Kamis , 19 Oktober 2017, 06:33 WIB

Kisah Perempuan Pribumi Dipaksa Suaminya Melacur di Batavia

Red: Karta Raharja Ucu
Kompleks pelacuran di Batavia awal abad 20.
Kompleks pelacuran di Batavia awal abad 20.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Kawasan Mangga Besar oleh kepolisian dinyatakan sebagai salah satu pusat transaksi narkoba di Jakarta. Penyebabnya karena kawasan di Jakarta kota ini dipadati berbagai tempat hiburan: pelacuran, klab malam, panti pijat, perjudian, dan entah apa lagi namanya.

Saya sempat mewawancarai seorang petugas di kelurahan Mangga Besar. Ia mengemukakan pada malam hari penduduk kelurahannya meningkat dua kali lipat dibanding siang hari. Entah berapa ratus miliar rupiah yang mereka habiskan dalam semalam guna mencari hiburan di sana.

Pelacuran memang sudah merajelela sejak awal berdirinya Kota Batavia. Akibat kurangnya jumlah wanita saat itu, bisnis pelacuran pun menggeliat.

Seperti pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, pada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima 'uang lendir' setiap hari.

Pada Agustus 1631 diketahui beberapa perempuan bersetubuh dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

Pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaaan serupa baik pada masa pra-Islam maupun di masa Islam. Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya jadi WTS (Wanita Tuna Susila) dan kini lebih diperlunak lagi jadi PSK (Pekerja Seks Komersial).

Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis. Sebutan lainnya adalah kupu-kupu malam.