Sabtu , 28 October 2017, 07:00 WIB
Sumpah Pemuda

Nama WR Soepratman Abadi Bersama Lagu Indonesia Raya

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Ronggo Astungkoro
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Memasuki Museum Sumpah Pemuda di Jl Kramat 106, Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat, saya merasakan seolah-olah berada di peristiwa 89 tahun yang lalu, ketika sekitar 81 pemuda dari berbagai perkumpulan pada 28 Oktober 1928 mencetuskan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Ketika itu, museum yang berdiri di atas tanah seluas 1.041 meter tersebut terdiri dari gedung utama seluas 460 m2 dan sejumlah pavilyun massing-masing seluas 45 m2. Di gedung utama itulah para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi kedaerahan menghadiri kongres pemuda yang berlangsung sejak sehari sebelumnya.

Sekitar sepuluh tahun lalu, Kepala Museum Drs Agus Nugroho saat itu mau bersusah payah mengantarkan saya mengelilingi museum bersejarah tersebut. Di gedung utama, saya menjumpai Wage Rudolf Soepratman, dengan biolanya, tengah membawakan lagu Indonesia Raya, yang kala itu berjudul Indonesia, tanpa Raya. Di depannya duduk tiga orang pimpinan sidang.

Dewasa ini terjadi silang pendapat tentang lagu Indonesia Raya, khususnya ketika Roy Suryo mengumumkan penemuan lirik lagu Indonesia Raya di perpustakaan Leiden, Belanda yang menbimbulkan heboh.

Agus Nugroho memberikan kepada saya syair lagu asli Indonesia Raya, yang diperdengarkan pertama kali pada 28 Oktober 1928 di Indonesische Clubgebouw nama gedung tersebut pada masa Hindia Belanda. Lagu kebangsaan yang didapatkan Roy Suryo adalah yang diperdengarkan dalam suatu acara pada pemerintahan Dai Nippon, tahun 1944. Lagu itu dikumandangkan dalam suatu rapat raksasa di Jakarta yang dihadiri ribuan massa.

Pihak Museum Sumpah Pemuda tidak berani berspekulasi mengenai tempat saat dikumandangkan lagu tersebut di depan massa. Tapi, saya menduga tempatnya di Lapangan IKADA (kini Monas), mengingat lapangan ini sering dijadikan tempat oleh Jepang yang tengah berperang melawan sekutu untuk menggerakkan rakyat Indonesia anti Amerika yang langsung dipimpin Jenderal Ikamura.

Ketika itu, untuk mengambil hati rakyat Indonesia, Jepang mencanangkan gerakan 3A, yakni Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang Pemimpin Asia. Gerakan 3A, yang juga diartikan Aku Anti Amerika, selalu dilakukan Jepang di lapangan-lapangan terbuka.

Apa yang ditemukan Roy Suryo adalah lirik lagu yang dinyanyikan pada masa pendudukan Jepang itu. Dan, benar terdiri dari tiga stanza (bait). ”Seluruhnya adalah ciptaan Wage Rudolf Soepratman,” kata Agus Nugroho. Ia sekaligus membantahnya sebagai penemuan Roy Suryo, karena sejak tahun 2002 pihak museum telah menyosialisasikannya ke masyarakat. ”Yang jelas para pandu (pramuka) hapal ketiga stanza itu,” katanya.

WR Soepratman, yang tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui pasti, sudah sejak lama ingin menyumbangkan sesuatu bagi perjuangan bangsanya. Tetapi, ia tidak tahu bagaimana caranya, karena ia hanya seorang wartawan dan pemain musik.