Jumat , 10 Januari 2014, 00:40 WIB

Kota Paris Hibahkan Lahan untuk Rumah Indonesia

Red: Julkifli Marbun
dentons.com
Kota Paris, Prancis.
Kota Paris, Prancis.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kota Paris menghibahkan lahan seluas 2.000 m2 untuk pembangunan "Rumah Indonesia" dalam upaya mendukung kesepakatan Kemitraan Strategis antara pemerintah Indonesia dan Perancis yang ditandatangani di Jakarta pada Juli 2011.

Atdikbud KBRI Paris, Syafsir Akhlus, kepada Antara London, Kamis mengatakan hubungan bilateral antara kedua negara terutama pada pilar-pilar kerjasama yang ada pada Kemitraan Strategis semakin hari semakin meningkat.

Dikatakannya untuk mendukung Kemitraan Strategis Indonesia-Perancis, Cit' Internationale Universitaire de Paris (CIUP) siap menghibahkan 2.000 m2 lahan kepada pemerintah Indonesia untuk pembangunan "Rumah Indonesia".

Menurut Syafsir Akhlus, penawaran hibah dari CIUP ini sudah disampaikan Carine CAMBY, D'l'gu'e G'n'rale CIUP, kepada Mendikbud RI di KBRI Paris pada saat kunjungan Mendikbud ke Perancis, tahun lalu.

Cit' Internationale Universitaire de Paris (CIUP) adalah kompleks asrama internasional di Paris yang dibentuk pada tahun 1925 sebagai salah satu kawasan internasional yang ada di Paris.

Sebagai salah satu pilar, kerjasama dibidang pendidikan tinggi dan riset menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dengan adanya kerjasama antar perguruan tinggi kedua negara melalui Joint Working Group (JWG) Pendidikan Tinggi dan Riset yang meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan tingginya di Perancis.

Peningkatan jumlah mahasiswa tentunya memerlukan tambahan fasilitas bagi mahasiswa, khususnya tempat tinggal. Penyediaan sarana tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Perancis, khususnya di Paris, mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota Paris melalui Cit' Internationale Universitaire de Paris (CIUP).

Di dalam kompleks CIUP terdapat 40 rumah (maison), 25 rumah di antaranya adalah milik 25 negara yang membangun rumah negaranya masing-masing. Selain dari negara-negara yang sudah memiliki rumahnya, CIUP juga ditempati mahasiswa dari negara-negara . Setiap tahun tercatat kurang lebih 12.000 mahasiswa dan peneliti dari 130 negara tinggal di CIUP.

Pada saat ini CIUP mendapatkan pesetujuan dari pemerintah kota Paris untuk perluasan kampusnya dan CIUP telah menyiapkan empat kavling, tiga kavling diantaranya disiapkan untuk tiga negara baru.

Dikatakannya berdasarkan pertimbangan kedekatan hubungan bilateral dengan Perancis dan pertumbuhan ekonomi dari negara, CIUP memberikan prioritas kepada Cina, Korea Selatan dan Indonesia untuk membangun "Rumah (Maison)"-nya di tiga lahan yang telah disiapkan.

Menurut Syafsir Akhlus, tiga negara yang yang ditawarkan, Cina dan Korea Selatan menyatakan kesediaannya, dan CIUP saat ini sedang menunggu jawaban dari pemerintah Indonesia.

Untuk mempermudah pengambilan keputusan pada tingkat pimpinan, CIUP bekerjasama dengan Atdikbud KBRI Paris menyusun proposal pembangunan Rumah Indonesia (Projet de maison de l'Indon'sie), proposal ini sudah diserahkan ke Kemdibud, Kemenpera dan Bappenas melalui Kedutaan Besar Perancis di Jakarta.

Dikatakannya, kapling yang ditawarkan kepada pemerintah Indoneisa tempatnya sangat strategis (lihat warna merah pada gambar), terletak tepat disamping p'riph'rique (jalan lingkar kota Paris).

"Apabila bangunan 'Rumah Indonesia' tersebut di desain dengan baik dan unik, maka dipastikan akan mudah sekali terlihat dan terbaca jutaan orang yang melewati p'riph'rique tersebut," ujarnya menambahkan baik dari sisi dalam (p'riph'rique int'rieure) maupun dari sisi luar (p'riph'rique ext'rieure).

