksanakan, terjadi peristiwa 8 Juli 1946. Penyerbuan tangsi militer NICA di Selong di bawah pimpinan adik kandung Kiai Hamzanwadi, TGH Muhammad Faisal Abdul Majid. Dalam peristiwa ini, Faisal beserta dua orang santrinya, Sayid Muhammad Saleh dan Abdullah, gugur sebagai syuhada yang kini namanya menghiasi taman makam pahlawan Rinjani, Selong, Lombok Timur.