Sabtu , 08 April 2017, 07:00 WIB

Keindahan Batavia Menyihir Warga Eropa

Red: Karta Raharja Ucu
Arsip Nasional
Pasan dan Benteng Batavia Abad ke-17
Pasan dan Benteng Batavia Abad ke-17

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Jakarta, yang dulu bernama Batavia, pada abad ke-18 sangat terkenal di dunia, sehingga mendapat julukan Koningen van het Oosten, atau 'Ratu dari Timur'. Bagaimana situasi Batavia saat itu, seorang pelaut Inggris, Woodes Rogers, ketika berkunjung tahun 1710, melukiskan: "Rumah-rumah besar dan gedung di sekeliling kota dibangun dengan rapi dan teratur. Di sekelingnya terdapat taman-taman indah yang ditanami buah-buahan dan bunga, dihiasi dengan sumber mata air, air mancur, dan patung-patung."

Selanjutnya menurut buku Hikayat Jakarta dia juga menulis: "Pohon kelapa yang tersebar luas di mana-mana memberikan kesan sebagai Batavia kota yang indah dan menyenangkan."

Nah itu Jakarta tempo dulu. Bagaimana sekarang? Kita sendiri sudah melihatnya. Untuk mengembalikan reputasinya itu, Pemprov DKI berambisi menyulap Jakarta, terutama daerah Jakarta Kota yang kini sumpek dan semrawut --menjadi kawasan wisata yang cantik dan mempesona. Melalui Obyek Wisata Sejarah yang tengah dikembangkan Pemprov DKI, paling tidak, diharapkan daerah ini bisa mengembalikan julukan Jakarta sebagai 'Ratu dari Timur' yang pernah diraihnya tiga abad lalu.

Di jembatan Kota Inten, yang menghubungkan Kali Besar Barat dan Timur, tempat bermuaranya Sungai Ciliwung ke arah pelabuhan Pasar Ikan, kini makin menampakkan suasana Jakarta tempo doeloe. Taman yang terjaga kebersihannya dihias dengan pohon palem. Di sini, berdiri sebuah hotel berbintang empat, Ommi Batavia.

"Kami berencana menghadirkan suasana Jakarta tempo doeloe," kata direktur PT Wahana Andamari, Robert Suhardiman. Sejumlah kafe dengan gaya dan arsitektur Betawi bermunculan di daerah ini.

Sayang seribu sayang, muara sungai itu --yang pada masa VOC merupakan urat nadi perhubungan dan perniagaan Jakarta-- airnya kini dangkal, hitam, dam banyak kotoran. Padahal di muara sungai ini dahulunya setiap hari disinggahi puluhan perahu dan kapal. Kalau saja muara sungai ini bisa difungsikan kembali seperti masa lalu, dipastikan akan banyak didatangi para wisatawan yang ingin bernostalgia di Batavia pada abad ke-18.

Di sekitar Kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Pekojan, Penjaringan dan sejumlah kelurahan di sekitarnya, juga sedang ada penataan sejumlah taman, trotoar, dan penanaman pohon palem. Sayangnya, air di muara sungai Ciliwung, yang pada masa lalu merupakan urat nadi perhubungan di Jakarta itu, kini hitam, kotor, dan dangkal. Menurut Kepala Subdinas Pemugaran dan Pelestarian Lingkungan Pemda DKI, Wisnu Murti Ardjo, di kawasan tersebut, terdapat sekitar 150 gedung atau bangunan tua yang mempunyai nilai sejarah, yang akan dipertahankan kelestariannya.

Salah satu dari gedung tua itu adalah Museum Sejarah Jakarta, di Taman Fatahillah No. 1, yang letaknya bersebrangan stasion KA Jakarta Kota. Gedung tua ini, yang pernah menjadi markas Kodim 0503 Jakarta Barat, sudah berdiri sejak 369 tahun lalu. Kemegahannya tidak kalah dibandingkan ratusan gedung di sekitarnya. Empat buah meriam kuno berdiri di hadapannya, sementara di bagian utara gedung itu digunakan untuk lokasi pedagang kaki lima.

Menurut Sukarsa, staf seksi edukasi Museum Sejarah Jakarta, bangunan yang bernama Staadhuis (Balaikota), oleh masyarakat Betawi ketika itu disebut sebagai Gedung Bicara. Karena ia juga berfungsi sebagai gedung pengadilan (Raad van Justitie). Bahkan dari sini VOC mengatur kegiatannya bukan saja untuk Hindia Belanda, tapi seluruh kepentingannya di Asia Pasifik, sesuai dengan ambisi Gubernur Jenderal JP Coen ketika itu. Sebelum ada kereta api dan mobil, dari tempat inilah penduduk Jakarta menyewa kereta yang ditarik empat ekor kuda ke kota apabila mereka ingin ke Bogor. Perjalanan ke Bogor yang jaraknya sekitar 60 km itu ditempuh sekitar 16 jam.

Di sekitar Balaikota, terdapat belasan gedung yang dibangun pada waktu yang hampir bersamaan. Di antaranya kini dijadikan Museum Wayang, yang dahulunya merupakan sebuah gereja tua. Di tempat inilah JP Coen dimakamkan.

Di sebelah kanan Balai Kota terdapat Balai Seni Rupa dan Museum Keramik, yang dahulunya merupakan gedung kehakiman, yang pernah digunakan sebagai gedung walikota Jakarta Barat. Agak pinggir dari pusat kota, terdapat sejumlah masjid yang usianya hampir bersamaan dengan kota Jakarta. Masjid-masjid tersebut oleh Pemda DKI juga dilestarikan dan kini berada di bawah Dinas Museum dan Sejarah DKI.

Sekitar 300 meter ke selatan, terdapat daerah Glodok, yang hingga kini masih merupakan pusat perdagangan dan pertokoan terbesar di Jakarta, seperti ketika berdirinya kawasan ini hampir 300 tahun lalu. Etnis Cina pada abad ke-18, menurut Dinas Museum dan Sejarah Pemda DKI, mencapai 16 persen dari seluruh penduduk Jakarta. Karena itulah sejak dulu Glodok dan sekitarnya dikenal sebagai China Town.