Kamis , 19 Oktober 2017, 06:33 WIB

Kisah Perempuan Pribumi Dipaksa Suaminya Melacur di Batavia

Red: Karta Raharja Ucu
Kompleks pelacuran di Batavia awal abad 20.
Pekerja seks komersil (PSK) terjaring razia

Kupu-Kupu Malam di Mangga Besar

Seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang, sejak dulu tempat operasi WTS selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tempat konsentrasi pelacur pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta kota).

Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan ataa, alias mereka yang berkantong tebal. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina. Seperti juga sekarang ini, banyak klub malam yang menghadirkan penghibur dan pelacur dari Hongkong, Taiwan, Pilipina, dan berbagai negara lain. Di Macao Po para pejajannya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan taipan atau orang berduit keturunan Cina.

Di dekat Macao Po, masih di kawasan Glodok terdapat pelacuran kelas rendah Gang Mangga. Tidak heran kalau sakit ‘perempuan’ kala itu disebut ‘sakit mangga’. Kemudian dikenal dengan sebutan raja singa atau sipilis.

Di abad ke-19, sipilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Penyakit itu mungkin bisa dikatakan seragam dengan AIDS/HIV sekarang ini yang sudah menginfeksi sekitar 130 ribu hingga 150 ribu orang di Indonesia yang 80 persen di antaranya usia produktif 15-29 tahun.

Kompleks pelacuran Gang Mangga ini kemudian tersaingi rumah-rumah bordil yang didirikan orang Cina yang disebut 'soehian'. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. Tapi kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial. Dasar suwean (sialan).