Kavling yang akan dihibahkan tersebut seluas 2.000 m2, dengan nilai 7 juta euro, terletak didalam kompleks CIUP. yang terletak didalam kota Paris, tepatnya di wilayah (arrondissement) 14, terhubung dengan tiga kampus utama di Paris: Sorbonne, Saclay dan Condorcet melalui jalur transportasi publik RER B. Jalur RER B ini juga menghubungkan langsung CIUP dengan Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle.

Untuk pembangunan Rumah Indonesia seluas 7.000 m2 diperkirakan akan membutuhkan dana kurang lebih 22 juta euro, dengan lama pembangunan empat tahun.

Dari hasil pembicaraan Atdikbud KBRI Paris dan pimpinan CIUP, pembangunan Rumah Indonesia dapat dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia atau pihak yang ditunjuk Indonesia dengan supervisi atau pengawasan dari Perancis, khususnya dalam arsitekturnya.

Sebagai gambaran awal, didalam Rumah Indonesia tersebut nantinya akan ada 200 kamar/studio tempat tinggal dan satu ruangan besar (hall) yang dapat digunakan sebagai Pusat Budaya Indonesia sekaligus tempat pertunjukan/pagelaran seni dan budaya Indonesia yang permanen.

Berdasarkan perhitungan tahun pelajaran 2011/2012, sewa per kamar di CIUP dengan luas 18 m2 adalah 530 euro per bulan, sudah termasuk listrik, pemanas, air dan biaya tambahan lainnya. Sewa kamar ini tentu saja terbilang murah untuk ukuran tempat tinggal di Paris.

Sebagai mahasiswa, nantinya setiap mahasiswa yang menempati kamar di CIUP akan mendapatkan allocation de logement social (ALS) dari pemerintah Perancis sebesar 945 euro per tahun (nilai untuk tahun 2012).

Bila ALS tersebut diakumulasikan untuk 10 tahun kepada 200 mahasiswa Indonesia yang akan menempati Rumah Indonesia di CIUP, maka secara langsung pemerintah Perancis memberikan bantuan berupa santunan senilai kurang lebih 2 juta euro kepada mahasiswa Indonesia.

Di samping sebagai tempat tinggal mahasiswa, Rumah Indonesia juga dapat digunakan sebagai Pusat Budaya Indonesia atau Rumah Budaya Indonesia, karena Rumah Indonesia tersebut adalah bangunan milik Republik Indonesia dan dikelola sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia.

Pusat budaya ini dapat merupakan tempat untuk mempromosikan budaya Indonesia secara teratur melalui pagelaran dan kajian seni dan budaya Indonesia, sekaligus menjadi sumber informasi tentang Indonesia bagi masyarakat Perancis dan Internasional yang ada di Paris dan sekitarnya.

Menurut Syafsir Akhlus, yang ikut menyusun proposal Rumah Indonesia, kavling yang akan dihibahkan kepada pemerintah Indonesia merupakan kavling terakhir yang ada di CIUP. "Apabila pemerintah Indonesia tidak segera mengambil keputusan untuk mengambil kesempatan tersebut maka dipastikan tidak ada lagi kesempatan membangun Rumah Indonesia di CIUP, karena kavling tersebut akan segera dihibahkan kepada negara lain yang lebih siap, " ujarnya.

Cina dan Korea Selatan dengan cepat menyatakan kesiapan dan kesediaan membangun rumah mereka karena melihat banyaknya keuntungan yang diperoleh dari proyek ini, baik keuntungan langsung dalam bentuk in cash dari hibah tanah dan bantuan untuk mahasiswa, maupun keuntungan tak langsung dalam bentuk in kind berupa peluang menunjukkan eksistensi negara dan budaya di Kota Paris.

Jadi, dalam beberapa tahun mendatang, semoga kita tidak sedang bermimpi saat kita melintasi p'riph'rique Paris didekat CIUP, kita akan melihat sebuah bangunan indah yang bertuliskan "Maison d'Indon'sie" sebagai salah satu simbol sukses kemitraan strategis Indonesia-Perancis, demikian Syafsir Akhlus.

Sumber : Antara

Berita Terkait