Sabtu , 22 April 2017, 13:48 WIB
Hari Kartini

Menelusuri Jejak Jati Diri Kartini

Red: Karta Raharja Ucu
Buku Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah
Buku Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika

Kartini, perempuan yang namanya abadi. Ia digambarkan sebagai seorang Muslimah yang besar dan lahir dari rahim sejarah panjang Indonesia. Rahayu Amatullah dalam bukunya, Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah, merawikan bagaimana perjalanan Kartini dalam mempelajari Islam. Bagaimana sosok perempuan yang memilih berjuang ketimbang urusan dapur-sumur-kasur.

Simak di bab pembuka, Rahayu menceritakan jejak sebuah jati diri seorang Kartini. Penggalan cerita tentang asal usul Kartini yang memunculkan kontroversil.

Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, NKRI dapat merdeka dan berdaulat hingga detik ini. NKRI adalah muara dari cita-cita para leluhur dan pejuang yang telah rela berkorban demi menegakkan martabat bangsa. NKRI adalah amanah yang harus kita jaga agar anak. cucu, dan generasi ke depan tetap dapat berdiri tegak sebagai bangsa Indonesia.

Raden Ajeng Kartini, kita sering memanggil beliau dengan "ibu kita Kartini", merupakan salah satu tokoh yang turut mendorong pergerakan bangsa menuju kemerdekaan. Untuk mengenang jasa beliau 2 Mei 1964. Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964 guna menetapkan RA Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Kepres ini sekaligus menjadikan hari lahir beliau, 21 April, sebagai Hari Besar Nasional. Hari besar yang hingga kini kita peringati sebagai Hari Kartini. Terlepas dari berbagai pertanyaan dan kritik mengenai peringatan ataupun penetapan beliau sebagai Pahlawan Nasional, saya mencoba menghadirkan runutan peristiwa perihal sosok perempuan yang tak dapat dipisahkan dalam perjalanan kita sebagai bangsa ini.

Sebagai manusia RA. Kartini tentu mengalami berbagai dinamika yang membentuk dirinya, baik dari aspek pemahaman, pemikiran, maupun perilaku. Dinamika ini saya ungkapkan dengan perjalanan menjadi diri, perjalanan Kartini binti Ario Sosroningrat hingga menjadi sosok yang kita kenal sekarang.

Sebagaimana manusia pada umumnya, Kartini pasti mengalami perjalanan dan dinamika dalam masa hidupnya yang ibarat noktah dalam bentang panjang sejarah peradaban. Melalui pemahaman ini kita dapat merunut pemikiran anak bangsa yang hidup di pengujung abad ke-19 ini. Apa yang dijalaninya-dihempas-diperasdi-gelandang; juga apa yang dipaksakan padanya.... Agar kita belajar menghargai-meniaga-memperjuangkanmengharumkan jati diri bangsa.

Sungguh tak enak menjadi bangsa, yang bahkan menamai dirinya sendiri saja tak punya kuasa, yang dikatakan bahwa dirinya tak punya sejarah dan takkan bisa membuat sejarah. Sejarah milik pemenang? Maka mari menjadi bangsa yang tak sudi kalah.

Membaca Kartini, tidak dapat kita lakukan hanya dengan menyusuri tahun-tahun kehidupan beliau saja. Kartini adalah jendela masa yang luar biasa penting-yang Allah SWT anugerahkan kepada kita-agar kita melongok ke masa lalu dengan lebih cermat: siapa sesungguhnya para pembentuk bangsa ini? Apa saja pencapaian mereka? Bagaimana mereka menanggulangi berbagai tantangan yang mengadang Nusantara, masa demi masa. . . .

