Kamis , 26 October 2017, 06:33 WIB

Mengenang Era Keemasan Sepak Bola Indonesia

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Prayogi
Maulwi Saelan
Maulwi Saelan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

PSSI saat ini ‘kedodoran’ dan kurang diperhitungkan di Asia, bahkan Asia Tenggara. Padahal era 1950-an hingga 1960-an sepak bola Indonesia pernah berjaya di Asia. Seperti diceritakan Maulwi Saelan yang pada 1951-1958 menjadi penjaga gawang PSSI dan sekaligus kapten tim nasional.

“Saat itu saya dan teman-teman bermain untuk timnas berbekal dengan kebanggaan tinggi sebagai putra Indonesia. Dengan semangat nasionalisme dan jiwa merah putih di dada, kami berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah persepakbolaan di Indo nesia,” tutur Saelan ketika mengisahkan sejarah sepak bola Indo nesia menjelang SEA Games di Palembang, beberapa waktu lalu.

Saelan menjelaskan taktik dan strategi Indonesia untuk menghadapi pemain-pemain Eropa yang memiliki kelebihan fisik dan tubuh tinggi besar. Menurut Saelan, Indonesia menyadari fisik yang kecil. Karena itu, tidak mungkin bagi timnas meladeni pola permainan tim Eropa. Kesimpulannya, timnas Indonesia harus mengembangkan pola permainan jarak pendek dengan kecepatan, kelincahan, dan strategi yang tidak mudah terbaca lawan. Ternyata pola permainan ini membuat lawan terkejut.

Pola permainan timnas Indonesia yang demikian, membuahkan prestasi di Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Selain itu, timnas juga mampu bersaing di berbagai tur negara Eropa Timur, seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Perpaduan antara Ramang yang memiliki gerakan cepat dan punya killer insting serta kematangan Djamiat Dalhar sebagai playmakersangat ditakuti oleh lawan-lawan In donesia saat itu. Bahkan, keduanya dijuluki 'Macan Asia'.

Strategi itu ternyata mampu melahirkan kekuatan besar bagi timnas Indonesia yang rata-rata bertubuh kecil. Salah satu kekuatan yang cukup besar bagi keberhasilan timnas adalah bermain dengan hati. Skuat Garuda tidak hanya mengandalkan otot dan otak. “Kami bermain dengan hati dan dengan semangat nasionalisme yang me luap-luap. Sepak bola adalah alat perjuangan dan alat pemersatu bangsa, seperti sering dikatakan oleh Bung Karno,” kata Saelan.