Kamis , 27 February 2014, 03:04 WIB

Umat Jauh dari Alquran

Red: Damanhuri Zuhri
Republika/Agung Supriyanto
Alquran
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ani Nursalikah

Perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam hanya akan berbuah kerugian dan kegagalan.

CIPUTAT -- Imam dan khatib Masjidil Haram Syekh Saleh bin Mohamed bin Taleb menegaskan, Alquran adalah sumber inspirasi umat Islam. Menurutnya, dalam Alquran terkandung petunjuk yang mencakup semua bidang kehidupan, seperti politik, agama, dan budaya.

''Saat ini banyak terjadi perpecahan karena umat jauh dari Alquran,'' ujar Syekh Saleh dalam Konferensi Internasional Studi Alquran yang diselenggarakan Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) bertepatan dengan milad ke-70 Prof M Quraish Shihab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (15/2).

Padahal, menurut dia, Alquran telah memperingatkan agar umat Islam berpegang teguh kepada Alquran dan tidak bercerai-berai. Syekh Saleh mengingatkan, perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam hanya akan berbuah kerugian dan kegagalan.

Syekh Saleh pun menyerukan pentingnya mempelajari dan mendekatkan diri dengan Alquran. "Alquran bukan cuma untuk dibaca, tapi direnungkan ayat-ayatnya,'' tegasnya. Pihaknya sangat mendukung upaya studi Alquran seperti yang sedang dilakukan PSQ.

Menurut dia, tafsir yang baik adalah yang bisa dijelaskan oleh Alquran sendiri. Syekh Saleh mengimbau agar umat Islam mencari tafsir dari ulama yang betul-betul berpegang teguh kepada Alquran. ''Mengetahui asbabun nuzul sangat penting dalam menafsirkan Alquran,'' ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, pendiri PSQ Prof M Quraish Shihab menuturkan, masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, dan budaya yang berbeda. Ia mengaku bermimpi nilai-nilai Alquran diterapkan dalam masyarakat yang majemuk tersebut.

Quraish berpendapat setiap manusia mempunyai hak menyampaikan pendapat. "Semua pendapat yang bertanggung jawab harus dihormati. Namun, penghormatan itu tidak mutlak disetujui," ujar Quraish. Ia berharap dukungan dari semua pihak sehingga cita-cita untuk membumikan Alquran bisa terwujud.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengaku bersyukur dengan hadirnya Quraish Shihab sebagai seorang ilmuwan Muslim yang giat memperkenalkan Alquran kepada masyarakat Indonesia yang berlapis-lapis.

Nasaruddin Umar menilai, pemikiran Quraish yang moderat cocok untuk diterapkan dalam masyarakat Indonesia yang plural.

Nasaruddin yang juga menjabat sebagai wakil direktur PSQ menjelaskan, agama ada untuk memberi tuntunan kepada masyarakat. Namun, agama dan realitas kini bagaikan hidup berdiri sendiri.

"Split personality seperti ini dapat melahirkan gerakan keras," paparnya. Contoh kepribadian ganda itu bisa dilihat pada sosok seorang haji yang tetap saja menyerobot hak orang lain.

Ironisnya, masyarakat cenderung tidak peduli. Bahkan, masyarakat menganggap seorang saleh tapi kikir sebagai suatu hal yang lumrah.

Tindakan tersebut dianggap wajar dan seolah mendapat legitimasi dari masyarakat. Nasaruddin menganggap ada hal yang salah dari sisi teologis.

"Pembumian Alquran perlu untuk memanusiakan manusia. Alquran adalah surat undangan Tuhan bagi manusia untuk kembali ke kampung halamannya di surga," katanya.

Seminar Internasional Alquran yang digelar PSQ berlangsung 15-16 Februari 2014. Sebanyak delapan akademisi dari dalam dan luar negeri menjadi pembicara dalam konferensi yang diikuti sekitar 700 peserta itu.

Seminar itu mengusung tema "Membumikan Al-Qur'an: Menuju Studi Qur'an yang Transformatif". Acara yang dibuka Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar itu pada hari pertama terbagi dalam dua sesi.

Sesi pertama membahas isu “Challenges of Qur'anic Studies in Global Era” yang dipandu oleh Alwi Shihab sebagai moderator.Sesi kedua mengambil tema “Tafsir Studies in Southeast Asia”.

Pada hari kedua, dipresentasikan 70 makalah secara pararel dalam sembilan kelas. Para pembicara adalah mahasiswa pascasarjana dari dalam dan luar negeri yang mempelajari mengenai studi Alquran.

Hingga tahun ini, PSQ sudah mencetak 1.000 ulama. Mereka berasal dari Pesantren Pasca Tahfiz Bayt Qur'an serta pendidikan kader mufasir.