Kartini lahir di penggalan waktu di mana penjajah kian merajalela menjarah kekayaan Nusantara. Pergolakan ideologis kala itu sedang menghebat di jantung Eropa. Kartini merekam bagaimana bangsa penjajah memeras habis darah dan keringat negeri jajahan. Bagaimana penjajah membonsai kesadaran dan kebanggaan anak bangsa atas daulatnya, dengan memelintir tanpa ampun plot dan tokoh sejarah sedemikian rupa, sehingga anak negeri tak lagi mengenali kebesarankehebatan generasi pendahulunya. Bahkan bertanya-tanya siapa sesungguhnya mereka. . ..

Kartini hadir dalam sisi keunikannya. Dia menuliskan pergulatan pemikirannya. Dia menuliskan hasil dari analisis dan pemotretan tajam yang dilakukannya pada kondisi sekitar dan juga dunia. Dia menuliskannya, apa adanya. Dia bertanya sekaligus mempertanyakan. Dia memuji yang menurutnya baik dan mendedah keburukan dari hal-hal yang menurutnya tidak patut dengan penuh kesantunan bahasa. Dia tidak takut mengkritik kebijakan penguasa. Dia menuliskan itu semua, apa adanya. Hingga tulisan-tulisan itu menjelma jendela makna bagi kita.

Demikianlah mengapa Kartini dapat menjadi inspirasi. Sama halnya dengan para pahlawan perempuan pejuang kemerdekaan lainnya. juga perempuan-perempuan berprestasi yang mengukir sejarah kebesaran Nusantara, Jiang tercatat dalam dokumen-dokumen awal sejarah kawasan ini.

Dan pada akhirnya, Kartini adalah neraca. Akankah kejujuran pada fakta akan menjadi pilihan sejarah bangsa? Ataukah pembingkaian demi pembingkaian terus mewarnai catatan perjalanan kita hingga mengaburkan eksistensi Indonesia.

Jika ditanya di mana Kartini lahir, dengan cepat tentu kita akan menjawab bahwa Kartini lahir di Mayong, Jepara, dan wafat di Rembang. Demikianlah adanya. Namun pertanyaannya: Mayong, Jepara... sudahkah kita menerima informasi yang lebih utuh dan dalam tentangnya? Informasi yang bahkan Kartini sendiri dahulu tidak terlalu benderang mengetahuinya. Minimnya informasi itulah ternyata yang menjadi sumber dari segala kemasygulannya manakala dia melihat fakta di sekelilingnya.

Jepara adalah Ratu Kalinyamat --gelar dari R.A. Retno Kencono putri Sultan Trenggono, Raja Demak ketiga, karena beliaulah yang menyematkan Jepara di peta dunia dengan penuh keanggunan. Direkam oleh para sejarawan Portugis, di antaranya Diego de Couto dalam bukunya Da Asia yang ditulis sekitar 1778-1788. yang menyebut beliau sebagai Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame (seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang wanita pemberani).

Jepara juga adalah Demak yang berarti peran Walisongo amat besar di dalamnya. Ialah yang mendidik masyarakat dan mengukuhkan eksistensi kerajaan. Maka peran seorang Nyai Ageng Pinatih--disebut juga Nyai Ageng Samboja, Nyai Gede Pinatih. Nyai Ageng Maloka, Nyai Salamah, dan Nyai Gede Tandes-tak dapat dilupakan, karena beliaulah syahbandar pelabuhan Gresik yang menjadi ibu asuh Sunan Giri.

Dan pada akhirnya jepara adalah refleksi arus perjuangan negeri ini dalam mempertahankan prinsip kebangsaan: masa Mataram Islam. Perang Aceh, dan Perang jawa, masa tanam paksa, dan pencengkeraman pemerintahan kolonial. lantas masa pergerakan kemerdekaan di awal abad ke-20.

Percik renungan dan pemikiran Kartini dalam tulisannya, membawa kita berjalan merentang jauh ke belakang, sekaligus melintas masa berbilang tahun ke depan, hingga batas cakrawala. Sebuah noktah penanda penuh makna dalam garis waktu perjalanan bangsa... di sanalah Kartini berada.

Baca selengkapnya di bagian I buku: Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah.