Senin , 17 Juli 2017, 07:12 WIB

Nederlandsche Handel Maatschappij Jadi Museum Bank Mandiri

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Edi Yusuf
Museum Bank Mandiri
Museum Bank Mandiri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Di Jalan Stasion No 1, Jakarta Kota pernah berdiri Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Bangunan itu berada di seberang stasiun kereta api Jakarta Kota. Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk mulai dibangun 1929, dirancang tiga arsitek Belanda, JJJ de Bruyn, C van der Linde dan AP Smits. Diresmikan 14 Januari 1933 CJ Karel van Aalst, Presiden ke-10 NHM saat itu sebagai gedung Factorij Batavia.

Setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada masa Presiden Sukarno, gedung ini beralih menjadi kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), kemudian sejak 1968 sebagai kantor pusat Bank Exim. Sampai akhirnya terbentuk Bank Mandiri 2 Oktober 1998, dan kini menjadi Museum Bank Mandiri.

Setengah abad lalu, jalan raya Jakarta Kota yang kini hiruk pikuk dan macetnya kagak ketolongan, saat itu tampak sepi tidak menyulitkan bagi orang untuk menyeberang. Di depan gedung yang hingga kini masih tampak megah, ada jalur trem listrik dari arah Pasar Ikan menuju Harmoni.

Dari Harmoni trem menuju Sawah Besar–Gunung Sahari–Senen–Matraman dan Jatinegara. Dari Harmoni juga ada yang menuju Tanah Abang. Pokoknya ketika itu, seluruh jalan raya di Ibu Kota dilewati trem listrik.

Berdekatan dengan trem tampak sebuah mobil merek Moris tahun 1940’an buatan Inggris. Juga sebuah mobil merek Chevrolet tahun 1940-an, yang tengah melintas di jalan yang sunyi.

Pada 1950-an belum satu pun mobil Jepang yang nongol di Jakarta. Maklum negara itu baru kalah perang dengan sekutu ketika di bom atom (Agustus 1945). Mobil buatan Eropa lainnya yang banyak dimiliki orang berduit adalah Fiat (Italia) dan Mercy (Jerman).

Lahirnya NHM punya kaitan dengan sistem tanam paksa yang diarsiteki oleh Gubernur Jenderal Graf van den Bosch (1830-1833). Karena pada 1799 VOC bangkrut akibat korupsi yang dilakukan hampir semua pejabatnya, maka didirikanlah NHM yang membeli barang-barang petani dengan harga murah. Akibat sistem ini ribuan orang dikabarkan mati, karena hasil jerih payahnya dibeli dengan harga sangat murah.

Begitu besarnya keutungan NHM –pengganti langsung dan pewaris VOC— hingga hampir separuh uang dari Hindia Belanda disedot ke Nederland. NHM juga memiliki Escompto Bank NV yang pada 1940-an mengeluarkan surat lembaran saham yang bernilai 200 gulden dan 400 gulden.

Setelah Indonesia merdeka oleh Menteri Kehakiman pada 11 Juni 1952 maka saham-saham dengan nilai gulden diubah menjadi rupiah. Pada masa itu nilai rupiah masih tinggi. Tapi sejak 1960-an nilainya anjlok ketika inflasi tanpa mengenal ampun merangkak naik lebih dari 600 persen.

Pada masa Belanda uang pecahan tertinggi 20 gulden, sedangkan pada masa Bung Karno Rp 20 ribu. Pada 1993 keluar uang pecahan bernilai Rp 50 ribu dengan gambar Presiden Soeharto yang kini tidak laku lagi. Awal 2000-an keluar mata uang Rp 100 ribu, dengan gambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Gedung Museum Bank Mandiri yang terdiri dari empat lantai, luas lahannya 10.039 m2, sedangkan bangunan 21.509 m2. Koleksi yang tersimpan di Museum Bank Mandiri kurang lebih 26 ribu item terdiri dari benda/ barang yang punya nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan yang mencerminkan proses awal perkembangan dan terbentuknya Bank Mandiri sejak masa Hindia Belanda (NHM, Escompto dan NIHB).