Sabtu , 22 April 2017, 15:44 WIB

Mendaras Jiwa Kartini yang Resah karena Terjajah

Red: Karta Raharja Ucu
Buku Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah
Buku Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika

Sejujurnya, membaca surat-surat Kartini walaupun telah berulang-kali, tak pernah terasa membosankan. Tuturan yang mengalir jernis -sejernih hatinya- membuat kita merasa akrab dengannya. Agak sulit terus terang menemukan kalimat-kalimat yang begitu kuat nada kesungguhannya seperti halnya tulisan pikiran-pikiran seorang Kartini ini.

Tuturan itu serius tapi sekaligus nyaris seperti bincang hangat, kadang memuji, namun kerap pula mengkritik. Bisa dikatakan, setiap kalimat yang dituliskannya menyedot jiwanya, mengembuskan semangatnya. Demikianlah kualitas tulisan Kartini dalam suratwsurat beliau. Bukan sekadar surat jerintang waktu, pembunuh kebosanan, atau keisengan cicitan. Setiap kalimatnya, berjiwa.

Kartini memiliki banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran dan jiwa beliau Kejernihan nalar seorang tunas bangsa memang mulai menemukan banyak ketidaksesuaian antara teori-teori yang dipahaminya dengan praktik yang ditemuinya dalam kehidupan dari hari ke hari. Penjajahan bangsa Eropa yang pernah kita alami ratusan tahun, membekaskan catatan-catatan pengalaman kelam yang direkam oleh para anak negeri. Tak terkecuali Kartini.

Walaupun memiliki kecerdasan komunikasi-relasi dengan kalangan Belanda, bukan berarti Kartini memihak penjajahan. Bila selama ini kita memahami Kartini hanya sebatas pejuang hak-hak perempuan. lebih karena ke sanalah kita digiring untuk memahami beliau. Sejatinya Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan. Merdeka dari penindasan manusia kepada manusia lain-apa pun bentuknya-menuju pada kehormatan harkat penciptaannya.

Dalam suratnya kepada Stella tanggal 12 januari 1900, dengan lantang Kartini menyoal ketertindasan bangsanya:

“…Banyakkah kekuasaan ayahmu? tanyamu kepada saya. Apa arti kekuasaan itu sebenarnya? Pengaruh besar memang ada pada ayah, tapi kekuasaan hanya ada pada yang menjajah… ”

Bahkan dalam suratnya yang lebih awal kepada Stella, Kartini tak segan untuk menyampaikan luapan kemarahannya pada para penjajah dengan gaya yang khas aktivis kemerdekaan:

"Alangkah kecilnya gaji di negeri Belanda dibandingkan dengan gaji di Hindia. Dan 'orang orang' di sini selalu mengeluh tentang gaji yang sedikit. Di Hindia orang sudah berhak pensiun setelah dinas 20 tahun dan bahkan pendeta-pendeta setelah 10 tahun. Hindia memang surga bagi pegawai bukan? Sungguh pun demikian sejumlah orang Belanda mengumpat-umpat Hindia sebagai 'negeri kera yang berengsek”. Saya dapat menjadi marah sekali kalau mendengar orang mengatakan “Hindia berengsek". Orang terlalu sering lupa bahwa ”negeri kera yang berengsek" itu telah mengisi beberapa saku kosong dengan emas. kalau mereka pulang ke tanah air setelah tinggal di sini beberapa tahun.” (6 November 1899)

Diskriminasi jelas tejadi. Dokumen resmi mengenai penduduk Hindia Belanda dapat kita temukan adalah Indische Staatstregeling pada 1927. Di dalamnya maxi mengatur pembagian warga Hindia Belanda dalamS golongan. Masing-masing golongan tentu memiliki hak dan kewajiban serta urutan prioritas dalam pelayanan publik yang berbeda. Ialah: golongan Eropa, golongan Timur Asing, dan golongan Bumiputera/Pribumi.

(Baca Juga: Menelusuri Jejak Jati Diri Kartini)

Namun kita memahami praktik stratifikasi sosial ini terjadi sejak penjajah kian mengukuhkan hegemoninya di tanah air tercinta. Diskriminasi rasial dikritik keras oleh Kartini. Apalagi saat menyangkut praktik yang dibencinya ialah kekerasan pada penduduk pribumi, saudara sebangsanya yang dilakukan oleh penjajah Eropa. Penentangannya diungkapkan dalam suratnya tanggal 17 Agustus 1902 kepada EC. Abendanon (putra Abendanonl”, yang menceritakan sebuah peristiwa yang disaksikannya sendiri bagaimana saat seorang Tuan Besar Eropa akan lewat, pengawalnya memukul seorang anak, seorang perempuan dan seorang gadis bangsa pribumi yang dianggap tidak cepat-cepat menyingkir dari jalan yang akan dilewati sang Tuan Besar. Beliau menulis.

