Kamis , 06 April 2017, 07:00 WIB

Cita-Cita Benyamin Sueb yang Belum Kesampaian

Red: Karta Raharja Ucu
Istimewa
Benyamin Sueb
Benyamin Sueb

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

"Saya ingin ada Betawi Mini, kayak Taman Mini, gitu! Ada rumah Betawi, pohonnye, pertunjukan kesenian, dan makanan khasnye. Kayak kerak telor, gitu. Saya sudah sering sampein, tapi tetap aje belum ditanggapin. Mungkin nanti, kalau saya sudah tidak ada, baru ditanggapin."

Pernyataan di atas dikemukakan Haji Benyamin Sueb dalam wawancara terakhir dengan Republika pada 17 Agustus 1995. Sepuluh hari setelah pernyataannya ini, pada 27 Agustus 1995 seniman dan aktor Betawi serbabisa ini terkena serangan jantung dan tidak sadarkan diri saat bermain sepak bola bersama warga Cinere, Jakarta Selatan, di dekat kediamannya. Setelah mendapatkan perawatan intensif di ruang gawat darurat RS Harapan Kita, Bang Ben, panggilan akrab Benyamin S, kembali ke sisi Tuhannya.

Benyamin mengembuskan napas terakhir pada 5 September 1995 dalam usia 56 tahun. Lalu, keesokan harinya hampir seluruh koran menurunkan berita utama dengan huruf-huruf besar tentang kematian almarhum. Sementara, takbir, tahlil, dan salawat dikumandangkan ribuan peziarah ketika mengantar jenazah almarhum ke TPU Karet, Jakarta Pusat.
 
Bang Ben mendirikan Bens Radio yang selalu konsisten membawakan aspirasi warga Betawi. Hingga akhir hayatnya, Benyamin yang dilahirkan di Kemayoran, 5 Maret 1939 masih memendam impian yang belum terwujud, yaitu sebuah Museum Betawi yang mirip Taman Mini. Keinginannya itu pernah dilontarkan kepada para gubernur yang pernah memerintah Jakarta. "Ane sampe lupe siapa aje gubernurnye," kata bos Radio Bens itu.

Yang dimaksudkan Benyamin, di Jakarta terdapat berbagai kesenian dari berbagai daerah, seperti Miss Tjitjih (Sunda) dan Wayang Orang Barata (Jawa). "Tapi, gedung kesenian Betawi mane?" tanyanya.

Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso memang sudah membangun Perkampungan Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Tapi, itu baru sepenggal dari impian Benyamin.

Bang Bens adalah potret Betawi. Ia lahir, besar, tumbuh, dan beranak cucu di Kemayoran, salah satu kampung tua di Jakarta. Dengan stasiun radionya, Bens Radio, pencipta lagu, penyanyi, pelawak, dan bintang film itu menjadi corong Betawi.

Bens Radio yang didirikannya berslogan Betawi Punya Lakon. Dari Kawasan Segitiga Emas. Kawasan yang dimaksudkan bukanlah Sudirman, Gatot Subroto, Kuningan, yang harga tanah dan bangunannya paling mahal di seluruh Indonesia. Melainkan Jakarta, Tangerang, Bogor. Gambang kromong menjadi pijakannya untuk mewarnai musik pop nasional. Dengan itulah Bang Ben mencuat sejak akhir 1960-an.

Penggemarnya termasuk pula masyarakat Malaysia dan Brunei (berikut keluarga kerajaan). Pada 1977 ia terpilih sebagai aktor terbaik 1977 setelah almarhum Syumandjaja meng-cast-nya dalam Si Doel Anak Sekolahan. Ia tidak bisa lagi menghitung film yang dibintanginya karena saking banyaknya. Bahkan, sampai akhir hayatnya, Benyamin menjadi produser film yang sukses.

Kembali kepada Si Doel Anak Modern, sebuah majalah menyebutkan sosok Si Doel seolah diri Benyamin. Ia tumbuh di tanah Betawi yang penuh kerimbunan dan kehijauan berbagai macam tanaman. Masa kanak-kanaknya dibasahi kecipak Kali Sunter yang mengalir di dekat kediamannya di Kemayoran. Masa kecilnya seperti juga masyarakat Betawi lainnya diisi dengan shalat, silat, dan mengaji Alquran.

Kini kawasan Kemayoran yang pada masa Pak Harto ingin disulap menjadi kota 'taman modern' terdapat jalan raya yang mengabadikan nama tokoh Betawui, yakni Jl Benyamin S dan Haji Ung. Yang terakhir ini adalah engkong Bang Ben. Nama sebenarnya Rafiun dan panggilannya Ung. Setelah ia menunaikan ibadah haji, panggilannya Haji Ung, disingkat Ji Ung.

Ketika ditanya bagaimana Jiung jadi nama jalan, Benyamin mengatakan, "Dulu kan engkong saya dermawan dan tokoh daerah sono. Dia bikin jembatan yang hingga kini disebut Jembatan Jiung."

Benyamin menyatakan tanah engkongnya itu luas banget. Dari situ sampe ke Sunter (Jakarta Utara). Kakeknya ini meninggal dalam usia 125 tahun, meninggal pada 1954. Dia tahu cerita tentang Perang Diponegoro atau Gunung Krakatau meletus di selatan Sunda.

Mengenai engkongnya ini, Benyamin dalam wawancara pada 1992 menyatakan, dia seorang dermawan. Dalam hidup dia pasrah saja. Dari engkongnya inilah dia ditawari ilmu panjang umur. "Saya tolak. Entar saya peot baru mati."

Ditanya mengapa memilih menyanyi gambang kromong, Benyamin menyatakan, "Dulu kan lagu Barat yang kita nyanyiin, waktu itu Bung Karno mengganyang lagu Barat. Kita juga dapat teguran waktu nyanyi lagu Barat. Saya ingat waktu nyanyi lagu Blue Moon buat dansa di night club dekat lapangan terbang (Kemayoran).

"Saya diparanin sama wartawan Warta Bhakti, koran PKI. Saya ditanya kamu orang apa? Kenapa nyanyi lagu Barat? Saya bilang ini kan lagu dansa, masa saya nyanyi keroncong? Nanti dansanya ngaco. Eh, dia jawab sekarang dilarang nyanyi lagu Barat. Makanya, saya terus pilih gambang kromong. Saya tidak mau ditangkap seperti Koes Plus cs."