Kamis , 02 November 2017, 06:23 WIB

Heboh Penutupan Alexis dan Sejarah Pelacuran di Jakarta

Red: Karta Raharja Ucu
Antara Foto
Gedung Hotel Alexis, Jakarta, Selasa (31/10).
Pekerja membersihkan gerbong kereta api (ilustrasi)

Di Planet Senen, PSK Bercinta dengan Pelanggannya di Gerbong Kereta Bekas

Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot, mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930-an manggung di Batavia. Sedangkan, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran. Planet Senen namanya.

Nama planet ini diambil ketika terjadi persaingan antara AS dan Uni Soviet untuk meluncurkan sputnik ke Plannet pada 1960-an. Atau tempat pelacuran Malvinas di Bekasi yang menjulang saat terjadi perang antara Inggris dan Argentina memperebutkan kepulauan Malvinas (Folkland) di tahun 1980-an.

Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. Selain itu, operasi juga ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api.

Tempat pelacuran yang setiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971). Pekerja seksnya dipindahkan ke Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Sebelum ditertibkan Bang Ali, di sekitar Senen dari depan Bioskop Rivoli di Palputi hingga depan Bioskop Grand (Kramat) ratusan becak berseliweran dengan muatan para pelacur.

Hiburan bergengsi di Jakarta baru dimulai pada masa Ali Sadikin. Dipelopori tokoh perfilman Usmar Ismail yang mendirikan klub malam Mirasa Sky Club di puncak Gedung Sarinah di Jl Thamrin. Setelah ini berjamuran puluhan klab malam, panti pijat, diskotek, pub, salon, dan lokalisasi liar muncul di Jakarta. Striptease yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di Singapura hadir pula di panggung Jakarta. Sebelumnya Jakarta sempat dijuluki The Big Village atau kampung besar.