Kamis , 02 November 2017, 06:23 WIB

Heboh Penutupan Alexis dan Sejarah Pelacuran di Jakarta

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Mahmud Muhyidin
Gedung Hotel Alexis, Jakarta, Selasa (31/10).
Gedung Hotel Alexis, Jakarta, Selasa (31/10).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Tidak diperpanjangnya izin Hotel Alexis menjadi pemberitaan hangat beberapa hari terakhir. Tidak diperpanjangnya izin hotel yang disebut-sebut berkecimpung dalam bisnis prostitusi itu menjadi janji Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno pada masa kampanye.

Bicara bisnis esek-esek, Jakarta sudah lama dikenal sebagai kota penyedia 'kupu-kupu malam'. Kita tentu masih ingat beberapa tahun lalu, kawasan Mangga Besar oleh kepolisian dinyatakan sebagai salah satu pusat transaksi narkoba di Jakarta. Penyebabnya karena kawasan di Jakarta kota ini dipadati berbagai tempat hiburan: pelacuran, klab malam, panti pijat, perjudian, dan entah apa lagi namanya.

Pelacuran memang sudah merajelela sejak awal berdirinya Kota Batavia. Akibat kurangnya jumlah wanita saat itu, bisnis pelacuran pun menggeliat.

Seperti pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, pada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima uang 'lendir' setiap hari.

Pada Agustus 1631 diketahui beberapa perempuan telah melakukan zinah dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

Pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaaan serupa baik pada masa pra Islam maupun di masa Islam.

Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis. Sebutan lainnya adalah kupu-kupu malam.

Seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang, sejak dulu tempat operasi WTS selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tak heran jika Hotel Alexis dicurigai menyediakan jasa pemuas nafsu laki-laki.