“Saya tekan gigi saya kuat-kuat, agar tidak terucap suara apa pun. Tiap pukulan rasanya mendera jiwa saya. Aduhai sakitnya! Bukan karena merasa ngeri, yang membuat saya jijik nama hukuman siksa badan, melainkan oleh karena rasa hina yang tersimpul di dalamnya..."

Masih dalam surat yang sama Kartini mengatakan.

“Sebagai anak pegawai kami telah mengalami dengan sedih beberapa peristiwa yang membuat kami gemetar karena marah. Pada kesempatankesempatan semacam itu kami diam seribu bahasa; tidak dapat berbicara atau bertanya; rasa marah dan kasihan menyumbat mulut kami, Seorang kenalan kami mengerti tentang hal ini lalu katanya, “Kita harus berbuat demikian; bilamana tidak, bagaimana mungkin kita yang hanya berpuluhan ini saja. dapat memelihara ketertiban dan keamanan atas rakyat yang jumlahnya ribuan? Mereka itu tentulah sudah sejak dulu-dulu mengusir kita dari tanah ini, membuang kita ke dalam laut, bila tidak ada rasa takut itu kepada kita".

Kartini juga mengkritik elit pribumi yang tidak memiliki sikap kritis terhadap atasannya para pejabat kolonial. Hal ini sebagaimana disampaikannya dalam surat kepada Ny Abendanon tanggal 13 Januari 1900 sebagai berikut.

“Aristokrat Jawa selalu membungkuk pada pemerintah, termasuk yang ada di Negeri Belanda.. Kaum aristokrat itu ingin menguasai dunia bagi diri mereka sendiri.“

Kritik Kartini terhadap ketidakadilan ini mengalir deras dalam berbagal surat-surat lainnya, terutama menyangkut kesemoatan untuk maju bagi para putra-putri pribumi yang sengaja dihambat oleh pemerintah kolonial. Termasuk pemuda-pemuda cerdas yang dilecehkan oleh atasannya para penjajah ras Eropa. Sehari sebelum menulis surat untuk Nyonya Abendanon pada 12 April 1900 Kartini menulis untuk Stella surat yang panjang lebar mengkritik birokrasi kolonial feudal. Di antara cuplikannya adalah:

”Oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang ledak Maju dengan kemajuan orang jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan dia tidak akan lagi mengiyakan dan mangamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan kepadanya oleh atasannya."

Kartini resah atas kemiskinan dan kualitas kehidupan rakyat yang jauh dari standar kelayakan. Kemiskinan pribumi adalah hal yang amat mengusik batin Kartini. Sejak gadisnya hingga saat dia telah menjadi istri seorang Bupati Rembang. Saat masih di Jepara Kartini menuangkan keprihatinan itu pada suratnya untuk Ny. Abendnnon -Mandri tanggal 8 April 1902:

“Tadi siang kami demikian terharu tersentuh oleh contoh derita hidup. Seorang anak berumur 6 tahun berjualan rumput. Anak itu tidaklah lebih besar dari misanan kami; anak itu sendiri tidak terlalu kelihatan: seakan-akan ada dua anggukan rumput menyeberangi jalan. Ayah memanggilnya, dan dari situ terpampanglah sepotong sejarah, seperti ratusan. kalau tidak ribuan lainnya. Anak itu tidak berbapak' ibunya pergi bekerja, di rumah masih ada dua orang adik. dia yang sulung. Kumi bertanya apakah dia sudah makan. dijawabnya belum Mereka makan nasi hanya sekali sehari, malam hari apabila ibunya pulang. Sore mereka makan kue tepung aren Seharga sepeser. Kami memberinya makan namun nasi itu dibawanya pulang..."

"Apa sebab orang Jawa menjadi begitu sangat miskin?" Dan pemotong rumput yang penghasilannya tiap hari 10 atau 12 sen dipungut pajak pencaharian. Untuk tiap ekor kambing atau domba yang disembelih harus dibayar 20 sen. Demikianlah penjual sate yang toap jari menyembelih dua ekor kambing membayar pajak tiap tahun 144 gulden. Dan berapakah penghasilannya? Hanya cukup untuk hidup..." (Rembang, 10 Agustus 1904. Surat kepada Ny Abendanon - Mandri).

Di samping itu Kartini juga mengkritik pelayanan kesehatan yang amat minim bagi pribumi. Salah satunya, beliau melulkiskan tentang peristiwa meninggalnya seorang anak dalam perjalanan ke dokter terdekat yang harus ditempuh dalam waktu dua jam. Anak tertsebut tertabrak trem dan terluka parah. Tak seorang pun yang memiliki pengetahuan P3K sehingga anak tersebut kehabisan darah dalam perjalanan akibat luka yang tidak dibalut dengan baik. Hal ini beliau sampaikan dalam nota kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Januari 1903.

 

Baca surat-surat Kartini yang berisi keresahan jiwa akan penjajahan Belanda kepada rakyat Indonesia dalam buku Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah.