Selasa , 16 Desember 2014, 09:20 WIB

Islam Dalam Krisis (II)

Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif
Professor Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dinasti Umayyah yang sepenuhnya bercorak Arab dibangun Mu’awiyah di atas kafan ‘Ali bin Abi Thalib dengan ibu kota Damaskus. Rezim ini bisa bertahan sekitar 90 tahun (661-750) untuk kemudian diluluhlantakkan oleh rezim baru, campuran Arab dan Persi, dinasti ‘Abbasiyah (750-1258), dengan ibu kota Baghdad. Muslim keturunan Persi merasa dianaktirikan oleh rezim Umayyah sebagai warga mawâlî (kelas dua) cepat bergabung dengan rezim ‘Abbasiyah yang semula berpusat di Khurasan (Persi).

Peradaban memang berkembang hingga mencapai puncak-puncaknya yang tertinggi, tetapi semua itu juga dibangun di atas tengkorak umat Islam yang berbeda pandangan politik. Salah seorang dari unsur dinasti Umayyah yang bebas dari pengejaran pasukan ‘Abbasiyah, Abd al-Rahman I (al-Dâkhil) lari ke Spanyol untuk kemudian pada tahun 756 membangun kerajaan di sana yang bisa bertahan berabad-abad sampai 1031 disertai perkembangan peradaban yang tidak kalah hebatnya dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh dinasti ‘Abbasiyah di belahan Timur. Kita semua pasti bangga dengan capaian-capaian itu, tetapi jangan lupa membaca sisi gelap yang lain: politik kekuasaan telah menghancurkan perumahan persaudaraan umat dengan membuang jauh perintah Alquran tentang persatuan berdasarkan iman ke dalam limbo sejarah. Dalam politik kekuasaan, iman sering benar digantikan oleh semangat suku, ras, atau keturunan.

Rezim ‘Abbasiyah dalam sejarah biasa disebut sebagai abad emas Islam. Nomenklatur ini tentu tidak salah sepanjang menyangkut aspek kemegahan duniawi tanpa menengok keutuhan internal umat yang berantakan. Kehancuran Baghdad oleh serangan pasukan Hulagu (Mongol) pada 1258 tidak serta merta membawa kehancuran rezim-rezim Muslim yang lain. Di Spanyol masih bertahan kerajaan-kerajaan kecil Muslim pasca dinasti Umayyah sampai pada tahun 1492 ketika pasukan Katolik-Salib mengusir umat Islam seluruhnya dari sana dengan diberi pilihan: pindah agama, diusir, atau dibunuh, termasuk umat Yahudi yang juga harus lari dari sana. Dalam hal toleransi lintas agama, filosuf agnostik Bertrand Russell menulis dalam karyanya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm. 202): “Imperium para khalifah bersikap lebih ramah kepada orang Yahudi dan Kristen dibandingkan dengan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Islam).”

Tetapi harus pula dicatat bahwa imperium khalifah tidak memberi ruang gerak kepada lawan-lawan politiknya sesama umat Islam. Ini yang berlaku sepanjang sepanjang sejarah. Darah lebih banyak tertumpah dalam perang sesama Muslim dibandingkan dengan sengketa dengan pihak lain, kecuali dalam Perang Salib (dalam bahasa Arab: al-ĥurûb al-shalîbiyyah) yang berlangsung lebih sedikit dari dua abad itu (1095-1291). Krisis demi krisis yang dialami Islam hampir selalu berkaitan dengan politik kekuasaan, baik antara sesama Muslim atau antara Muslim berhadapan dengan kekuatan non-Muslim.

Bahwa Islam terus saja berkembang dengan merebut pengikut-pengikut baru dari berbagai bangsa adalah juga kenyataan yang terus saja berlangsung. Jumlah umat Islam sekarang dengan angka moderat sebesar 1,6 miliar tidak akan jauh dari fakta yang sebenarnya. Saban hari di berbagai penjuru bumi Muslim baru terus saja bermunculan. Krisis tidak menghalangi pendatang baru itu. Di Amerika Serikat, justru pasca Tragedi 11 September 2001, jumlah warga Muslim semakin banyak saja di sana. Semakin Islam disudutkan, semakin muncul saja manusia yang mencarinya. Ini memang ajaib.

Sebelum hancur total, Rezim ‘Abbasiyah secara berangsur tetapi pasti telah digantikan oleh pendatang baru yang bukan Arab atau Persi. Mereka berasal dari puak Turki yang nenek moyangnya berasal dari Asia Tengah. Setelah melalui proses panjang dan berliku, puak ini lambat laun menjadi penganut Islam, umumnya bermazhab Hanafi. Bermula dari dinasti Saljuk pada abad ke-11, kemudian di akhir abad ke-13 diambilalih oleh dinasti Usmaniyyah (1299-1924), sebuah imperium besar dan gagah yang menakutkan dan menggoncangkan pihak Eropa yang bertahan sampai sekitar tujuh abad. Pada tahun 1453 di bawah Sultan Muhammad II al-Fâtiĥ (Pembuka/Penakluk), kota megah Konstantinopel ditaklukkan dari pihak Bizantium (Romawi Timur), sebuah peristiwa yang sangat menyakitkan pihak Kristen dan dunia Barat sampai hari ini.

Dari sisi ini saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Ismail R. al-Faruqi yang mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi penakluk, tetapi sebagai pembuka jalan untuk dakwah Islam (al-futuĥât). (Lih. Ismail Ragi al-Faruqi dan Lois Lamya al-Faruqi, The Cultural Atlas of Islam (New York: Macmillan Publishing Company, 1986, hlm. 202-229). Dalam kasus Konstantinopel, proses penaklukan itu sangat jelas. Gelar al-Fâtiĥ yang disandang Muhammad II adalah sebagai penakluk. Adapun sifat penaklukan itu dinilai lebih beradab, sebagaimana Russell mengatakan, juga adalah sebuah fakta sejarah.