Senin , 31 July 2017, 07:00 WIB

Umat Islam Harus Waspada Tipu Daya Israel dan Antek-anteknya

Red: Karta Raharja Ucu
Ammar Awad/Reuters
Seorang warga Palestina berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsha dengan latar belakang Masjid Qubbah AS-Shakhrah (Masjid Dome of Rock)..
Seorang warga Palestina berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsha dengan latar belakang Masjid Qubbah AS-Shakhrah (Masjid Dome of Rock)..

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Tentara Israel sudah berkali-kali membuat rakyat Palestina menderita. Terakhir, akibat penutupan Masjid Al-Aqsha, kaum Muslim Palestina tidak bisa menunaikan shalat di tempat suci ketiga umat Islam tersebut.

Ini bukan kali pertama. Pada Februari 1994 contohnya, ketika terjadi pembantaian warga Palestina oleh seorang Yahudi di Masjid Hebron, Yerusalem, Habib Idrus Jamalullail langsung mengutuk keras peristiwa berdarah yang telah menewaskan 60 warga Palestina itu. Melalui ceramahnya di berbagai masjid dan majelis taklim kala itu, ia mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk lebih waspada menghadapi tipu daya dan janji-janji kaum Zionis dan antek-anteknya.

Karena itulah, ketika Komite Solidaritas untuk Dunia Islam (KISDI) menggelar aksi dalam suatu tabligh akbar di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Habib Idrus termasuk salah seorang pembicaranya. "Tapi sangat saya sayangkan waktu itu saya sedang keluar kota sehingga tidak dapat dapat hadir," kata dia saat berbincang dengan Republika, 8 Maret 1994 silam lalu di kediamannya, di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.

Baginya, peristiwa Hebron menunjukkan kebenaran peringatan dari Allah kepada kaum Muslim, untuk tidak percaya begitu saja kepada Yahudi. Termasuk upaya-upaya perdamaian yang dilakukan pihak Israel dengan Palestina.

"Semua itu hanyalah taktik Israel agar dunia menaruh simpati kepadanya," ujar Habib Idrus. Ia lalu mensitir ayat 120, surah al-Baqarah: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..."

Karena itulah dia sangat menghargai upaya KISDI mengadakan tabligh akbar untuk mengutuk pembantaian di masjid Hebron dan sekaligus mengutuk tindakan keji Serbia terhadap Bosnia. Dalam tabligh akbar itu, sekitar 5.000 umat Islam dengan penuh semangat telah membakar bendera Israel, sambil mengucapkan Allahu Akbar.

Melihat begitu banyaknya permasalahan yang dihadapi umat Islam dewasa ini, baik di Palestina, Bosnia, Suriah, maupun di tempat lainnya, bagi Habib Idrus tak ada cara penyelesaian lain selain umat Islam sedunia harus bersatu.

"Sudah masanya umat Islam bersatu karena sulit mengharapkan bantuan pihak lain," jelasnya. "Karena itulah saya tegas-tegas menentang, ketika ada suara-suara yang menginginkan Pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan Israel."

Dan perjuangan yang paling mendesak dewasa ini, menurutnya, umat Islam, khususnya bangsa-bangsa di Timur Tengah, harus dapat merebut kembali Masjid Al-Aqsha yang merupakan tempat suci umat Islam. "Ini karena saya pesimistis sekali tempat suci itu bisa kita peroleh kembali melalui perdamaian," tuturnya.