Ahad , 30 July 2017, 07:00 WIB

Di Gedung Ini Umat Yahudi Menggelar Ritual Memanggil Setan

Red: Karta Raharja Ucu
IST
Gedung Setan
Gedung Setan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Gedung yang berdiri kokoh hingga saat ini oleh orang Betawi tempo doeloe mereka sebut rumah setan. Terletak di Jl Budi Utomo, Jakarta Pusat, di sebelah kanan Departemen Keuangan dan Gedung Mahkamah Agung di Lapangan Banteng, kini ditempati perusahaan farmasi PN Kimia Farma.

Di masa Belanda, jalan ini bernama Vrijmetselaars Weg kata dalam Belanda Freemason Street. Lalu mengapa dinamakan gedung atau rumah setan? Karena di gedung yang dibangun pada 1856, Freemason, sebuah jaringan organisasi Yahudi di Batavia menjadikannya sebagai rumah pemujaan yang disebut loge atau loji.

Rumah atau gedung ini dijadikan tempat jaringan Yahudi internasional mengadakan pertemuan yang bersifat religius dan membahas filsafat, problem masyarakat, serta ekonomi sosial. Di dalam loji yang fungsinya mirip dengan sinagog, para anggotanya beraktivitas ritual menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita dan pikiran tertinggi manusia.

Bahkan, beberapa aktivitasnya di dalam loji adalah memanggil arwah-arwah atau jin dan setan. Karena itu, di beberapa tempat, loji juga sering disebut rumah setan karena memang tempat mereka menyembah roh-roh dan setan.

Gedung yang juga mendapat julukan rumah setan adalah kantor Bappenas yang ada di seberang Taman Suropati. Gedung Bappenas sekarang ini dulunya pernah dijadikan tempat pertemuan mereka. Kedua gedung itu disebut loji Bintang Timur.

Warga Yahudi sudah sejak masa kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia ketika dilakukan pemutusan hubungan diplomatik tahun 1957 karena soal Irian Barat (Papua), ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Veteran), dua kawasan elite di Batavia. Mereka adalah pedagang tangguh yang menjual berlian, emas, intan, perak, jam tangan, kacamata, dan berbagai komoditas lain.

Jaringan Yahudi Freemason pertama kali muncul di Batavia pada 1736 oleh seorang petinggi VOC, Jacobus Cornelius Matheus Radermacher, dan enam orang pengikutnya. Kemudian, berkembang khususnya orang Belanda dan Eropa yang berdarah Yahudi. Kebanyakan berasal dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.

Satu dari sekian doktrin yang dengan kuat diajarkan dalam persaudaraan Freemason adalah sikap mereka pada agama. Mereka anggap semua agama sama yang kini dikenal dengan istilah pluralisme, tulis Herry Nurdi dalam Jejak Freemason & Zionis di Indonesia.