Saturday, 1 Safar 1439 / 21 October 2017
find us on : 
  Login |  Register
Jumat , 25 July 2014, 13:00 WIB

Dodol Betawi, Sajian di Hari Fitri

Rep: mgrol24/ Red: Didi Purwadi
Antara/M Agung Rajasa
Perajin menyusun besek dodol Betawi.
Perajin menyusun besek dodol Betawi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setu Babakan adalah sebuah perkampuan Betawi dimana keluarga asli Betawi tinggal. Tidak hanya penduduknya saja yang bermukim di sana bahkan cagar wisata tersimpan baik didalam museum setu babakan.

Sama dengan daerah lainnya, Betawi tidak lepas dari makanan khasnya antara lain toge goreng, geplak, kerak telor, bir pletok, dodol betawi dan sebagainya.

Pada hari Lebaran yang bakal datang tiga atau empat hari lagi ini, biasanya warga Betawi menyajikan makanan beraroma manis. Tak lengkap rasanya bagi sebagian warga Betawi bila Lebaran tidak menyajikan makanan khas mereka yaitu “dodol betawi“.

Makanan legit yang terbuat dari beras ketan, kelapa, gula merah dan gula putih itu biasanya disuguhkan kepada keluarga besar dan tamu ketika berkunjung saat tradisi Lebaran.
 
Tapi sayangnya, tidak banyak warga Betawi di daerah Setu Babakan yang melestarikan tradisi pembuatan dodol betawi menjelang lebaran. Keluarga Hj. Masnana (70) mungkin salah satu yang masih melestarikan tradisi tersebut.

Hj Masnana menurunkan warisan pembuatan dodol kepada anaknya Hj. Marni (54). Ibu tiga anak ini  mengembangkan 'warisan' pembuatan dodol Betawi milik keluarga tersebut. Bahkan, Hj. Marni sering kali kebanjiran order 'dodol Betawi' ketika menjelang hari Lebaran.

“Awalnya mah saya bikin buat keluarga, tapi banyak yang minta untuk dijual, mau gimana lagi. Tapi saya bikin kalo ada pesenan aja jadi, sekalian bikin banyak,” ujar Hj. Marni ketika berbincang dengan Republika Online.
 
Dodol yang dikenal dengan nama Hj. Marni ini berada di Jln. Moh Kaffi II Jakarta Selatan memulai usahanya sejak 4 tahun lalu. Berawal dari dodol yang disajikan untuk keluarga besar mempunyai rasa yang khas, warga sekitar meminta ibu Marni untuk menjual dodolnya lebih luas sampai Bekasi bahkan warga ada yang membawanya sampai ke Malaysia.

Tidak banyak warga sekitar yang membeli dodol buatan ibu Marni, tatapi para pengunjung Setu yang melintas depan rumahnya sering membeli dodol buatannya.
                                                                                                                                                               Hj. Marni

Dodol yang dijual dengan harga 65 ribu per besek itu memiliki rasa yang manis tanpa campuran pemanis buatan dan memiliki tekstur yang padat. Rasa asli dodol Betawi ini orisinil tanpa berkombinasi dengan bahan yang lain.
 
Proses pembuatan memakan waktu selama 12 jam. Selain semua bahan baku harus dimasak terlebih dahulu, proses mengaduknya juga memerlukan waktu tidak sebentar. Proses pengadukan sekitar 5 jam dan membutuhkan tenaga kuat untuk mengaduk adonan hingga berubah warna menjadi coklat tua.

Dodol dibuat di atas tungku api dengan menggunakan kuali besar. Karena masak menggunakan tungku api dapat memberikan aroma bau yang khas dan kekentalan dodol tersebut menjadi rata.
 
Dodol Betawi ini dapat betahan lama hingga 2 bulan tergantung cara menyimpannya. Dalam usahanya ibu Marni telah memiliki pelanggan tetap, salah satunya Po Aji Sanimah (60). Ia sering memesan dodol buatan ibu Marni menjelang lebaran dan ketika ada acara di rumahnya.

“Nenek mah sering pesen dodol di sini nak, soalnya rasanya enak dan tahan lama. Apalagi, nggak alot buat dimakan sama orang tua dan enak kalo ada tamu di rumah, tinggal sediain dodol aja,” kata Sanimah

Khusus menjelang Idul Fitri 1435 H, pesanan dodol betawi di tempatnya cukup ramai. Dalam sepekan ini, Hj. Marni membuat dodol sebanyak 3 kali.

Sebelumnya ada tradisi lain selain pembuatan dodol, yaitu membuat uli dan geplak. Tapi, tradisi itu seakan telah hilang. Saat ini tradisi kirim rantang kepada para tetangga sering dilakukan oleh warga betawi maupun warga lainnya sehari menjelang lebaran.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))