Kamis , 18 Mei 2017, 16:35 WIB
2 Abad Kebun Raya Bogor

Sejak Zaman Belanda, Bogor Tempat Melepas Penat Warga Batavia

Red: Karta Raharja Ucu
Yasin Habibi/Republika
Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Buitenzorg atau secara harfiah berarti Kota tanpa rasa risau. Julukan itu disematkan untuk Kota Bogor oleh warga Belanda karena saking kagumnya dengan keindahannya.

Belanda memang memberikan nama-nama gelar bagi kota tempat yang mereka promosikan untuk menarik kedatangan para wisatawan mancanegara. Seperti Batavia mereka sebut Queen of the East (Ratu dari Timur); Garut, Bern of the East (Bern kota di Swiss dari Timur); atau Bandung, Parijs van Java (Paris dari Jawa).

Bogor yang jaraknya hanya sekitar 60 km sebelah selatan Batavia menjadi tempat yang diincar warga untuk berwisata di akhir pekan. Dulu di dekat Kebun Raya Bogor terdapat Hotel Belleuve, gedung berwarna putih yang kini sudah tergusur. Kemudian, Belanda membangun Hotel Salak yang hingga kini masih kita dapati terletak di depan Kebun Raya.

Sampai 1960-an Bogor masih merupakan kota untuk para pensiunan. Belum banyak kendaraan bermotor seperti sekarang. Di jalan elite inilah pernah tinggal Ibu Hartini, istri Presiden Sukarno. Dari jalan raya inilah, setelah melewati Kebun Raya, kita menuju ke arah Puncak. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya ketika Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) membangun 'Jalan Pos' di tengah-tengah medan tanjakan dengan menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut baru-batuan dan menghancurkan bukit-bukit. Tetapi sekarang, Bogor berganti julukan, "Kota Seribu Angkot".

Seorang penulis Belanda pada 1912 menceritakan tamasya ke Bogor dari Batavia, suatu kebiasaan yang dilakukan warga Belanda dan orang-orang-orang kaya guna berakhir pekan menghadapi kesumpekan Kota Batavia saat musim panas. Dari Hotel Bellevue di kaki Gunung Salak, para pelancong bisa melihat pemandangan yang paling indah. Selama bergulat dengan berbagai kesibukan di Batavia, seolah-olah hilang melihat pemandangan indah dan udara segar yang pada malam hari cukup membuat badan menggigil.

Awal 'penemuan' Kota Bogor terjadi saat Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada 1744 mengadakan ekspedisi ke daerah selatan Batavia. Di tengah perjalanan, ia terpesona oleh keindahan Kota Bogor.

Gubernur Jenderal keturunan Jerman ini langsung memerintahkan pembangunan gedung untuk tempat tinggal para gubernur jenderal yang kini menjadi Istana Bogor. Seperti juga para gubernur jenderal, Presiden Sukarno juga menghabiskan akhir pekannya di Istana Bogor. Istana ini kemudian dirapikan Gubernur Jenderal Daendels.

Para gubernur jenderal ini pergi ke Bogor dengan kereta kuda yang ditarik dua sampai empat ekor kuda. Belanda juga membangun Istana Cipanas di tempat yang lebih tinggi dan letaknya di Kabupaten Cianjur. Bung Karno, menjelang 17 Agustus, selama beberapa hari tinggal di Istana ini membuat naskah pidato yang akan dia sampaikan di hadapan rakyat pada peringatan kemerdekaan.

Bogor, kota yang begitu dibangga-banggakan dan tempat istirahat warga Jakarta, kini merupakan kota yang kemacetannya terasa hampir di seluruh penjuru kota. Bukan hanya macet, polusi udaranya sudah tidak ketulungan lagi.

Padahal, Kota Hujan ini memiliki Kebun Raya yang amat terkenal di dunia, khususnya di kalangan ahli botani. Di sini bisa ditemui koleksi dari banyak jenis tanaman langka dari berbagai penjuru dunia. Tidak kurang 10 ribu jenis tanaman ada di Kebun Raya yang didirikan pada 1817. Kini, Bogor berpenduduk sekitar dua juta jiwa. Tiap hari ratusan ribu dari mereka dengan KRL dan kendaraan bermotor menyerbu Kota Jakarta, tempat mereka mencari nafkah.

Bogor merupakan tempat rekreasi yang banyak dikunjungi orang, terutama dari Kota Batavia. Setiap Sabtu mereka pergi ke Kebun Raya Bogor. Waktu itu belum banyak penginapan. Setelah puas di Bogor, biasanya wisatawan menuju ke Cipanas untuk menikmati keindahan pemandangan pegunungan.

Warga Belanda menikmati sekali pemandangan di Bogor. Para jenderal Belanda lebih senang tinggal di Bogor. Waktu itu hari libur, warga Belanda berangkat Sabtu pagi dan pulang ke Batavia Ahad sore.

Dulu warga pribumi untuk pergi ke Bogor biasanya naik oplet. Dari Jakarta Kota ke Bogor lewat jalur Depok, Cibinong. Saat itu belum ada kemacetan. Sehingga cepat. Ongkosnya satu ringgit (seringgit) untuk satu penumpang. Naik oplet waktu itu masih nikmat, karena tidak ditemui kemacetan. Bahkan sampai tahun 1950-1960-an masih ada oplet.